Berantas TBC, Persyarikatan Muhammadiyah dan Kultur Jawa

  • Bagikan
KH Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah. (Foto: Istimewa)


Persyarikatan Muhammadiyah, sebagai organisasi Islam moderat di Indonesia, dalam bulan Dzulhijjah ini telah memperingati hari kelahirannya (milad). Tepatnya pada 8 Dzulhijjah 1442 H, merupakan Milad ke-112 Muhammadiyah.

Sejumlah ucapan tertuju pada ormas Islam yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini. Untuk memberikan refleksi, berikut merupakan renungan akan eksistensi Muhammadiyah:

Betapa kerasnya Muhammadiyah melakukan gerakan pemberantasan Tahayul, Bidah, dan Khurafat, yang biasa disingkat dengan “TBC” di masyarakat, bahkan tak jarang terjadi ketegangan antar pendukung gerakan dan masyarakat yang masih mengukuhi budaya tradisi dan Jawa. Kita bisa mendapati gambaran konflik tersebut dalam buku “Puritan & Sinkretis” karya Sutiyono yang disusun berdasarkan penelitian di Klaten Jawa Tengah untuk keperluan disertasinya.

Apakah Muhammadiyah sengaja didirikan untuk memusuhi budaya lokal, khususnya Jawa? Tida! Justru sebalilknya, generasi pertama persyarikatan ini sangat kental dengan kejawaan. Mereka mampu menyatukan tradisi dan budaya lokal dengan gerak langkah persyarikatan.

milad

Muhammadiyah dan Budaya Jawa

Pada zaman para pendirinya masing memegang kendali organisasi, kita mendapati wajah persyarikatan ini berbeda sama sekali dengan gambaran Sutiyono dalam buku di atas. Bahkan bisa dibilang Muhammadiyah sangat kental dengan tradisi dan budaya Jawa.

Najib Burhani, ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Tahun 2015-2020 menyebut Muhammdiyah pada generasi pertama, era generasi K. H. Ahmad Dahlan sebagai “Muhammadiyah Jawa” untuk menggambarkan betapa eratnya hubungan persyarikatan dengan budaya Jawa. Catatan Mas Najib dalam buku yang berjudul “Muhammadiyah Jawa” menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah bergeser jauh dari era saat para pendirinya masih hidup dengan praktik persyarikatan seperti yang digambarkan dalam penelitian Sutiyono.

Berikut gambaran relasi Muhammadiyah dengan tradisi dan budaya Jawa saat itu:

1. Menggunakan kalender Jawa jangkep/lengkap dengan pasaran Jawa (Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing);

2. Pada Kongres 1925, persyarikatan menggelar pertunjukan wayang yang oleh seorang orientalis bernama R. Kern disebut sangat sinkretik;

3. Pada saat al-Jizawi, seorang Shekh al-Azhar melarang penerjemahan Al-Quran dalam Bahasa asing, Muhammadiyah justru menerbitkan kitab suci itu dalam Bahasa Melayu dan Bahasa Jawa (aksara Jawa dan latin);

4. Pada Kongres ke-18 di Solo pada 1929, peserta konggres diwajibkan mengenakan pakaian tardisional daerahnya masin-masing; utusan dari Jawa yang mengikuti konggres diminta mengenakan setelan lengkap dengan keris, beskap, blangkon, dan kain batik;

5. Kepada para murid-muridnya, Kiai Dahlan juga membolehkan shalat menggunakan Bahasa Jawa bagi yang tidak menguasai Bahasa Arab;

6. Hebatnya lagi, Kiai Dahlan sendiri adalah orang yang bertugas memimpin gerebek (semacam sedekah bumi) yang diselenggarakan Keraton Kesultanan Yogyakarta pada peringatan Maulid Nabi, dll;

Praktik berislaman yang toleran terhadap tradisi dan budaya local seperti itulah yang membuat para anggota Boedi Oetomo, yang terdiri dari priyayi Jawa penganut teosofi dan agnostik tertarik kepada Muhammadiyah.

Pertanyaannya, sejak kapan Muhammadiyah mulai bergeser, bahkan berbeda sama sekali dengan praktik relasi Islam, budaya, dan tradisi yang dibangun para pendirinya? Tunggu tulisan berikutnya.

*) Dipetik dari akun facebook Makinuddin Samin dari judul awal “Muhammadiyah Jawa”.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *