Bahaya Covid-19 Varian Delta, Penyebab Melonjaknya Kasus Positif

Ilustrasi Covid-19 varian delta yang harus diwaspadai. (Grafis: Istimewa)

[ad_1]

 Pandemi Covid-19 masih terus berlangsung. World Health Organization (WHO) telah mengumumkan bahwa virus SARS-CoV-2 terus bermutasi, salah satunya varian delta. Masyarakat perlu mewaspadai gejala serta cara penularan virus corona varian baru yang pertama kali ditemukan di India, varian Delta.

Setiap varian virus corona memiliki ciri-ciri yang berbeda terutama pada tingkat penularannya. Karenanya, masyarakat perlu memahami bagaimana gejala dan cara penularan masing-masing varian.

Covid-19 Varian Delta

Varian delta dikenal juga dengan varian B.1.617.2. Varian virus ini 50 persen lebih mudah menular dibandingkan varian alpha yang pertama kali ditemukan di Inggris. Padahal, varian alpha ini sudah 50 persen lebih menular dibandingkan virus corona pertama yang ditemukan di Wuhan, China.

Varian ini pertama kali ditemukan di India pada bulan Desember 2020 dan memicu meningkatnya kasus secara signifikan di negara tersebut. Varian ini dilaporkan menyebar dengan cepat ke 104 negara lainnya. Bahkan, pada pertengahan Juni 2021, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memberi label baru pada varian ini “variant of concern”. Hal ini disebabkan karena tingginya tingkat penularan varian baru ini.

Pada awal Juli 2021, varian ini menjadi kasus yang dominan di berbagai negara, seperti Inggris, Amerika Serikat, Jerman, dan Indonesia. Bahkan menurut pakar kesehatan masyarakat Inggris, 97 persen kasus baru di Inggris merupakan infeksi Covid-19 varian delta.

Gejala Varian Delta

Gejala yang ditimbulkan oleh virus corona varian Delta hampir sama dengan gejala dari varian lainnya. Gejala yang biasa dialami pasien di antaranya adalah:

– Demam (94 persen)

– Batuk (79 persen)

– Sesak (55 persen)

– Berdahak (23 persen)

– Nyeri badan (15 persen)

– Lelah (23 persen)

– Sakit kepala (8 persen)

– Rinorea (7 persen)

– Batuk darah (5 persen)

– Diare (5 persen)

– Anosmia (3 persen)

– Mual (4 persen)

Gejala Covid-19 Varian Delta pada Anak-anak

Kasus infeksi varian delta juga banyak mengjangkit anak-anak, sehingga menimbulkan gejala yang bervariasi, namun untuk secara umum, anak-anak akan mengalami gejala demam, diare, batuk, pilek hingga munculnya ruam pada kulit anak.

Gejala Covid-19 Varian Umum

Sebelum muncul varian delta yang berbahaya, sebelumnya Covid-19 memunculkan varian umum yang masih bisa untuk ditanggulangi, seperti gejala sesak napas, demam, batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, anosmia atau kehilangan indera penciuman.

Jika dibandingkan mungkin gejala yang ditimbulkan hampir sama, tapi tingkat varian delta lebih cepat menginfeksi seseorang dan bahkan untuk varian delta pemerintah mewajibkan menggunakan masker berlapis.

Risiko Penularan Covid-19 Varian Delta

Covid-19 varian delta diketahui lebih mudah dan sangat cepat menular dibandingkan varian virus corona lainnya. Memang belum diketahui mengapa varian delta kali ini lebih cepat menular dibandingkan sebelumnya, karena hal tersebut juga masih di teliti dan dikaji oleh para peneliti.

Salah satu teori yang menyebtutkan, bahwa protein pada permukaan virus corona varian delta lebih mudah untuk menyatu dan bercampur dengan sel manusia, sehingga akan membuat virus tersebut lebih mudah mengalahkan sistem kekebalan tubuh juga menginfeksi manusia, selain itu, virus corona pada varian delta diketahui memiliki kemampuan untuk bereplikasi atau berkembang biak lebih cepat dibandingkan virus corona pada umumnya.

Tingkat Keparahan Covid-19 Varian Delta

Bila dibandingkan dengan Covid-19 varian Alpha atau varian lainnya, karena dalam varian delta memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi. Hal itu terlihat dari banyaknya pasien positif covid varian delta yang membutuhkan perawatan di rumah sakit daripada pasien Covid-19 varian lainnya.

Selain itu, virus corona varian delta diketahui dapat menimbulkan komplikasi yang lebih parah pada pasien yang berumur lanjut atau yang pernah memiliki riwayat penyakit sebelumnya, seperti asma, diabetes, dan hipertensi.

Dalam varian delta ini juga lebih mudah menginfeksi anak-anak, remaja, dan orang dewasa di bawah usia 50 tahun. Seseorang dengan kelainan sitem imun dan juga orang-orang yang belum mendapatkan vaksin covid juga berisiko tinggi untuk terinfeksi covid-19 dalam varian baru ini.

Kemampuan Vaksin Lawan Varian Delta

Vaksin Covid-19 yang disediakan oleh pemerintah saat ini bisa dikatakan bisa memberi perlindungan terhadap beragam virus covid-19, termasuk pada varian delta. Bahwa dalam vaksin AstraZeneca, dan vaksin Pfizer memiliki antibodi yang cukup baik untuk membantu melawan covid varian delta.

Dalam vaksin dosis pertama, hal itu hanya akan memberikan perlindungan terhadap varian delta sebanyak 33 persen. Sementara perlindungan vaksin dosis lengkap terhadap varian delta diketahui bisa mencapai 60-80 persen, tidak berbeda dengan perlindungan  vaksin covid-19 terhadap varian virus corona lainnya. Jadi memang vaksin covid ini harus diberikan dengan takaran 2 dosis, sesuai yang disarankan oleh ahli medis dan juga disetujui oleh pemerintah.

Taat Protokol Cegah Covid-19 Varian Delta

Berdasarkan informasi dari WHO, pasien dapat dikeluarkan dari isolasi setelah sepuluh hari positif SARS CoV2 (asimptomatik), dan sepuluh hari sesudah on set gejala dan terbebas dari gejala (simptomatik).

Meskipun sudah bebas dari isolasi mandiri maupun isolasi di rumahsakit, protokol kesehatan tetap harus dipatuhi dan menerapkan pola hidup bersih juga sehat.

Mengingat kasus positif di Indonesia semakin meningkat, pengetatan protokol kesehatan menjadi sebuah keharusan.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.