Akhudiat, Sastrawan dan Jejak Pergulatan Budaya Pesantren

  • Bagikan
Dalam kondisi sakit pun Akhudiat tetap berusaha tampil di depan publik dalam membacakan puisinya. (Foto: Istimewa)


Akhudiat adalah seorang pejalan kreatif. Kreativitas menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Meski dalam kondisi kurang sehat, Akhudiat tetap mengungkapkan kegelisahannya menghadapi situasi zaman. Zaman yang terus berubah, termasuk saat pandemi Covid-19 dan fenomena perubahan peradaban masa depan.

Selain sebagai sastrawan, ia juga dikenal sebagai dramawan terkemuka di Indonesia. Ketika menulis naskah drama, kerap memenangi kejuataan tingkat nasional di Dewan Kesenian Jakarta.

Di antaranya, berjudul Graffito (1972), Rumah tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Sehat (1974), dan Bui (1975), memenangkan hadiah Sayembara Penulisan Drama DKJ.

Nama lengkap tokoh ini: Drs. Haji Akhudiat. Dia lebih dikenal dengan nama Akhudiat. Bahkan, orang-orang yang telah akrab dengannya hanya memanggil Diat.

Kekentalan Budaya Pesantren

Radhar Panca Dahana (almarhum), pendiri Federasi Teater Indonesia (FTI) menyebut “pejuang religius teater Indonesia Bapak Akhudiat.” Hal itu disampaikan saat ia memberi Penganugerahan Federasi Teater Indonesia (FTI) pada usia ke-10 tahun di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 28 Desember 2015. Sayang, ketika penghargaan itu diserahkan, tidak dihadiri langsung Akhudiat karena sedang kurang sehat.

Akhudiat, lahir di Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, pada tanggal 5 Mei 1946. Ayahnya, Akwan (lahir tahun 1925), adalah seorang petani yang tekun di desa Karanganyar, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Sedangkan ibunya, bernama Musarapah (kelahiran tahun 1930).

Budaya pesantren yang kental dan dikenal oleh Akhudiat sejak kecil. Itulah yang membentuk pribadi seorang Akhudiat yang bersahaja.

“Sejak kecil saya sudah akrab dengan Syair Maulid Diba’ dan Berzanji. Ini benar-benar sebagai puisi abadi,” tutur Akhudiat soal karya Imam Abdurrahman Ad-Diba’i.

Karya-karya Akhudiat dikenal luas di Indonesia. Dipentaskan Bengkel Muda Surabaya (BMS), Akhudiat menjadi sutradara sekaligus, sejak awal terjunya ke dunia kesenian pada 1970an.

Beberapa teater lain pun mencoba mementaskan karya Akhudiat. Pertunjukan Teater Keset mengangkat naskah karya Akhudiat berjudul ““Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap” didukung”sukses dipentaskan di sejumlah kota. Pada 18 Februari 2017 bertempat di Auditorium Universitas Muria Kudus, tanggal 4 Maret 2017 pentas di Pendopo Kabupaten Temanggung

Buku yang Menarik

Menurut pengakuan Akhudiat, buku yang sangat menarik perhatiannya sewaktu usia SR adalah buku-buku karya Motinggo Bosye (1937—1999) pada koran Minggu Pagi, dan Supriyadi Tomodihardjo (kini di Belanda) pada koran Terompet Masyarakat.

Selain bacaan yang banyak, kepekaan Diat diperkaya juga dengan pengalaman masa kecilnya yang suka menonton bioskop, sandiwara keliling berbahasa Indonesia, seperti: Bintang Surabaya, Gema Masa, Kintamani, Opera Melayu, Ketoprak, Wayang Orang, dan Ludruk. Dia, Akhudiat, juga menonton Kentrung Trenggalek, Rengganis, yakni sejenis wayang menak dengan tokoh Amir Ambyah, Umarmoyo, Umarmadi, Putri, China, Jin Baghdad, Lamdahur. Tidak itu saja, ia menonton juga Orkes Melayu, Wayang Potehi, Sandiwara Misri, dan banyak lagi. Itulah yang kemudian menjadikan Akhudiat kaya referensi tentang seni dan budaya, dan bahkan ia bisa menulis cerpen, puisi, dan naskah drama.

Belajar dari Teater Muslim Yogya

Sewaktu masih di Yogyakarta, sekitar tahun 1962—1965, ia lebih sering keluyuran ke perpustakaan, toko-toko buku, pasar loak buku, melihat pementasan drama dan pameran lukisan. Lukisan yang paling ia sukai adalah karya Isnaeni, pelukis Sanggar Bambu yang selalu memakai celana pendek. Pementasan drama yang pernah ia saksikan dan masih berkesan adalah Iblis (Mohammad Diponegoro), Setan-setan Tua (Arifin C. Noer), Hai yang di Luar Itu (terjemahan William Saroyan) yang dimainkan mahasiswa UGM, dengan sutradara WS Rendra, sebelum berangkat ke New York, Amerika Serikat.

Akhudiat juga mengaku pernah ikut kursus akting di Teater Muslim pimpinan Mohamad Diponegoro dan juga berguru pada teater milik Arifien C. Noer.

Menurut pengakuannya, Yogyakarta merupakan kota yang membekalinya dengan kosakata teater. Ucapan Arifien C. Noer yang selalu dia ingat adalah, “Bacalah naskah drama, pelajari dialog-dialognya, kamu akan bisa menulis naskah sendiri.”

Sejak saat itu, Akhudiat ingin belajar menulis drama dengan langsung belajar dari naskah jadi yang dipunyainya. Di samping itu, ia juga belajar dengan cara membaca naskah, seperti Malam Jahanam (tragedi), Nyonya dan Nyonya (farce-play, banyolan), Iblis, Timadar, dan banyak lagi.

Di kampungnya sendiri, Rogojampi, ia mengaku pernah mementaskan drama Jebakan Maut (sayang, ia lupa nama pengarangnya), dan Akhudiat bahkan jadi aktor, yang berperan sebagai dokter, dengan menutup lakon dengan teriakan’ “Vox populi vox Dei” (suara rakyat adalah suara Tuhan.)

Awal Sekolah

Sekolah awalnya, Diat memasuki Sekolah Rakyat (SR) Rogojampi, Banyuwangi dan lulus pada tahun 1958. Setelah itu, dengan penghasilan dari sawah dan kebun kelapa warisan kakek-nenek, ia melanjutkan sekolah di Pendidikan Guru Agama Pertama Negeri (PGAPN) IV Jember. Di sekolah ini, Akhudiat lulus tahun 1962.

Dari PGAPN Jember, Akhudiat melanjutkan sekolah di PGAA Malang. Hal tersebut dilakukannya sambil mengajar di beberapa SMP/SMA, serta madrasah tsanawiyah/aliyah. Selepas itu, Akhudiat belajar di Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) III Yogyakarta, dan mengantongi ijazah tahun 1965. Tidak hanya itu, pada sekitar tahun 1972—1973, Akhudiat, pernah kuliah di Akademi Wartawan Surabaya (AWS), namun tidak diselesaikannya.

Akhudiat juga ikut kursus Bahasa Inggris di Lembaga Indonesia Amerika (LIA) Jalan Dr. Soetomo Surabaya, hingga tingkat advance. Gelar sarjananya didapatkan pada tahun 1992 dari Universitas Terbuka (UT) Fakultas Ilmu Sosial (FISIPOL).

Sebagai seorang sastrawan, Akhudiat, tidak hanya sekolah formal seperti tersebut di atas, tapi juga mengikuti: International Writing Program, University of Iowa, Iowa City, USA, pada tahun 1975.

Sewaktu masih sekolah di PGAA Malang, Akhudiat pernah mengajar di beberapa SMP/SMA, Madrasah Tsanawiyah/Aliyah. Menurut catatan Akhudiat, bahwa lulusan SHD (Sekolah Hakim Djaksa) akan menjadi panitera pengadilan negeri, sedangan lulusan PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) akan menjadi panitera pengadilan agama.

Tapi apa yang terjadi?

Akhudiat, yang lulusan PHIN Yogyakarta itu, mendapatkan Surat Keputusan Menteri Agama RI yang berisi pengangkatan sebagai pegawai negeri sipil di Kantor Pusat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, sejak tahun 1970.

Jabatan terakhir yang disandang Akhudiat adalah Kepala Bagian Kemahasiswaan, Kantor Pusat IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan pensiun pada tahun 2002. Setelah pensiun, sejak tahun 2002 hingga sekarang ini, ia menjadi Dosen Luar Biasa pada Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Aktivitas Kebudayaan

Aktivitas dalam dunia seni dan budaya, utamanya sastra dan teater, mengantarkan Akhudiat untuk dapat kepercayaan menjabat sebagai Komite Sastra dan Teater pada Dewan Kesenian Surabaya tahun 1972—1982. Pada tahun yang sama (1972—1982) sebagai sutradara dan penulis naskah teater di komunitas Bengkel Muda Surabaya (BMS). Jabatan lainnya, ia anggota pleno di Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), dari 1999 hingga 2003. Menjabat sebagai steering committee Festival Seni Surabaya (FSS) dari tahun 2000 hingga 2008.

Dunia Sastra

Akhudiat adalah anak desa yang lahir di Rogojampi, Banyuwangi. Sejak masih sekolah di tingkat Sekolah Rakyat (SR) —sekarang Sekolah Dasar (SD)— ia sudah sangat gemar membaca. Segala buku dibacanya, dari bacaan komik Gareng-Petruk, hingga ensiklopedia kesehatan.

Suatu ketika, ada yang menarik baginya. Saat di depan sekolahnya terdapat kedai/toko buku yang sekaligus merangkap agen koran dan majalah. Akhudiat kecil bisa mengintip/mencuri-curi baca saat istirahat sekolah. Bahkan di rumah Pakdenya yang Jururawat, banyak sekali tumpukan koran dan majalah terbitan Surabaya dan Yogya, sehingga ia dengan leluasa bisa membacanya. Di antaranya ada Minggu Pagi (Yogya), Terang Bulan (Surabaya), serta buku-buku tebal tentang kesehatan.

Di rumah pamannya yang lain, bernama Paman Ahim, Akhudiat, membaca majalah Indian Film (Surabaya), lantas di rumah Guru Rasad membaca habis majalah Wijaya (Surabaya), buku-buku serial Naga Mas (Surabaya), dan Serikat 17 (Jakarta). Di rumah teman mainnya yang terbuka siang dan malam, Diat bisa membaca habis konik Mahabarata dan Ramayana karya Kosasih.

Bersama Keluarga

Menikah dengan Mulyani pada tanggal 4 November 1974. Bersama istrinya ini, Akhudiat, mempunyai tiga anak, yaitu: Ayesha Mutiara Diat (perempuan, lahir tahun 1975), Andre Muhammad Diat (laki-laki, lahir tahun 1976), dan Yasmin Fitrida Diat (perempuan, lahir tahun 1978) yang kini bekerja di Redaksi Ngopibareng.id.

Setelah sang isteri meninggal dunia, Akhudiat yang pernah tinggal di Jalan Gayungan PTT 51-E Surabaya pindah rumah. Tinggal bersama keluarganya, Akhudiat pindah di Gayungan Residence A9, Jalan Gayungan Gg 8 Surabaya hingga masa terakhir hayatnya.

Sabtu pagi, 7 Agustus 2021 pukul 07.00 WIB, Akhudiat mengembuskan nafas terakhir. Setelah beberapa hari dirawat di RS Soewandi Surabaya akibat penyakit yang dideritanya sejak lama. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *