Daulat Gula

  • Bagikan
Ilustrasi gula. (Grafis: Fa Vidhi/Ngopibareng.id)


Pemerintah mulai serius dengan urusan kedaulatan pangan. Presiden Joko Widodo menegaskan prioritas di bidang itu saat pidato kemerdekaan, 16 Agustus 2021 lalu.

Di lapangan, implementasinya mulai dijalankan. Seperti yang dilakukan PTPN Group. Holding BUMN perkebunan ini mendirikan perusahaan pabrik gula di hari kemerdekaan.

Namanya PT Sinergi Gula Nusantara (SGN). Inilah perusahaan beridentitas tunggal khusus produksi pemanis yang disukai semut itu. Yang dipisahkan dari bisnis perkebunan tebu. Biar lebih fokus.

Perusahaan baru itu dipegang Aris Toharisman. Tadinya Direktur PTPN X. Ia nanti yang memimpin perusahaan dengan 43 pabrik gula milik BUMN di seluruh Indonesia sekarang.

Sedangkan PTPN yng selama ini memproduksi gula fokus untuk menanam tebu. Tidak perlu memikirkan produksi gulanya. Jadi PTPN yang menyediakan bahan baku. PT SGN yang memproduksinya menjadi gula.

Ide ini sudah lama. Juga sudah berkali-kali disampaikan Dirut Holding PTPN III Mohammad Gani. Yang dalam kepemimpinannya giat melakukan transformasi dan restrukturisasi perusahaan plat merah ini.

Presiden Jokowi juga sudah lama gemes dengan urusan gula ini. Yang setiap tahun terjadi gejolak harga gula di masyarakat. Padahal, harganya sudah diatur oleh pemerintah.

Tapi hukum pasar yang terjadi di lapangan. Selalu terjadi lonjakan harga di saat pasokan terbatas. Yang produksi kita sendiri belum bisa memenuhi kebutuhan gula secara keseluruhan.

Apalagi sudah puluhan tahun sejumlah pedagang gula menguasai bahan pokok ini. Yang dikenal dengan sebutan para Samurai. Para pedagang besar yang bisa mendikte harga gula di pasar.

PTPN gula belum mampu memasok keseluruhan. Rata-rata produksi nasional gula hanya 2 juta ton lebih. Pada tahun 2020, produksi gula nasional baru 2,3 juta ton. Itu produksi dari total pabrik gula, baik milik BUMN maupun swasta.

Jumlah produksi tersebut jelas masih jauh dari panggang api kebutuhan gula nasional, yakni 7,1 juta ton. Ini menggambarkan bahwa untuk menuju kedaulatan pangan, khususnya gula, masih perlu kerja keras.

Sebagai gambaran, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, diperlukan pasokan dalam negeri 3,9 juta ton untuk memenuhi target swasembada. Nah bagaimana bisa mencapai hal ini?

Inilah yang membuat PTPN Holding melakukan transformasi bisnis. Dengan membentuk Sugar Co yang diberi nama PT SGN. Yang secara khusus berkonsentrasi menangani produksi gula dalam negeri.

Lewat langkah korporasi ini, seluruh pabrik gula d ibawah pabrik gula akan di-spin off. Pemisahan bisnis dan sebagian kekayaan untuk entitas perusahaan baru. Jika dulu PTPN gula menangani hulu dan hilir, maka hilirnya yang akan dipisahkan.

Dengan hadirnya PT SGN, diharapkan upaya mendongkrak produksi gula nasional menjadi lebih terarah. Sementara PTPN gula yang ada selama ini lebih fokus untuk menangani tanam tebu di lahan milik sendiri maupun milik rakyat.

Tentu transformasi perusahaan gula milik BUMN ini memerlukan perjuangan keras. Sebab, secara internal PTPN gula selama ini mempunyai beban warisan yang tidak ringan. Mulai beban hutang sampai dengan kultural.

Jika beban-beban tersebut bisa diatasi dengan spin off ini, saya yakin kedaulatan gula bagi bangsa ini bukan hanya impian. Setidaknya BUMN bisa menjadi penjaga ketahanan pangan gula sekaligus menjadi pemain utama dalam negeri.

Saya pernah berkeliling ke sejumlah pabrik gula milik pemerintah China. Itu sepuluh tahun lalu. Negeri dengan penduduk besar tersebut juga sedang membenahi pabrik gulanya. Caranya bagaimana?

Mereka mematikan pabrik gulanya yang kapasitas produksinya di bawah 20 ribu TCD alias Ton Cane per Day. Sehingga menjadikan pabrik skala besar itu makin efisien. Juga membenahi pola tanam mulai dari pembibitan sampai kualitas tebunya.

Dalam praktiknya, dengan beragam pabrik gula milik BUMN selama ini, terjadi “perang” antar mereka dalam perebutan bahan baku. Belum lagi harus bertarung dengan pabrik gula swasta mempunyai kemampuan cashflow lebih kuat karena mengolah gula impor.

Saya pun menganggap langkah korporasi BUMN gula ini sangat strategis. Setidaknya akan lebih mampu mengkonsolidasikan aset-aset pabrik yang bertebaran menjadi pabrik besar yang lebih efisien. Tidak saling memakan antar saudara sendiri.

Nah bisakah perusahaan baru yang merupakan hasil spin off pabrik gula seluruh PTPN di Indonesia ini memenuhi target produksi 3,7 juta ton sesuai target swasembada gula? “Bisa,” jawab Direktur PT SGN Aris Toharisman.

Apalagi kalau langkah korporasi PTPN Holding ini diikuti dengan kebijakan pemerintah sebagai pemegang sahamnya. Kebijakan untuk menjadikan PT SGN sebagai pelaksana program kedaulatan gula mendatang. Dengan memberi penugasan untuk juga mengolah gula impor secara proporsional.

Dalam hal mengolah gula impor, selama ini BUMN Gula masih terkesan menjadi anak tiri. Ia dituntut untuk membina petani, tapi tidak mendapat asupan cukup dalam kuota gula impor. Pabrik gula swasta malah yang mendapat reward banyak dalam kuota.

Rasanya masih diperlukan sinergi yang lebih kuat antara BUMN Gula dengan pemerintah sebagai pemegang sahamnya. Selain memperbaiki kinerja dengan berbagai langkah korporasi, diperlukan kebijakan khusus berupa penugasan mengolah gula impor secara proporsional.

Jika ini dilakukan, kedaulatan pangan di bidang kebutuan bahan pokok gula pasti akan jadi kenyataan. Tentu ini menjadi tugas kita bersama.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *