Alasan Atlet Renang Myanmar Tolak Ikut Olimpiade

  • Bagikan



Myanmar tak lagi bisa disebut negara demokrasi sejak petinggi militer menggulingkan pemerintahan sah awal Februari 2021. Namun, perlawanan rakyat yang terus menggelora menyisakan secercah harapan bagi revolusi yang mengakhiri kekuasaan junta.

Bagi atlet renang Win Htet Oo, semua harapan dan impiannya mewakili Myanmar di ajang olahraga internasional harus dikubur dalam-dalam. Dia kini lebih mementingkan keselamatan Tanah Airnya.

Dia secara sukarela menarik diri dari Olimpiade Tokyo, keputusan yang diambil setelah permintaannya bergabung sebagai atlet independen ditolak.

“Cita-cita saya sudah pupus karena sekarang militer akan mengatur Komite Olimpiade Myanmar, jadi saya memutuskan untuk mendukung pengunjuk rasa dan rakyat yang memperjuangkan demokrasi,” katanya saat berbicara kepada VICE World News. “Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang, saya rela mengorbankan mimpi demi solidaritas.”

Lelaki 27 tahun itu mengucapkan selamat tinggal kepada Olimpiade di puncak kariernya. Dia tidak ikut pergi bersama kontingen kecil Myanmar yang akan berlaga di Tokyo. Dia hanya bisa menyaksikan perlombaan dari rumahnya di Australia. Pandemi telah menyurutkan semangatnya menghadapi kompetisi yang diundur setahun. Harapannya buyar setelah kudeta.

Dia mengumumkan keputusannya lewat postingan panjang di Facebook pada April, kira-kira dua bulan setelah tentara menangkap pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. Kudeta ini sontak mengacaukan transisi Myanmar menuju negara demokrasi setelah lima dekade dikuasai militer. Aksi damai berlangsung singkat, sebelum akhirnya aparat mengambil tindakan yang lebih brutal. 

Dalam postingan itu, Win Htet Oo menyinggung kematian Ma Kyal Sin, atlet Taekwondo 19 tahun yang tewas ditembak saat ikut demo pada Maret. Foto dan kisahnya beredar luas di media sosial, menginspirasi banyak anak muda lainnya untuk membela rakyat.

Organisasi nirlaba Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik mencatat sejauh ini, pasukan junta telah menewaskan lebih dari 900 orang pasca kudeta.

“Itu bukan keputusan yang sulit setelah membaca tentang Ma Kyal Sin dan para martir lainnya. Mereka telah mengorbankan hidup mereka. Pengorbanan saya tidak ada apa-apanya. Para martir takkan pernah bisa menyaksikan Myanmar bebas, tapi saya masih hidup. Saya bercita-cita melihat Myanmar bebas suatu hari nanti,” ujarnya.

Dia jadi langganan wawancara sejak beberapa bulan terakhir. Atlet muda itu sibuk meminta dukungan untuk petisi yang ditujukan kepada Komite Olimpiade Internasional (IOC). Dia mengkritik komite yang tidak mengeluarkan Olimpiade Myanmar dari kompetisi. Dia juga mengecam netralitas politik IOC, yang digadang-gadang bertujuan mempersatukan atlet dari seluruh dunia.

Menurut email yang diterima VICE World News, IOC menjelaskan pihaknya sering melakukan kontak dengan Komite Olimpiade Myanmar yang diakui sebagai Komite Olimpiade Nasional (NOC) untuk negara itu.

“Selama beberapa bulan terakhir, NOC telah berulang kali mengonfirmasi akan berfokus pada persiapan timnya untuk Olimpiade Tokyo 2020. Setiap atlet yang memenuhi syarat akan diikutsertakan,” bunyi keterangannya.

Mereka menambahkan, berdasarkan informasi yang diterima, Win Htet Oo “tidak mendapat kuota untuk Olimpiade Tokyo 2020”, yang berarti dia tidak terpilih oleh komite olimpiade nasional Myanmar.

Namun, atlet itu mengaku telah mengundurkan diri dari pertimbangan jauh sebelum Myanmar membentuk tim. Dia yakin akan diminta berpartisipasi jika melihat kemampuan gaya bebas 50 meternya pada Pesta Olahraga Asia Tenggara 2019.

Dia juga memegang rekor nasional. Menurutnya, dari semua atlet Myanmar yang terpilih, “Saya memiliki prestasi paling besar untuk masuk tim” bersama dengan atlet badminton Thet Htar Thuzar. Komite Olimpiade Myanmar tidak menanggapi permintaan VICE World News untuk mengonfirmasi ini.

Atlet dan publik figur Myanmar lainnya berada dalam posisi sulit. Mereka terancam diperkarakan apabila vokal menentang militer. Namun, mereka juga rentan menerima backlash apabila tidak dengan lantang menyuarakan dukungannya kepada gerakan pro-demokrasi.

Thet Htar Thuzar adalah contoh nyatanya. Pada 6 Juli, dia membuat postingan Facebook bahwa apa yang sudah lama diimpikan telah terwujud. Dia terpilih berkompetisi di Tokyo. Dia mengatakan, pengalamannya bisa menjadi sumber persatuan negara.

“Saya ingin orang tersenyum di masa-masa sulit, setidaknya untuk sebentar saja,” tulisnya. “Saya akan mewakili rakyat Myanmar sebaik mungkin. Kesuksesan saya akan menjadi kesuksesan rakyat Myanmar.”

Beberapa menyemangatinya, tapi yang lain mengkritik keputusan atlet badminton itu.

“Kalau kamu kalah, ya kalah. Kalah kamu menang, kamu juga sudah kalah. Rakyat Myanmar tak lagi memercayaimu,” seorang pengguna berkomentar. Dia tidak menanggapi permintaan VICE World News untuk berkomentar.

Win Htet Oo tidak menyesali keputusannya sama sekali, meski sudah bertahun-tahun berlatih keras sembari bekerja di dua tempat.

“Saya tidak merasakan apa-apa. Saya tidak sedih,” tuturnya.

Dia kini mendedikasikan waktunya berkolaborasi dengan seniman untuk menjual syal dan aksesori lainnya sebagai bagian dari penggalangan dana. Mereka ingin memberikan bantuan kemanusiaan dan menyokong Gerakan Pemberontakan Sipil Myanmar. 

Walaupun begitu, dia masih akan terus berlatih dan mengikuti lomba renang. Dia tertarik mengikuti Olimpiade Paris pada 2024. Tapi dengan satu syarat.

“Saya baru akan melakukannya setelah Myanmar bebas,” ujarnya menutup pembicaraan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *