Dalam Survei global, Lebih dari Separuh Anak Muda Yakin Perubahan Iklim Pemicu Kiamat

  • Bagikan


Tiga orang anak bermain di atas bongkahan es yang mencair di desa Napakiak, Alaska

Tiga orang anak bermain di atas bongkahan es yang mencair di desa Napakiak, Alaska, pada April 2019. Foto: Mark Ralston/AFP via Getty Images

Remaja 18 tahun yang akrab dipanggil Lichen dulu takut dengan akhir zaman, dan sepertinya kekhawatiran dia akan terwujud. Warga Hawaii ini tak siap menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Lichen bukan satu-satunya yang didera kecemasan itu.

Penelitian berskala besar yang belum lama terbit mengamati ketakutan anak muda terhadap krisis iklim. Temuannya menunjukkan, 45 persen anak muda berusia antara 16-25 mengaku kecemasan terkait perubahan iklim memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari. 

Hampir 60 persen dari 10.000 anak muda yang disurvei di 10 negara merasa “terkhianati” oleh respons pemerintah mereka yang lamban menghadapi perubahan iklim. Sebanyak 56 persen responden percaya peradaban manusia di ambang kehancuran, sedangkan 75 persen menganggap masa depan amat menakutkan.

Survei global, yang terbit di jurnal Lancet Planetary Health, merupakan proyek kolaborasi berbagai lembaga, termasuk University of Bath, Stanford Medicine Centre for Innovation in Global Health, Oxford Health NHS Foundation Trust.

Para penulis laporan menemukan, responden di negara-negara yang terdampak langsung oleh perubahan iklim cenderung lebih mengkhawatirkan masa depan dunia. Sebanyak 92 persen anak muda di Filipina merasa masa depan menakutkan, dibandingkan, misalnya Finlandia, yang hanya 56 persen.

HUMANITY.png

Sementara itu, generasi muda di Inggris dan Amerika Serikat memiliki tingkat ketidakpercayaan terhadap pemerintah yang lebih tinggi daripada di negara-negara seperti Nigeria dan India. Hanya 28 persen pemuda Inggris dan 21 persen anak muda Amerika yang masih percaya pemerintah bisa menyelamatkan planet — sedangkan 51 persen di India lebih memercayai pihak berwenang.

Para penulis menyebut kecemasan akibat perubahan iklim merupakan “pemicu stres yang tak terhindarkan”. Pola cuaca yang ekstrem dan tak menentu semakin membebani masyarakat secara psikologis.

Lichen “benar-benar takut” menyaksikan kebakaran hutan di negara asal ayahnya di Australia. Hal inilah yang menghantuinya saat masih muda.

“Saya sering melamun memikirkannya,” katanya kepada VICE World News melalui pesan Instagram. Dia bercita-cita menjadi jurnalis lingkungan saat dewasa nanti — profesi yang menurutnya bisa meredam kekalutan. 

Sukarelawan beristirahat di tengah kobaran api yang melahap hutan provinsi Mugla di Turki bulan lalu. Foto: Yasin Akgul/AFP via Getty Images

Sukarelawan beristirahat di tengah kobaran api yang melahap hutan provinsi Mugla di Turki bulan lalu. Foto: Yasin Akgul/AFP via Getty Images

Tapi bagi Malika, remaja 15 tahun dari Lebanon, kegelisahan yang muncul saat memikirkan kondisi planet memperburuk masalah kesehatan mentalnya. Dia masih ingat pernah terinfeksi virus akibat berenang di sebuah kali Lebanon yang tercemar semasa kecil dulu. Dia yakin sebagian disebabkan oleh kenangan buruk itu, serta kekhawatirannya terhadap lingkungan.

Malika selalu membahas tentang perubahan iklim dalam tugas sekolahnya, tapi dia merasa itu belum cukup. “Rasanya usaha saya masih sangat kecil, saya tidak punya pengaruh yang besar di dunia,” tuturnya. “Saya selalu mencemaskan apa yang akan terjadi di dunia ini. Apakah kita akan mati karena perubahan iklim? Setelah kita mati, akankah orang menderita?”

Caroline Hickman dari University of Bath merupakan salah satu penulis utama laporan. “Kecemasan anak-anak kita merupakan reaksi yang rasional mengingat mereka melihat pemerintah kurang tanggap menangani perubahan iklim. Apa lagi yang dibutuhkan pemerintah untuk mengambil tindakan?” tegasnya.

Sejumlah politikus telah berupaya mengatasi kecemasan iklim secara langsung, alih-alih mengambil tindakan nyata untuk membereskan masalah lingkungan. Bulan lalu, anggota parlemen Koalisi meminta Perdana Menteri Australia mendanai penempatan pendeta perubahan iklim di sekolah-sekolah. 

FUTURE.png

Namun, postingan media sosial menunjukkan belum banyak anak muda yang menyadari mereka mengalami “climate anxiety”. Para responden di Portugal, misalnya, merupakan kelompok yang paling mengkhawatirkan perubahan iklim. Kasus kebakaran hutan di negara itu meningkat tajam sejak 2017, tapi hanya segelintir yang membahasnya di media sosial seperti Instagram. Tagar berbahasa Portugis macam #ecoansiedade hanya memiliki 100 postingan, sedangkan #ansiedadeclimatica jauh lebih sedikit. Tagar #Ecoanxiety dalam bahasa Inggris bahkan hanya memiliki 14.000 postingan, sangat kecil jika dibandingkan dengan #anxiety yang mencapai 18 juta postingan. 

Sementara itu, tagar #climateanxiety telah ditonton lebih dari 500.000 kali. Alaina Wood, ilmuwan keberlanjutan yang juga kreator TikTok, mengaku khawatir melihat konten yang tersebar di aplikasi, khususnya tren nihilisme yang diikuti suara dari film Bo Burnham berjudul Inside. “Anak muda melihat video nihilisme ini dan percaya sudah terlambat bagi mereka untuk mengambil tindakan terkait krisis iklim, jadi mereka memutuskan untuk berhenti mengampanyekan aksi iklim,” terangnya. “Saya membuat beberapa video yang membahas kecemasan iklim dan menyanggah nihilisme iklim. Setiap hari ada yang mengucapkan terima kasih di komentar karena telah memberikan nama untuk perasaan mereka — kecemasan iklim.”

Apa saja tanda-tanda seseorang mengalami kecemasan terkait perubahan iklim? Megan Kennedy-Woodward dan Dr Patrick Kennedy-Williams merupakan co-founder Climate Psychologists, organisasi yang memberikan dukungan psikologis dan strategi komunikasi bagi mereka yang berkomitmen menyelamatkan Bumi. “Climate dan eco-anxiety menyelimuti berbagai emosi yang dipicu krisis iklim,” ujar Kennedy-Woodward. “Rasa bersalah, amrah, kesedihan, keputusasaan.”

“Itu bisa mengakibatkan hal-hal seperti penarikan diri secara sosial, [dan] sulit tidur atau berkonsentrasi. Secara klinis, kami bertujuan membantu orang tua yang memiliki anak-anak lebih muda untuk memulai obrolan bermakna dan produktif bersama mereka,” Kennedy-Williams menambahkan.

Kennedy-Woodward menganjurkan agar anak muda lebih merawat diri sendiri, dan puasa medsos atau berhenti membaca berita tentang perubahan iklim jika diperlukan. Harapannya ini bisa mengurangi kecemasan mereka. Dia juga menyarankan berkonsultasi ke tenaga profesional jika rasanya sudah tak tertahankan.

Penulis laporan berharap pemerintah segera menyadari kelalaian mereka dalam menangani krisis iklim telah memengaruhi kehidupan anak muda. Tak sepatutnya kita mengharapkan anak cucu menghadapinya sendirian.

“Wacana publik harus mendorong ekspresi perasaan terabaikan dan tidak dipedulikan yang digambarkan oleh 60 persen anak muda di survei ini,” ujar para penulis dalam laporannya. “Kami berpendapat kegagalan pemerintah dalam mengurangi, mencegah atau memitigasi perubahan iklim telah menyebabkan tekanan psikologis, cedera moral dan ketidakadilan.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *