9 Program MBKB Unair, Dorong Minat dan Kemampuan Mahasiswa

  • Bagikan
Rektor Unair Prof Moh Nasih saat mengelar konferensi pers Merdeka Belajar-Kampus Merdeka Unair. (Foto: Pita Sari/Ngopibareng.id)


Kemendikbud membuat kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) untuk mendorong mahasiswa mempunyai kemampuan hard skills maupun soft skills, agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia industri.

Kebijakan ini diaplikasikan pada semua kampus termasuk, Univeritas Airlangga (Unair). Rektor Unair Prof Moh Nasih mengatakan, ada 9 program yang disiapkan untuk pengaplikasian MBKM. Yaitu pertukaran mahasiswa, magang atau praktik industri, proyek di desa, penelitian riset, wirausaha, study atau proyek independen, mengajar di satuan pendidikan, proyek kemanusiaan, dan pembelajaran lintas program studi-lintas rumpun ilmu.

“Dalam implementasinya menggabungkan antara mata kuliah pilihan, KKN, sekaligus pengerjaan tugas akhir. Sehingga ketika mahasiswa sudah masuk semester 6, 7, 8 bisa mengikuti KKN di berbagai macam tempat. Tidak harus di desa, bisa di industri atau bahkan di rumah masing-masing dengan mengembangkan suatu karya,” ujar Nasih saat ditemui di Gedung Rektorat, Jumat, 15 Oktober 2021.

Menurut Nasih, hal ini akan mendorong masing-masing mahasiswa untuk mendapatkan dosen pengampu. Dengan begitu implementasi dari MBKM bisa lebih bergema lagi dan terimplementasikan dengan sebaik-baiknya.

“Sehingga dalam satu semester itu, bisa 20 SKS akan selesai, dan semester berikutnya mereka akan bisa mengikuti ujian saja,” kata Nasih.

Pada implementasinya sendiri, sudah ada 15 ribu lebih mahasiswa Unair yang terlibat di dalamnya. Dari ribuan mahasiswa itu, memiliki tujuan masing-masing ada yang ingin menjadi profesional, wirausaha, peneliti ataupun akademisi.

“Di sini kami mewadahi semuanya dengan program yang ada. Yang ingin jadi profesional (di dunia industri) akan didorong untuk mengikuti program magang, yang ingin jadi pengusaha juga bisa mengikuti program start-up,” terangnya.

Nasih mengungkapkan, yang membedakan MBKM Unair dengan kampus lain adalah format atau pola pengembangan dari apa yang sudah dilakukan selama ini. Salah satunya, jika secara nasional, biasanya mengikuti mekanisme Kemendikbud, bahkan ada beberapa program yang lewat Kemendikbud seperti administrasi.

“Untuk bisa memantapkan, tentu kami ingin ada independensi atau kemandirian dalam pelaksanaan itu. Sehingga kami punya kebijakan untuk bisa melakukan sendiri aktivitas-aktivitas itu secara internal di Universitas Airlangga,” jelasnya.

Artinya, ungkap Nasih, tidak semua harus melalui administrasi di Jakarta. Bisa menggunakan kebijakan yang ditetapkan oleh Unair.

“Oleh karena itu, kita ingin secara mandiri, mengimplementasikan dan membuat kebijakan untuk Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Sejak lama kita memberikan penghargaan bagi mahasiswa yang mampu secara mandiri, sesuai dengan minat mereka masing-masing,” imbuhnya.

Sedangkan untuk program magang sendiri, Unair memiliki tajuk ‘strategis sustainable education’, salah satunya adalah relevansi. Program magang ini ditujukan untuk Unair, agar para mahasiswa yang orientasinya menjadi profesional atau pegawai bisa mendapatkan pengalaman kerja secara lebih awal.

“Dengan mekanisme yang diterapkan, maka mahasiswa Unair akan lebih dekat dengan dunia industri. Dimana mahasiswa nantinya akan mengembangkan karirnya. Begitu lulus, mereka sudah punya bekal relevan yang tujuan hidup mereka di masa yang akan datang,” tutupnya.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *