Dampak Lonjakan Kasus Bangkalan, BOR RS di Surabaya Meningkat

Salah satu pengendara asal Madura mengikuti swab antigen di Posko Penyekatan Suramadu, Surabaya. (Foto: Fariz Yarbo/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mencatat terjadinya lonjakan kasus aktif terkonfirmasi virus corona atau Covid-19 yang tersebar di seluruh Rumah Sakit (RS) rujukan maupun RS Darurat Covid-19 di Kota Pahlawan.

Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya, Febridhitya Prajatara mengatakan, terhitung sejak 4 Juni 2021 sampai saat ini Bed Occupancy Rate (BOR) kamar isolasi sudah lebih dari 50 persen.

“Hari ini BOR kamar biasa 53 persen, terjadi peningkatan sekitar 32 persen. Kemudian ICU juga ada kenaikan sekitar 20 persen, jadi posisi ICU di rumah sakit rujukan Covid-19 sekarang 63 persen,” ujar Febri di ruang kerjanya, Senin 14 April 2021.

Berdasar hasil analisis dan evaluasi, peningkatan BOR ini dampak dari lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Kabupaten Bangkalan. Mengingat, Kota Surabaya menjadi penyangga untuk menampung pasien dari Bangkalan ketika rumah sakit di Bangkalan tidak bisa menampung.

Ia mengaku memang di Surabaya juga terjadi lonjakan kasus pasca Hari Raya Idul Fitri 1442 H namun tak begitu signifikan. “Keterangan Dinas Kesehatan ada efek lonjakan dari luar daerah Surabaya. Kalau dilihat bukan (dari Surabaya),” ujarnya.

Berdasar data, meningkatnya BOR ini juga ditambah upaya dari Pemkot Surabaya beramal jajaran Forkopimda Kota Surabaya yang kembali mengaktifkan lagi posko penyekatan di Suramadu, sekaligus screening swab antigen bagi seluruh kendaraan yang akan masuk Surabaya. Tercatat, sudah ratusan orang yang dinyatakan positif swab dengan metode PCR.

Menurutnya, penyekatan ini merupakan bentuk dukungan Pemkot Surabaya membantu untuk menghentikan sebaran kasus yang terjadi di Bangkalan agar tidak masuk ke Surabaya.

Seperti dikabarkan sebelumnya, terjadi lonjakan kasus Covid-19 di Bangkalan, tepatnya ada empat kecamatan yakni Kecamatan Bangkalan, Kecamatan Geger, Kecamatan Klampis, dan Kecamatan Arosbaya menjadi episentrum penyebaran. Dampaknya, keterbatasan RS di Bangkalan membuat beberapa fasilitas layanan kesehatan tutup dan dialihkan ke Surabaya.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.