Akhudiat di Mata Seniman, Seorang Aktor Berdialog dengan Tubuhnya

  • Bagikan
Akhudiat, sang Penyair dan Dramawan. (Foto: Istimewa)


Wafatnya dramawan terkemuka Indonesia, Akhudiat menyisakan duka mendalam kalangan seniman dan kebudayaan. Karya-karya dan pengabdian pada kebudayaan akan terus dikenang masyarakat secara luas.

Akhudiat, tokoh kelahiran di desa Karanganyar, Kecamatan/ Kewedanan Rogojampi, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Mei 1946. Meninggal dunia di Surabaya, pada Sabtu pagi, 7 Agustus 2021 pukul 07.00 WIB, setelah beberapa hari dirawat di RSUD Dr Soewandi Surabaya.

“Sebagai seorang ‘guru’ Mas Diat sangat memberikan berbagai macam ilmu, tidak saja Teater. Mas Diat adalah perpustakaan yang bergerak. Spiritualitasnya sangat kuat dan selalu diajarkan pada kami, ‘murid-murid’ teaternya di Bengkel Muda Surabaya,” tutur Nasar Albatati, pemusik yang pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur pada Ngopibareng.id.

Nasar Albatati.

Mengenang Kanjeng Sunan Drajat

Nasar pun mengenang Akhudiat ketika terispirasi melantunkan puisi soal Sunan Drajat. Ajaran-ajaran nilai Keislaman dari Sunan Drajat begitu mendapat perhatian penting bagi Akhudiat. Ada ketertarikan yang sama pada diri Nasar Albatati. Ia pun bahkan menjadi “santri setia” dari Pesantren Sunan Drajat di Lamongan, asuhan KH Abdul Ghofur.

Lebih jauh Nasar Albati mengenang Akhudiat:

Sepulang dari Iowa, di ruang workshop Bengkel Muda Surabaya, mas Diat meminta agar di dinding ruang itu ditulis : “Seorang Aktor berdialog dengan tubuhnya, dan bergerak dengan kata-katanya”.

Di mata Nasar, yang pengurus Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Jawa Timur, Akhudiat orang yang sangat baik. “Guru” yang sangat suka bersedekah dengan ilmunya.

“Husnul Khotimah, mas!” tuturnya mengesankan.

Farid Syamlan, sang Dramawan
Farid Syamlan, sang Dramawan

Sementara itu, Farid Syamlan, Ketua Bengkel Muda Surabaya 1999-2003 dan beberapa tahun berikutnya menyampaikan kesan atas diri Akhudiat.

“Yang jelas semangat berkeseniannya tidak pernah surut dan selalu gembira dalam situasi apapun dan taat beribadah. Semoga husnul khotimah, Aamiin”. Demikian Farid Syamlan, dramawan Surabaya.

Biodata Akhudiat

khudiat yang terkenal sebagai penulis naskah drama pada tahun 1970-an lahir di desa Karanganyar, Kecamatan/ Kewedanan Rogojampi, Kab. Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Mei 1946. Naskah dramanya banyak yang memenangkan hadiah Sayembara Penulisan Drama DKJ, seperti Graffito (1972), Rumah tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Sehat (1974), dan Bui (1975). Nama lengkap sastrawan ini adalah Drs. Haji Akhudiat atau lebih dikenal dengan nama Akhudiat. Bahkan, orang-orang yang telah akrab dengannya hanya memanggil Diat saja.

Sewaktu Akhudiat berumur dua tahun ayahnya meninggal dunia lalu ibunya menikah lagi. Akhudiat tinggal di rumah neneknya dari pihak ibu, di Rogojampi. Dia merasa senang tinggal di rumah neneknya sebab menurutnya bisa bersikap bebas. Bebas pergi ke mana saja dan bebas begadang dengan siapa saja. Akhudiat mengawali pendidikannya pada tahun 1952 di Sekolah Rakyat Negeri (SR), Rogojampi, Banyuwangi.

Tahun 1958 ia melanjutkan sekolah ke Pendidikan Guru Agama Pertama Negeri (PGAPN) di Jember dan selesai pada tahun 1962. Setelah tamat dari PGAPN itu, Akhudiat melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama Atas (PGAA) Malang. Selanjutnya, ia meneruskan ke Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) di Yogyakarta tahun 1962—1965. Karena tahun ajaran dipercepat hanya sampai pertengahan tahun 1965, Akhudiat tidak pernah menjalani latihan praktik kerja di Pengadilan Agama.

Tahun 1965 pula Diat mengikuti Acting Course Teater Muslim, Yogyakarta. Selanjutnya, tahun 1968 ia mengikuti pendidikan di Akademi Wartawan Surabaya. Tahun 1975 ia mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Selanjutnya, tahun 1983 mengikuti pendidikan Sekolah Pimpinan Administrasi Dasar, Balai Pendidikan Latihan Tenaga Teknis Keagamaan Departemen Agama, Surabaya. Tahun 1992 Akhudiat menyelesaikan Sarjana Administrasi Negara, FISOPOL, di Universitas Terbuka.

Akhudiat mempunyai bermacam-macam pengalaman bekerja, yakni setelah tamat dari PGAP Malang, ia menjadi guru agama Islam di madrasah tsanawiyah dan aliyah setarap dengan SMP dan SMA. Saat itu, Diat terpilih sebagai lulusan terbaik kedua dengan nilai bahasa Inggris 10 dan bahasa Arab 6. Jadi, saat itu ia bisa langsung bekerja sebagai pengajar. Tahun 1970—2002 Diat menjadi Kepala Bagian Kemahasiswaan Kantor Pusat IAIN Sunan Ampel. Sejak saat itu, ia menjalani dua peran pekerjaan. Siang hari berperan sebagai seorang pegawai negeri (PNS) dan sore hari Diat menjadi pengurus seni di teater Bengkel Muda Surabaya (BMS). Dia juga menjadi dosen luar biasa pada Fakultas Adab, IAIN Sunan Ampel, Surabaya.

Organisasi yang pernah dimasukinya, antara lain, tercatat sebagai anggota Pleno Dewan Kesenian Surabaya dan penulis artikel, juga menjadi anggota Pandu Ansor, Jember (1959—1962).

Bakat mengarang Akhudiat berawal dari kegemarannya membaca. Saat sekolah di SR dekat kantor kawedanan, ia sudah mulai gemar membaca. Membaca apa saja mulai membaca komik Petruk Gareng sampai ensiklopedi kesehatan. Di rumah pamannya (Paman Ahim) Diat sering membaca majalah Inian Film terbitan Surabaya, sedangkan di rumah pamannya yang lain (guru Rasad) ia sering membaca majalah Wijaya terbitan Surabaya dan tumpukan buku serial Naga Mas (Surabaya), serta Serikat 17 (Jakarta).

Bagi Diat membaca sama dengan “permainan” sehari-hari dan ia menganggap perpustakaan sebagai guru besarnya. Banyak perpustakaan telah dijejakinya, antara lain perpustakaan Rogojampi, Surabaya, dan perpustakaan di luar negeri, antara lain perpustakaan IOWA dan New York, saat ia berada di Amerika. Selain itu, saat berada di Yogyakarta (1962—1965) ia “berkenalan” dengan teater dan dunianya. Dia sangat tertarik dengan dunia teater dan ingin menulis naskah sendiri. Namun, sampai tahun 1970 belum satu naskah lakon pun berhasil ditulisnya.

Akhudiat selalu ingat akan saran Arifin C. Noer agar ia membaca dan mempelajari dialog-ialog dalam naskah itu, jika ingin menulis naskah lakon sendiri. Selain menulis, Akhudiat sering mengadakan kunjungan, misalnya ia mengadakan kunjungan Seniman dan Budayawan Jawa Timur ke Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura untuk program pertunjukan dan seminar kebudayaan pada 10—22 Oktober 2002. Karya Akhudiat banyak mendapat hadiah/penghargaan, seperti Pemenang Puisi 1973 dari Dewan Kesenian Surabaya dan Pemenang Naskah Sandiwara dari Dewan Kesenian Jakarta atas karyanya yang berjudul Grafito (1972), Jaka Tarub (1974), Rumah Tak Beratap (1974), Bui (1975), dan Re (1977).

Selain itu, Diat juga mendapat Honorary Fellow in Writing, International Writing Program, University of Iowa, USA, tahun 1975. Cerpennya “New York: Sesudah Tengah Malam” yang dimuat dalam majalah Horison Vol. XIX (Oktober 1984) diterjemahkan Dede Oetomo judulnya menjadi “New York After Midnight”, Jakarta: Executive Commite, Festival of Indonesia (USA, 1990—1991). Selain itu, cerpen ini juga diterjemahkan oleh John H. McGlynn dengan judul “New York After Midnight” dalam Manhattan Sonnet (2002), Jakarta: The Lontar Foundation. Tahun 2008, Akhudiat menerbitkan karya terbarunya Masuk kampung Keluar Kampung Surabaya Kilas Balik yang diterbitkan Hank Publica. Atas jasanya dalam bidang kesenian, Walikotamadya Surabaya memberikan penghargaan sebagai Aktivis Teater Modern tahun 1989. Selanjutnya tahun 2001 Gubernur Provinsi Jawa Timur memberikan penghargaan untuk seniman berprestasi.

Sebenarnya Akhudiat mulai terjun dalam dunia tulis-menulis tahun 1960 pada waktu ia sekolah di Pendidikan Guru Agama Negeri IV Tahun di Jember. Diat menikah dengan Mulyani tahun 1964 di Surabaya. Dari perkawinan itu mereka mempunyai tiga orang anak, pertama, Ayesha Mutiara Diat lahir tahun 1975. Kedua, Andre Muhammad Diat lahir tahun 1976, dan ketiga Yasmin Fitrida Diat lahir 1978. (ensiklopedia.kemdikbud.go.id)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *