6 Fakta Potensi Tsunami di Jawa Timur, Dahsyat di Banyuwangi 1994

Ilustrasi gelombang tinggi (Foto: unsplash.com)

[ad_1]

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Jawa Timur ( BMKG Jatim) mengungkap dalam beberapa bulan terakhir Jatim rawan gempa dan tsunami. Tercatat sejak tiga bulan ini gempa terjadi sekitar 300-400 kali per bulannya. Melansir berbagai sumber, berikut enam fakta potensi tsunami di Jatim.

Potensi Skenario Terburuk

Daerah Jawa Timur terbentuk karena tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia sepanjang 300 kilometer. Sehingga meneliti kegempaan di daerah Jatim perlu dilakukan. Salah satunya dengan pemodelan matematis worst scenario.

Di Jatim sendiri kemungkinan lempengan bisa terkunci dan terlepas sewaktu-waktu akibat adanya zona gap seismik. Gap seismik ini merupakan sumber potensi gempa megathrust di wilayah tersebut. Jika terjadi kuncian antar lempeng, gembar besar akan terjadi. Akibatnya tsunami bisa timbul. 

Terjadi di 8 Kabupaten

Tsunami berpotensi terjadi di 8 kabupaten di Jawa Timur. Yaitu Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Lumajang, Tulungagung, Trenggalek, dan Pacitan. Di delapan kabupaten ini diprediksi akan ada gempa berkekuatan mulai magnitudo 8.2 hingga 8.9.  Sehingga diperkirakan terjadi potensi tsunami setinggi 11-30 meter.

Tsunami kemungkinan terjadi 25-29 menit setelah gempa pertama. Tsunami paling cepat kemungkinan terjadi di Blitar. Sementara, berikut rincian ketinggian potensi tsunami di delapan kabupaten tersebut:

Trenggalek (Pantai Teluk Sumbreng) setinggi 22 meter maksimal, Tulung Agung (Pantai Popoh) 30 meter maksimal, Banyuwangi (Pantai Muncar) 18 meter maksimal, Banyuwangi (Pantai Pancer) 12 meter maksimal, Pacitan (Pantai Teluk) 22 meter maksimal, dan Lumajang (Pantai Pasiran dan Tempursari) 18 meter maksimal.  

Sosialisasi ke Warga

Mengetahui potensi tsunami ini BMKG Jawa Timur menyosialisasikan informasi teruntuk warga di kawasan megathrust. Langkah yang dilakukan dengan menginformasikan resiko bencana serta simulasi evakuasinya. Misalnya dengan memasang rambu-rambu di tempat rawan. Selain itu membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana).

Mitigasi Bencana

Di sisi lain, mitigasi adalah upaya untuk mengahadapi serta mengurangi resiko bencana. Pada tahap Prabencana, mitigasi dilakukan dengan mengamati tanda-tanda tsunami melalui pengamatan gempa dan pesisir. Tanda-tanda ini harus bisa dikenali. Seperti gempa yang berpotensi tsunami berdurasi lama dengan intensitas kuat. Sedangkan tanda di pesisir, air laut surut, ada gemuruh di tengah lautan, serta ikan berserakan di pantai.

Saat terjadi gempa pantau informasi dari media yang terpercaya. Selain itu menyelamatkan diri ke jalur evakuasi terdekat di dataran tinggi yang aman. Tunggu dan pantau informasi dari media sampai mendapat kabar jika kondisi sudah stabil.

Jika gempa berlangsung ketika berada di rumah, penting mencari jalur evakuasi terdekat. Carilah tempat tinggi dan berdiam diri lah di sana hingga keadaan dinyatakan aman.

Pasca bencana selamatkan diri terlebih dahulu. Jangan mendekati air untuk menghindari tersengat listrik dan terperosok ke dalam kubangan. Jaga sanitasi diri dan keluarga dengan baik.

Pernah Terjadi di Banyuwangi

Jika melihat dari riwayat tsunami di jawa Timur, tsunami terakhir terjadi pada tahun 1994. Saat itu lokasinya di Banyuwangi, 3 Juni 1994. Sebelum tsunami terjadi gempa tektonik bermagnitudo 5.6 di kedalaman 33 kilometer.

Dari gempa tersebut tercipta gelombang yang mencapai ketinggian 7 meter. Diperkirakan 203 orang lebih tewas. Tsunami ini juga menghancurkan 213 rumah, 187 perahu, gedung sekolah dan TPI.

Selain Jawa Timur, Terjadi di Jawa Tengah.

Selain di Jawa Timur, beberapa tahun silam di pulau Jawa pernah terjadi tsunami. Pertama, tsunami Pangandaran (pantai Selatan pulu Jawa) pada 17 Juli 2006 pukul 15.19 WIB.

Awalnya terdapat gempa magnitudo 6.8, lalu timbullah gelombang besar. Gelombang tersebut merusak 125 perahu dan menghancurkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Karangduwur.

Tsunami ini juga menghancurkan 150 perahu di Ayah dan 372 di pantai Suwuk. 668 orang dinyatakan tewas, ratusan orang hilang dan ribuan orang mengungsi.

Selain itu pernah juga terjadi tsunami di Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Tsunami ini berkekuatan magnitudo 5.6 skala richter. Sejumlah 5.700 orang meninggal dan 35.000 orang luka-luka. (kmp/oke/mer)

 



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.