Covid-19 dan Kita

DR KH As'ad Said Ali (Ilustrasi Kolom Khas: fa vidi/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Satu tahun lima bulan, dunia dan kita menghadapi pandemi Covid 19. Beberapa negara maju, mulai melepaskan diri dari ancaman virus maut karena mampu memproduksi vaksin. Sementara negara sedang berkembang terpaksa harus mengimpornya. Padahal vaksin vital dalam rangka menangkal virus. Jumlah produksi vaksin dunia juga terbatas belum mencukupi seluruh kebutuhan.

Kini di sekeliling kita beterbangan virus varian delta yang sangat cepat menular dan ganas. Dua minggu lalu saya diundang teman dekat untuk olahraga golf bersama 11 orang lain. Esoknya 10 orang terpapar (satu orang meninggal) kecuali saya dan pak Muhdi PR selamat. Pembawa virus salah seorang peserta, sekitar 10 menit berolahraga berhenti main, karena ditelpun isterinya mengabarkan hasil test Pcr dua hari sebelumnya hasilnya: positif.

Fenomena Kepanikan Masyarakat

Saya melihat gejala mulai timbul ketakutan dan kepanikan masyarakat di tengah situasi ekonomi yang sulit karena banyak yang terkena PHK. Setiap saat khalayak membicarakan ganasnya virus dan umumnya cenderung menimpakan kesalahan pada pemerintah dengan alasan “sekenanya”. Antrean panjang test virus terjadi di setiap klinik test, bahkan sampai pukul 10 malam saya melihat antrean panjang di klinik di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, suatu klinik test yang diperuntukkan warga yang kurang mampu.

Pemerintah telah memberi perhatian khusus dalam masalah ini dan tenaga medis telah bekerja sekuat tenaga dengan segala keterbatasan disertai pengorbanan, banyak tenaga medis wafat di tengah tugas.

Pada sisi lain ada kelompok masyarakat yang “berpikir negatif” yang berkampanye melalui medsos dan dari mulut ke mulut agar “jangan mau divaksin dan jangan mematuhi prokes”.

Asosial, Menolak Vaksi, Ultra-Kanan

Kelompok “asosial “ tersebut terpengaruh oleh Kaum Ultra Liberal atau Ultra Kanan, suatu aliran Neo-Liberalisme yang dikuti oleh mantan Presiden Donald Trump dan Presiden Brasilia Jair Bolsonaro. Kedua negara itu menderita korban Covid-19 paling besar karena pemimpinnya abai dan anggap enteng Covid-19.

Setelah Joe Biden menjadi Presiden AS awal tahun 2021 ini dan langsung mempercepat pembagian vaksin, hasilnya AS mulai melepaskan diri dari Covid-19.

Covid adalah masalah kita bersama, bukan hanya masalah pemerintah. Saya yakin pemerintah memahami bagaimana rentannya kondisi masyarakat sekarang ini dan tetap terbuka kritik dari masyarakat. Sebaliknya masyarakat juga perlu memahami kebijakan pemerintah dalam menghadapi Covid-19 di tengah situasi ekonomi sulit sebagai dampak dari perang dagang.

“Bersatu Kita Teguh, Bercerai Berai Kita Runtuh. Awas dan Waspada.

DR KH As’ad Said Ali

Pengamat Sosial Politik, tinggal di Jakarta.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.