Anak-Anak Menjadi Pihak Paling Dirugikan Dalam Perang Yaman

[ad_1]

Pagi itu, Nasser Qasim Ahmed Mohsen mengajak putranya, Amran, latihan sepakbola di stadion. Bocah sembilan tahun tersebut sedang mengikat tali sepatu ketika proyektil meruntuhkan bangunan di atasnya, pecahan peluru mendadak berceceran di lapangan rumput. Mohsen berusaha menyeret badan menghampiri anaknya, tapi semuanya sudah terlambat. Amran tergeletak tak bernyawa, tubuhnya terbelah menjadi dua. Sang ayah menyusul putranya tak lama kemudian.

Insiden itu terjadi pada 12 Desember 2020 di gelanggang olahraga yang biasa didatangi anak-anak. Serangan tersebut juga bukan yang pertama menghantam kota Taiz di barat daya Yaman dalam beberapa bulan terakhir.

Bulan lalu, VICE World News menemui Karam Shawqi yang bermain bola pada saat kejadian nahas merenggut nyawa temannya. “Dia teman baik kami. Kami sering main dan beli es krim bareng,” tutur bocah delapan tahun yang mengalami luka-luka akibat serangan. “Saya melihatnya dibawa ke rumah sakit. Ayah menyuruh saya membuang muka, tapi saya bilang saya harus melihat Amran. Baru kali itu saya menyaksikan orang sekarat dengan mata kepala sendiri.”

Tahun ini, Yaman telah menyaksikan krisis kemanusiaan yang semakin memburuk dari hari ke hari. Ratusan ribu orang terbunuh dalam konflik berkepanjangan yang telah berlangsung enam tahun akibat persaingan sengit Arab Saudi-Iran. Lebih dari empat juta warga kehilangan rumahnya. Berbagai fasilitas penting seperti rumah sakit, jalan, jembatan dan sistem perairan rusak oleh pertempuran. Gelombang kedua COVID-19 membuat situasi kian genting.

Anak-anak sangatlah dirugikan di sini. Harga bahan bakar dan kebutuhan pokok melambung selama perang, yang pada akhirnya menyebabkan satu dari lima anak mengalami kekurangan gizi parah. Di sepanjang perjalanan, koresponden VICE World News melihat bayi-bayi bertubuh kurus karena ibu mereka tidak mampu memberi makan. Anak perempuan dinikahkan pada usia belia untuk meringankan beban keluarga, sementara anak laki-laki kerap dimasukkan ke militer.

Hampir 80 persen orang Yaman bertahan hidup hanya dari bantuan kemanusiaan, tapi sebagian kecil saja yang menerima sesuai kebutuhannya. Pada Maret, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkapkan kekecewaannya terkait jumlah dana bantuan untuk Yaman tahun ini. Mereka hanya berhasil mengumpulkan setengah dari target awal $3,85 miliar (Rp55 triliun). Total sumbangan tahun ini lebih sedikit dari tahun sebelumnya, dan kurang satu miliar Dolar dari dana yang terkumpul pada 2019. Pandemi telah menjadi alasan untuk mengurangi donasi, serta tuduhan korupsi yang menodai penggalangan dana itu sendiri. Dunia tampaknya sudah lelah dengan penderitaan Yaman.

Situasinya telah memburuk sejak 2014, ketika pemberontak Houthi (Hutsi) yang bersekutu dengan Iran menguasai ibu kota Yaman, Sanaa. Pemerintahan melemah, yang pada gilirannya membentuk koalisi pimpinan Saudi dan bekingan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan bom terhadap pemberontak.

Kedua belah pihak telah melakukan kejahatan perang. Koalisi tersebut menghancurkan jembatan, rumah sakit, pasar dan bahkan bus yang ditumpangi anak-anak dalam operasi pemboman udara mereka. Kelompok Houthi juga tanpa pandang bulu menyerang kawasan perumahan, mengacaukan distribusi bantuan, dan merekrut puluhan ribu anak laki-laki sebagai serdadu. Pasukan Houthi kini menguasai sebagian besar wilayah dan sudah semakin mendekati Marib — kota strategis di utara Yaman yang dijadikan tempat berlindung para pengungsi. Organisasi Migrasi Internasional (IOM) memperkirakan 19.831 pengungsi di daerah ini terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak Februari.

Banyak anak-anak hidup dalam mimpi buruk di saat garis depan terus bergeser. Mereka harus selalu siap siaga melarikan diri ke kamp darurat lain kapan saja.

“Dampak konflik pada anak-anak sangat brutal. Entah apa efek jangka panjangnya nanti,” ujar Olivia Headon, juru bicara IOM di Yaman. “Anak-anak pengungsi tak hanya merasa ketakutan ketika harus melarikan diri, tetapi juga menghadapi tantangan besar dalam mengakses bantuan dan pendidikan.”

Tak ada satu pun dari Houthi atau koalisi pimpinan Saudi yang mau bertanggung jawab atas kekacauan ini. 

Ribuan warga Yaman berlindung di kamp pengungsi internal (IDP) yang terletak di pinggiran kota Marib.

Ribuan warga Yaman berlindung di kamp pengungsi internal (IDP) yang terletak di pinggiran kota Marib.

“Kami tidak ingin rakyat mati. Mereka semua saudara kami… Kami menyuruh mereka menghindari [pertempuran]. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menghindarinya. Namun, jika sampai terjadi sesuatu, semua akan ada biayanya,” kata Menteri Luar Negeri Hisham Sharaf Abdallah di wilayah utara yang dikuasai Houthi.

Dua pemerintahan yang bersaing di selatan dan utara tidak mau bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan Mohsen dan Amran di stadion Taiz. Bersama Yemeni Archive Project, VICE World News menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk mengumpulkan dan mempelajari bukti serangan. Kami mencocokkan sisa proyektil dengan jenis peluru artileri tertentu. Kami menelusuri lokasi peluncurannya sampai ke bukit yang dikuasai Houthi di Taiz. Laporan kami ditolak mentah-mentah, dan mereka memilih bungkam.

Seperti ribuan keluarga Yaman lainnya, Iftikar Ali Mohammed masih berduka dengan kepergian anak dan suaminya. Dia tidak pernah menerima permintaan maaf sama sekali.

“Saya merasa jiwaku mati bersama Amran,” tuturnya. “Tak ada hati yang tak tersakiti di Yaman… Hati kami remuk redam. Hidup kami sudah hancur.”

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.