Begini Beda Suasana Ramadan Tahun 1970an hingga 2010an kalau Diingat-ingat



“Bulan puasa sekarang ga seseru jaman dulu…”

Keluhan sok tua ini biasanya keluar dari bibir anak beranjak ABG, tapi kita semua emang merasakannya. Dalam kenangan kita, bulan puasa harusnya bertabur makanan lezat dan minuman segar yang enggak ada di hari-hari biasa. Kegiatan kita padat dengan bermacam permainan dari siang hingga larut malam.

Seiring waktu, Ibu makin tak semangat masak ini-itu, sementara kita juga malah berpuasa dengan cara tidur-tiduran sepanjang hari. Ramadan pun terasa lempeng.

Tapi bentar deh. Emang Ramadan secara umum tak lagi semarak, atau karena festival puasa sebenarnya buat anak-anak sehingga kita yang tambah usia jadi makin ga relate ya? 

Pertanyaan ini menggiring kami untuk mengumpulkan cerita tentang rutinitas bulan puasa di Indonesia dari dekade ke dekade, dimulai pada 1970an dan berhenti di 2010an. Pencarian ini dilandaskan asumsi, kalau Ramadan ga seru karena kitanya beranjak dewasa, harusnya anak-anak di generasi bawah masih merasakan serunya dong? Inilah yang mau kami cari testimoninya.

Selain itu, ‘seru’ atau ‘ga seru’ kan sensasi personal ya. Satu kegiatan bisa jadi seru buat satu orang dan ga seru buat orang lain. Alhasil kami jadi pengin tahu apa saja kegiatan mengisi Ramadan dari masa ke masa agar pembaca sendiri yang menilai seru engganya.

Ga dinyana, pencarian ini jadi keseruan sendiri. Ada cerita soal tradisi yang dulu juga kami rasain dan sejenak memicu nostalgia. Ada juga cerita dari masa lalu jauh yang benar-benar baru kami tahu sekarang. Ini hasilnya.

Herry Anggoro Djatmiko (61) menceritakan suasana bulan puasa 1970an dan 1980an di Batang dan Semarang

Herry lahir di Batang pada 1962 dan menghabiskan masa kecil di sana. Ia baru pindah kota ketika kuliah di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pada 1981. 

Pada dekade 70an waktu saya SD, sekolah libur selama bulan puasa. Entah kenapa pemerintah Orde Baru saat itu membuat aturan tersebut. Setelah Pak Daoed Jusuf menjabat Menteri Pendidikan, barulah libur selama Ramadan itu hilang.

Karena sekolah libur, siang hari sepanjang bulan puasa menjadi waktu bagi anak-anak untuk bebas bermain. Kami biasanya mandi atau memancing di sungai. Sesekali mandi siang itu diselingi curi-curi minum air sungai barang seteguk dua teguk.

Kegiatan lain para anak laki-laki adalah membuat meriam bambu bernama mercon bumbung. Sedangkan teman-teman saya dari keluarga kurang mampu memilih mencari uang. Mereka memecah batu dari sungai, lalu dijual ke pengepul. Batu-batu itu dipakai untuk proyek perbaikan jembatan yang saat itu sedang banyak dilakukan. 

Saya sendiri, akibat banyak bergaul dengan anak-anak lebih besar, mengisi waktu dengan meminjam komik dan buku di persewaan. Saya paling senang itu judul-judul komik dari pengarang Teguh Santosa, seperti Mencari Mayat Mat Pelor dan Kuil Loncatan Setan. Kadang meminjam Si Buta dari Gua Hantu miliknya pengarang Ganes Th., Panji Tengkorak dari Hans Jaladara, kemudian komik-komik superhero dari Hasmi: Gundala Putra Petir, Godam.

Ketika SMP, menginjak kepada kesenangan meminjam Kho Ping Hoo, misalkan cerita Bu Kek Siansu, Pendekar Sadis, Pendekar Bodoh, Pendekar Mata Keranjang, dan series-series semacam itu. Pilihan aktivitas lain adalah main sepak bola dan voli. Ini banyak dilakukan para pemuda.

Begitu waktunya berbuka, anak-anak akan pulang. Makanan buka puasa kami tidak beda dari menu sehari-hari. Menu mewah baru akan disajikan Ibu di hari Idul Fitri. Namun, kami tidak cuma makan di rumah. Biasanya anak-anak jajan lagi setelah selesai salat Tarawih di masjid.

Ada beberapa camilan yang sering disantap anak-anak di kampung saya. Keong sawah, pedoyo (timun rebus dicocol cabe), rujak, lotis, dan pecel adalah beberapa di antaranya. Makanan ini dibeli dari para tetangga yang selama puasa membuka warung dadakan di teras rumah, menjual makanan pada malam hari.

Setelah jajan, kadang kami mendatangi lokasi ‘TV umum’ diletakkan. TV umum adalah pesawat televisi yang diletakkan di tempat umum, seperti di pinggir jalan atau halaman rumah agar bisa ditonton orang beramai-ramai.

[istilah ‘pesawat televisi’ yang dipakai Herry memang khas jaman itu banget, sebagaimana orang yang memakai komputer sejak 90an biasanya melafalkan komputer sebagai ‘kompyuter’.]

TV umum di desa kami disediakan perusahaan perkebunan karet tempat Bapak bekerja. Diletakkan di pinggir lapangan badminton, TV itu akan dinyalakan di malam hari saja. Spesial pada malam minggu, TV dinyalakan sejak sore hari hingga selesainya program TVRI ‘Film Cerita Akhir Pekan’ pukul 1 malam. 

Namanya jaman berubah, Ramadan di tahun 70-80an dan sekarang jelas berbeda.

1. Dulu banyak orang berolahraga sambil menunggu waktu buka. Puasa bukan halangan untuk berkeringat.

2. Pada 70an dan 80an saya tidak menjumpai tradisi buka bersama di masjid ataupun restoran. Rasanya bukber baru mulai marak di tahun 90an.

3. Di Semarang, orang berdagang takjil baru muncul pada akhir 80an. Mulanya mahasiswa-mahasiswa Undip, terutama yang perempuan, hendak mencari uang tambahan.

Saat itu lokasi Undip masih di pusat kota tak jauh dari Simpang Lima. Di Jalan Pahlawan mereka mulai berjualan takjil. Saya ingat betul, mereka menjual kolak yang diplastik, ditawarkan pada pengendara sepeda motor yang lewat.

4. Anak SD tidak wajib puasa seharian. Masih lumrah anak kelas 6 SD puasa beduk. Namun soal salat Tarawih sudah menjadi kewajiban bagi anak-anak.

5. Di desa saya, kebiasaan membangunkan orang sahur dengan cara keliling kampung dan membuat bunyi-bunyian nyaring baru ada di awal 80an. Saat itu anak-anak muda, biasanya yang pengangguran, main gitar bersama lalu keliling-keliling kampung untuk membangunkan sahur.

Pada tahun-tahun berikutnya mulai ada orang yang membawa tape recorder dan salon yang dihidupkan menggunakan aki. Alat itu diangkut pakai gerobak kecil oleh sekitar 4 orang. Lagu yang disetel di tape umumnya pop Indonesia atau dangdut. 

6. Di dua dekade itu, di rumah saya belum mengenal sahur dengan mi atau makanan instan. Menu sahur biasanya makanan buka yang dihangatkan lagi, atau menu baru yang mudah diolah, seperti telur, tempe, atau tahu yang digoreng. 

7. Sahur tanpa nyetel TV ataupun radio. Di tahun 80an orang-orang memang sudah punya TV pribadi di rumah, tetapi tak ada gunanya juga disetel pada jam sahur karena siarannya tidak ada.

TVRI, satu-satunya stasiun TV saat itu, cuma siaran dari sore sampai malam. Hanya di malam minggu radio akan menyiarkan acara wayang kulit sejak jam 9 hingga dini hari. Itu satu-satunya siaran yang bisa dinikmati sambil makan sahur.

Setelah sahur, anak-anak dan remaja akan jalan-jalan subuh dengan gerombolannya masing-masing. Rumah saya terletak di tepi Jalan Raya Daendels dan di masa itu jalan tersebut masih sepi. Kami bisa bermain-main di tengah jalan. 

Kalis (31) menceritakan suasana bulan puasa 1990an di Blora

Ramadan saat itu seru banget karena di seberang rumah ada basecamp Karang Taruna. Begitu matahari naik, rumah itu akan ramai oleh pemuda-pemudi usia SMP dan SMA. Di sana mereka masak-masak jajajan untuk dijual di sore harinya. Yup, mereka mengisi libur bulan puasa dengan mencari uang tambahan lewat jualan makanan. Dagangan itu nanti dijajakan keliling desa dengan naik becak.

Setiap hari di pangkalan itu kayak ada hajatan! Waktu itu aku masih bocil SD yang kepo dan cuma disuruh-suruh. Aku sering ikut nongkrong di pangkalan karena Masku anak Karang Taruna. Dan aku ingat banget, di akhir bulan puasa mereka untung besar!

Seperti ini jadwal kegiatanku selama Ramadan kala itu. Tentu aku dibangunkan sahur oleh orang tua. Ibuku akan menghidangkan (a) makanan sisa buka yang dihangatkan, atau (b) mi instan. Sambil makan, kami sekeluarga menyimak acara TV favorit yang sudah diikuti dari tahun ke tahun: sinetron “Para Pencari Tuhan” di SCTV. 

Sehabis sahur, salat Subuh akan dilakukan di masjid, dilanjut dengan tadarus Al-Qur’an dengan gengku. Kalau jamaah Subuh itu, kami harus menemukan semua anggota geng hadir di masjid. Kalau ga menemukan ya dicari, kayak “Kok Melisara ga Subuh ya?” Terus kami datang ke rumahnya sambil manggil-manggil, “Mel, Mel, ayo jalan-jalan, Mel.”

Selesai tadarus kami ga langsung pulang. Kami jalan-jalan pagi ke alun-alun Blora yang jaraknya 2 km dari rumah. Nanti di jalan kami ketemu geng-geng lain. Kadang ada geng anak laki-laki yang kami taksir, kadang geng anak-anak yang kami sebelin. Kalau bertemu yang nomor 2 ini, akan kami serang dengan lemparan mercon banting.

Sekitar jam 8 pagi acara jalan-jalan selesai. Aku pulang dan tidur lagi, untuk nanti bangun sekitar jam 2 siang. Begitu bangun, aku nimbrung deh ke pangkalan buat menyimak pergaulan kakak-kakak saat itu. Oh ya, di pangkalan itulah aku mulai mengenal lagu-lagu pop dari kaset tape yang mereka putar. Ingat kaset tape yang di kertas sampulnya ada liriknya? Nah, lirik-likir itu yang aku hapalin.

Setelah capek nongkrong, aku pun pulang untuk mandi dan nonton televisi.

Tarawih selalu dilakukan di masjid, dilanjut dengan tadarus lagi. Kadang gengku mempercepat tadarusnya biar bisa segera pergi ke alun-alun melihat pasar malam. Hingga larut malam kami akan bermain di pasar malam, belanja mainan masak-masakan dari gerabah, atau membeli poster artis idola.

Cuma saat bulan puasa seperti ini aku boleh pulang malam. Kalau biasanya ya pintu udah dikunci Mak e.

Di bulan Ramadan kampungku seperti tidak pernah tidur. Jam 11 malam masih ada suara tadarus. Bapakku juga masih di masjid. Semua orang melek sampai malam, Masku masih nongkrong sama temen-temennya. 

Sekolah memang libur selama puasa, tapi di hari-hari tertantu ada program pesantren kilat sehingga kami masih harus ke sekolah. Waktu itu anak-anak belum berjilbab, ibu-ibu juga (seingatku yang berjilbab cuma Umi, istrinya ustad ngaji kami). Berhubung semua tak berjilbab, khusus di acara pesantren kilat kami wajib memakai yang dresscode ‘baju muslim’. 

Baju muslim juga lah yang akan jadi baju baruku tiap Lebaran.

Pernah terjadi drama tentang baju muslim ini. Bapak kan tukang becak. Suatu ketika, saat itu malam takbiran, Bapak baru sampai rumah pukul 7 malam. Aku tiba-tiba diajak keluar lagi naik sepeda ontel.

Sambil boncengan kami menyusuri toko demi toko yang sudah tutup. Hingga akhirnya ada satu toko yang sepertinya mau tutup, dicegah sama Bapak demi beliin aku baju baru. Akhirnya dapatlah bajunya warna ungu itu–aku inget banget. Akhirnya Lebaran itu aku punya baju baru.

Ramadan dulu dan sekarang ya aku hepi. Cuma sekarang hepinya beda. Sekarang aku mikirinnya uang, sedangkan dulu kayak punya dunia sendiri. 

Misalnya keluargamu, sehari-hari kan orang tuamu agenda hariannya cari uang. Nah, pas Ramadan itu tiba-tiba kamu terkondisikan, “Oh, ini bulan untuk beribadah lebih banyak.” Kamu terkondisikan untuk harus khatam karena ada pahalanya, karena ini bulan paling baik dalam setahun. Terus Tarawih, itu kan semua penduduk desa berkumpul. Tiba-tiba kamu bertemu semua penduduk desa. Makanya Ramadan terasa khas.

Salsa (25) menceritakan suasana Ramadan 2000an di Tangerang Selatan

Menu sahur keluargaku tuh wajib masak nugget Fiesta. Kadang sosis Kanzler atau ebi furai yang mereknya aku lupa. Keluargaku emang suka banget frozen food. Ditambah mama-papaku kerja, jadi menu ini emang gampang banget, tinggal goreng-goreng kan. Kadang-kadang sahurnya mi gitu. Oh ya sarden dan tuna kaleng juga keluargaku suka banget.

Habis sahur terus tidur lagi, nanti bangun pas mau berangkat sekolah. Ke sekolah diantar Papa kalo sempet, kalo ga sempet ya naik angkot. Aku masih hafal tuh: angkot D22 yang kuning hijau, terus angkot 05 warna putih, 07 warna merah. Masih banyak deh.

Dari SD sampai SMA aku tempuh di sekolah Islam swasta. Cuma pas SD sama SMP sekolahnya yang Islamnya ketat gitu.

Pas SD-SMP, di bulan Ramadan kami wajib khatam Al-Qur’an. Tadarusnya di sekolah setelah salat Dhuha. Kami dikasih target ngaji, harus 5 atau 10 lembar. Ibadah Ramadan bener-bener dipushnya di sekolah. Ga khatam tuh kayak dosa banget, kayak kamu 30 hari beribadah ga khatam tuh ngapain aja.

Oh ya sekolahku juga muridnya sedikit. Waktu SD seangkatan cuma 50 orang. Pas SMP 27 orang. Pas SMA 22 orang doang.

Aku sempet merasakan jamannya Gus Dur yang meliburkan anak sekolah selama bulan puasa [ini terjadi di tahun 2000]. Di bulan puasa lain yang masih masuk sekolah, aku biasanya pulang pulang jam 2 siang. Sampai rumah kalo ga bobo, ya nyetel SCTV nonton telenovela. Sampai sore aku ga ngapa-ngapain lagi.

Emang waktu itu di rumah kami selalu nyalain TV. Pokoknya kalau pagi Trans TV, kalau siang SCTV karena ada telenovela, terus sore sampai malam RCTI.

Buat mantau waktunya berbuka juga lewat TV. Kan aku ada tugas mengisi buku Ramadan dari sekolah. Salah satu tugasnya merangkum ceramah selama puasa. Aku akan nonton “Kultum”-nya Abi Quraish Shihab di RCTI. Nah di pojok bawah layar kan ada jam yang nunjukin, ini udah Magrib untuk Aceh, untuk Medan, dan seterusnya.

Kalau sekarang sih mantaunya dari aplikasi ‘Al-Quran Indonesia’ di hape. Sekarang kami sekeluarga masang aplikasi ini. Entar bisa diset alarmnya. 

Untuk menu buka, kadang beli chinese food, kadang goreng nugget, atau makanan apa aja yang warungnya dilewati Papa-Mama pas pulang kerja. Kadang beli es kelapa karena Mama suka kelapa. Pokoknya kalau masalah buka puasa sama sahur tuh kata orang tua aku jangan dibikin repot, harus merasa cukup sama apa yang ada di meja.

Kalau di rumah, tarawihnya di rumah, bukan di masjid. Habis tarawih ga ada tadarus karena di rumah kami ibadahnya biasa-biasa aja. Terus kenapa aku disekolahin di sekolah Islam? Karena orang tuaku prinsipnya anak kecil harus tahu tentang Islam. Minimal udah pernah ngerasain full puasa. Kayaknya menurut ortuku tuh, di sekolah negeri susah deh untuk membentuk keislaman anaknya.

Bulan puasaku selalu biasa-biasa aja. Karena keluarga kami ga terlalu seremonial, ga ada euforia gimana gitu. Yang aku ingat malah sekolahku ngadain pawai pas menyambut Ramadan, hahaha.

Nabila (25) menceritakan suasana Ramadan 2000an di Jogja

Menu sahur di rumahku yang gampang-gampang aja. Yang bisa dimasak instan gitu, paling sarden, kornet, atau udah beli lauk dari malemnya. Kadang juga telur atau Indomie. Kami makan sahur sambil nonton TV karena kan masih banyak program-program sahur.

Habis sahur kadang tidur lagi, tapi kalau kuat nunggu salat Subuh dulu. Entar baru bangun menjelang waktu berangkat sekolah. Agak mepet karena kan udah ga perlu sarapan.

Sekolahku sekolah negeri. Kegiatan Ramadannya dengan baca Qur’an bareng-bareng di kelas sebelum pelajaran pertama dimulai. Speaker sekolah sambil menyiarkan bacaan yang sama. Oh ya, pas aku SMP, aku belum berjilbab. Kayaknya 50-50 sih di sekolah antara yang udah berjilbab dan yang belum. Kalau pas SMA mayoritas siswa perempuan berjilbab termasuk aku.

Kegiatan Ramadan lainnya di sekolah adalah pesantren kilat. Pas pesantren kilat, kami seangkatan nginep di sebuah pesantren selama tiga hari.

Aku pergi dan pulang sekolah selalu dijemput papaku. Setelah pulang kadang aku nonton TV atau tidur. Pas aku SMP aku udah megang gadget, cuma aku ga terlalu main hape. Kayaknya hiburan di internet waktu itu belum sebanyak sekarang deh.

Di sore hari ngabuburitku di rumah aja sih. Aku ga aktif di masjid karena waktu itu rumahku ga deket musala atau masjid. Aku juga ga main sama temen-temen sekitar rumah. Paling di rumah aja, nonton TV.

Buat buka puasa, kami selalu beli takjil. Yang wajib dibeli pasti gorengan sama es. Kalau lagi ga masak, makanan berbukanya juga beli. Menu buka puasa di rumahku sama aja kayak menu sehari-hari. Bedanya cuma pas puasa tuh ada takjil sehingga makanannya lebih banyak.

Kami sehari-hari ga nonton TVRI Jogja, tapi khusus bulan Ramadan, channel itu bakal dibuka buat mantau azan Magrib. Aku masih ingat program sebelum berbuka di TVRI Jogja ini namanya “Gema Ramadhan”. Isinya acara bincang-bincang dengan ustad.

Keluarga kami Tarawih sendiri-sendiri, seringnya di rumah. Kadang aku sama sepupuku Tarawih di masjid. Pas SMP aku udah jarang ke masjid karena udah ga ada tugas ngisi buku Ramadan. 

Aku ga termasuk yang ngerasa puasa dulu lebih seru daripada sekarang karena rutinitas kami sama aja deh dari tahun ke tahun. Malah kayak lebih berwarna saat udah gede, karena bisa buber dengan temen.

Sidra (23) menceritakan suasana Ramadan 2010an di Makassar

Di rumahku di Tamalate, Makassar, sehari-hari lauk kami adalah ikan, dan itu pula yang dihidangkan buat sahur. Entah ikan kuah kuning atau ikan bakar, dimakan dengan nasi. Sesekali kalo aku lagi malas makan ikan, aku akan masak mi instan. Sehabis sahur kami akan nonton “Para Pencari Tuhan”. Selesai nonton itu aku tidur lagi. 

Untuk mengisi waktu, sepulang sekolah aku dan teman-temanku biasanya main Point Blank di warnet. Duitnya dari sisa uang jajan. Kalau lagi ga punya duit ya nonton orang ngegame. Kami akan pulang kalau sudah mendekati waktu berbuka. TV di rumah akan disetel ke TV lokal buat mantau waktunya berbuka.

Menu berbuka standar aja. Es buah dan jalangkote, di Jawa kalian menyebutnya pastel, tapi jalangkote ini isinya singkong. Lauknya ikan bolu kayak biasa. Sebenarnya yang membedakan bulan puasa dan bulan biasa itu ya esnya sama ikan yang dimasak lebih banyak macamnya.

Habis salat Magrib aku akan ngaji di masjid dekat rumah dilanjut salat Isya dan Tarawih. Tarawihnya kedok aja sih sebenarnya, karena akhirnya aku malah main pukul-pukulan sarung dan kejar-kejaran dengan anak-anak lain.

Di jam sahur ada anak-anak yang keliling buat ngebangunin sahur. Aku ga pernah ikut karena orang tuaku ga sreg aku ikutan. 

Puasa sekarang emang ga serame dulu. Faktor umur kurasa. Setelah aku udah gede, aku ga bisa bermain-main sama teman kayak dulu. Ibuku juga udah tua dan sekarang sibuk ngurus bisnis, jadi masak-masak hebohnya udah ga ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *