Angka Kematian Covid di Surabaya Lampaui Nasional, Ini Saran IDI

  • Bagikan
Data kasus Covid-19 di Surabaya. (Foto: Tangkapan Layar)


Angka kematian kasus konfirmasi virus corona atau Covid-19 di Kota Surabaya masih tinggi. Berdasar data hingga tanggal 17 Agustus 2021 lalu, angka kematian di Surabaya 3,64 persen di atas angka kematian nasional 3,08 persen, dan angka kematian global 2,10 persen.

Data ini menjadi salah satu gambaran akibat lonjakan kasus yang terjadi bulan Juni-Juli 2021 ini pasca masuknya berbagai varian baru dan meningkatnya kasus harian Covid-19. Alhasil, rumah sakit kewalahan karena dalam jangka waktu tersebut RS selalu terisi penuh, dan menyebabkan banyak pasien dan warga tak tertolong.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya, Dr Brahmana Askandar mengatakan, disaat terjadinya lonjakan kasus, tidak ada satupun RS yang siap. Apalagi, jumlah kasus berbanding jauh dengan kapasitas dan tenaga kesehatan yang ada di Kota Pahlawan.

Ia kemudian membandingkan kondisi Indonesia dengan rumah sakit yang ada di negara-negara maju. Di sana, RS mampu merawat karena didukung dengan fasilitas yang lengkap.

“Kemudian SDM kita terbatas, apalagi ada dokter dan nakes yang tepapar. Sehingga ICU yang digunakan untuk menangani kasus berat tidak berfungsi sesuai seperti sebelum ada lonjakan kasus,” ujar Brahmana.

Menurutnya, ketika nakes di ruang ICU terpapar tidak bisa nakes non ICU ditugaskan secara langsung. Pasalnya, ada standar khusus yang ditentukan dalam penanganan intensif.

Belum lagi, jumlah dokter spesialis anastesi kurang, juga kendala dokter yang terpapar membuat layanan tidak maksimal.

“Selain itu, belum semua RS memenuhi standar penanganan pasien berat. Apalagi kita Ibu Kota Jawa Timur sehingga banyak pasien dari luar yang dirujuk ke Surabaya, ketika meninggal tercatat Surabaya,” paparnya.

Tak hanya itu, karena lonjakan kasus yang tinggi dan terbatasnya tempat perawatan khusus Covid-19, membuat banyak warga yang tidak mendapat tempat dan tidak tertangani dengan tepat.

Untuk itu, ia menyarankan, kepada pemerintah untuk mendirikan RS khusus pasien Covid-19, tidak seperti sekarang tercampur dengan pasien umum di tiap daerah. Sehingga, warga pun tidak kebingungan untuk mencari tempat perawatan.

Dokter spesialis kandungan itu melanjutkan, berdasar data, 90 persen lebih kasus meninggal adalah pasien Covid-19 dengan komorbid. “Paling tinggi diabet dan hipertensi. Kalau (tiap sektor) buka pelan-pelan maka harus hati-hati untuk orang berisiko. Misal ibu hamil, misal PTM, guru dengan komorbid bisa menggunakan virtual dan seterusnya harus dijaga,” pungkasnya.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *