Ancol-Muara Angke Tercemar Paracetamol, Kenali Manfaat “Pamol”

  • Bagikan
Ilustrasi obat Paracetamol. (Foto: Istimewa)


Sebuah kejadian mengejutkan terjadi di perairan Teluk Jakarta. Penelitian menganalisis sampel air yang dikumpulkan di empat lokasi di Teluk Jakarta. Empat lokasi dimaksud, yakni Angke, Ancol, Tanjung Priok dan Cilincing.

Para peneliti berasal dari School of Pharmacy and Biomolecular Sciences, University of Brighton, Lewes Road, Brighton, United Kingdom Centre for Aquatic Environments, University of Brighton, Lewes Road, Brighton, United Kingdom, dan Research Center for Oceanography, Indonesian Institute of Sciences (LIPI/BRIN). Mereka adalah Wulan Koagouw, Zainal Arifin, George WJ Olivier, dan Corina Ciocan.

Hasil studi tersebut dimuat dalam jurnal Marine Pollution Bulletin berjudul “High concentrations of paracetamol in effulent dominate waters of Jakarta Bay, Indonesia”. Sebagai informasi, paracetamol merupakan salah satu kandungan yang berasal dari produk obat atau farmasi yang sangat banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia secara bebas tanpa resep dokter. Sisa atau limbah obat-obatan atau farmasi memang seharusnya tidak ada di dalam air sungai dan air laut.

Sejarah Penemuan Paracetamol

Dua agen antipiretik dibuat pada 1880-an, yakni asetanilida (1886) dan fenasetin (1887). Pada masa tersebut, parasetamol telah disintesis oleh Harmon Northrop Morse melalui pengurangan p-nitrofenol bersama timah dalam asam asetat gletser. Meski proses tersebut telah dijumpai pada 1873, parasetamol tidak digunakan dalam bidang pengobatan hingga dua dekade setelahnya. Pada 1893, parasetamol telah ditemui di dalam air kencing seseorang yang mengambil fenasetin, yang memekat kepada hablur campuran berwarna putih dan berasa pahit. Pada 1899, parasetamol dijumpai sebagai metabolit asetanilida.

Pada 1946, Lembaga Studi Analgesik dan Obat-obatan Sedatif telah memberi bantuan kepada Departemen Kesehatan New York untuk mengkaji masalah yang berkaitan dengan agen analgesik. Bernard Brodie dan Julius Axelrod telah ditugaskan untuk mengkaji mengapa agen bukan aspirin dikaitkan dengan adanya methemoglobinemia, sejenis keadaan darah tidak berbahaya.

Di dalam tulisannya, Brodie dan Axelrod mengaitkan penggunaan asetanilida dengan methemoglobinemia dan mendapati pengaruh analgesik asetanilida disebabkan metabolit parasetamol aktif, kemudian mereka membela penggunaan parasetamol karena memandang bahan kimia tersebut tidak menghasilkan racun asetanilida.

Definisi Paracetamol

Parasetamol atau asetaminofen merupakan obat analgesik dan antipiretik yang populer dan digunakan untuk meredakan sakit kepala dan nyeri ringan, serta demam. Obat digunakan sebagian besar sebagai obat resep untuk analgesik dan flu. Obat memiliki keamanan bagus pada dosis standar, tetapi mudah terjadi overdosis karena obat muncul pada banyak sediaan obat. Hal ini mendorong terjadinya overdosis baik sengaja ataupun tidak sengaja.

Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parasetamol tidak memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS), dalam dosis normal, parasetamol tidak mengiritasi permukaan bagian dalam lambung atau mengganggu gumpalan darah, ginjal, atau duktus arteriosus pada janin.

Walaupun mekanisme kerjanya belum diketahui secara pasti, paracetamol diketahui bekerja pada pusat pengaturan suhu yang ada di otak untuk menurunkan suhu tubuh saat seseorang sedang mengalami demam. Selain itu, obat ini juga bisa menghambat pembentukan prostaglandin, sehingga bisa meredakan nyeri.

Merek dagang obat paracetamol: Hufagesic, Mixagrip Flu, Naprex, Panadol, Paramex SK, Paramol, Poro, Sanmol, Tempra, Termorex.

Manfaat Obat Paracetamol

Beberapa kondisi yang dapat diatasi oleh paracetamol adalah sakit kepala, nyeri haid, sakit gigi, nyeri sendi, nyeri selama flu, demam.

Dosis Obat Paracetamol

Berikut adalah dosis paracetamol (parasetamol) yang direkomendasikan untuk orang dewasa:

1. Dosis paracetamol untuk demam pada orang dewasa adalah:

a. Paracetamol 325-650 mg tiap 4-6 jam atau 1000 mg tiap 6-8 jam oral atau rektal.

b. Tablet Paracetamol 500 mg: 2 tablet 500 mg diminum tiap 4-6 jam.

2. Dosis paracetamol untuk nyeri pada orang dewasa:

a. Paracetamol 325-650 mg tiap 4-6 jam atau 1000 mg tiap 6-8 jam oral atau suppository.

b. Tablet Paracetamol 500 mg: 2 tablet 500 mg diminum tiap 4-6 jam.

3. Dosis paracetamol untuk demam pada anak-anak berusia sama dengan atau di atas 12 tahun adalah:

a. Infus, kurang dari 50 kg: 15 mg/kg tiap 6 jam atau 12.5 mg/kg tiap 4 jam. Dosis tunggal maksimal: 750 mg/dosis. Total dosis maksimal harian: 75 mg/kg/hari (kurang dari atau sama dengan 3750 mg/hari).

b. Infus, 50 kg atau lebih: 650 mg tiap 4 jam atau 1000 mg tiap 6 jam. Dosis tunggal maksimal: 1000 mg/dosis. Total dosis maksimal harian: 4000 mg/hari.

c. Oral atau rektal: 325-650 mg tiap 4-6 jam atau 1000 mg 3-4 kali sehari. Dosis maksimal harian: 4000 mg/hari.

4. Dosis paracetamol untuk nyeri pada balita dan anak-anak:

a. Infus, di bawah 2 tahun: 7.5-15 mg/kg/dosis tiap 6 jam. Dosis maksimal harian: 60 mg/kg/hari.

b. Infus, 2-12 tahun: 15 mg/kg tiap 6 jam atau 12.5 mg/kg tiap 4 jam. Dosis maksimal harian: 15 mg/kg.

c. Oral: 10-15 mg/kg/ dosis tiap 4-6 jam saat diperlukan; jangan melebihi 5 dosis dalam 24 jam. Total dosis maksimal harian: 75 mg/kg/hari tidak melebihi 3750 mg/hari.

Interaksi Paracetamol dengan Obat Lain

Paracetamol dapat menimbulkan interaksi jika digunakan dengan obat lainnya. Berikut ini beberapa interaksi yang dapat terjadi:

1. Peningkatan risiko terjadinya perdarahan jika digunakandengan warfarin

2. Penurunan kadar paracetamol dalam darah jika digunakan dengan carbamazepine, colestiramine, phenobarbital, phenytoin, atau primidone

3. Peningkatan risiko terjadinya efek samping obat busulfan

4. Adanya peningkatan penyerapan paracetamol jika digunakan bersamaan dengan metoclopramide,domperidone, chloramphenicol, atau probenecid

5. Peningkatan risiko terjadinya kerusakan hati jika digunakan dengan isoniazid

Efek Samping Paracetamol

Konsumsi paracetamol tanpa panduan dokter atau digunakan secara berlebih juga bisa menimbulkan efek samping yang serius, seperti:

1. Mual, sakit perut bagian atas, gatal-gatal, kehilangan nafsu makan

2. Urin berwarna gelap, feses berwarna pucat

3. Kuning pada kulit dan mata

Menurut Healthline, gejala kerusakan hati yang perlu diwaspadai akibat konsumsi parasetamol kulit dan mata menguning (jaundice), mual dan muntah, nyeri di bagian kanan atas perut, kehilangan nafsu makan, kelelahan, berkeringat lebih banyak, kulit pucat, memar atau pendarahan yang tidak wajar, hingg urine atau feses berwarna gelap.

Aturan Pakai Paracetamol

Ketika sedang konsumsi obat, sebaiknya selalu mengikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada pada kemasan obat sebelum menggunakan paracetamol. Jangan mengurangi atau menambah dosis tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Paracetamol infus akan diberikan langsung oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Obat akan diberikan sesuai anjuran dokter, paracetamol dapat dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Untuk paracetamol sirup, kocok botol terlebih dahulu sebelum obat digunakan. Gunakan sendok takar yang tersedia di dalam kemasan obat agar dosis lebih tepat.

Adapun jenis paracetamol suppositoria yang digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam anus. Caranya buka plastik pembungkusnya terlebih dahulu, kemudian masukkan obat bagian ujung yang lancip ke dalam dubur. Setelah obat masuk, duduk atau berbaring terlebih dahulu selama 10-15 menit hingga obat terasa meleleh.

Jangan lupa cuci tangan sebelum dan sesudah memasukkan paracetamol suppositoria. Paracetamol suppositoria perlu disimpan di dalam kulkas, dan hentikan penggunaan paracetamol jika keluhan tidak kunjung reda setelah 3 hari menggunakan obat tersebut.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *