Demi Bebaskan Rekannya, ISIS Ledakkan Mobil Dekat Dinding Penjara di Suriah

[ad_1]

ISIS Ledakkan Mobil Dekat Dinding Penjara di Suriah Berhasil Bebaskan Ratusan Teroris

Penjara Ghuwayran di Suriah dibom oleh milisi ISIS untuk membebaskan rekannya. Sumber foto arsip SYRIAN OBSERVATORY FOR HUMAN RIGHTS

Prajurit organisasi teroris Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dikabarkan berhasil kabur dalam jumlah yang belum diketahui, dari penjara di Kota Hasakah, kawasan timur laut Suriah. Para tahanan berbahaya yang selama ini mendekam dalam penjara Ghuwayran, yang dikelola otoritas keamanan etnis Kurdi setempat, dikhawatirkan berhasil kabur.

ISIS meledakkan bom mobil dekat dinding penjara untuk membebaskan rekan-rekannya. Insiden itu terjadi pada 22 Januari, dini hari waktu setempat. Selama ini Penjara Ghuwayran menahan setidaknya 3.500 jihadis yang terafiliasi dengan ISIS.

Serangan itu memang berhasil membebaskan sebagian tahanan, namun teroris rekan mereka ikut terbunuh. Lembaga pemantau isu HAM di Suriah melaporkan sebanyak 18 sipir dan 40 anggota ISIS tewas karena ledakan bom mobil berkekuatan besar tersebut. Jumlah teroris khilafah yang berhasil kabur ditaksir mencapai ratusan orang.

Pasukan Keamanan Kurdi (SDF), milisi sipil dari etnis minoritas di Suriah dan Irak yang didukung Amerika Serikat, mengklaim bila upaya kabur tersebut berhasil mereka redam. “Pasukan kami berhasil menangkap kembali 89 militan yang kabur dari penjara di Hasakah,” ujar juru bicara SDF, Farhad Shami, lewat keterangan tertulis.

Setelah ledakan bom terjadi, sebagian tahanan dilaporkan membakar kasur dalam sel untuk memicu kekacauan lebih lanjut. Di tengah suasana kalut, sebagian menyerang sipir untuk merebut senjata mereka.

Karena ada yang berhasil kabur membawa senjata, baku tembak dilaporkan terjadi di kawasan al-Zohour, kota tetangga Hasakah, sepanjang akhir pekan lalu. Hingga artikel ini dilansir, SDF terus memburu para militan yang kabur dan berusaha bergabung kembali dengan jaringan teror lamanya.

ISIS sebetulnya secara de-facto sudah berhasil dikalahkan di Suriah sejak 2019. Pasukan Kurdi menjadi yang paling aktif meringkus militan ISIS, dengan menahan lebih dari 12 ribu anggotanya. Belasan ribu napi teroris itu berasal dari 50 negara berbeda, termasuk Indonesia. Mayoritas negara enggan menerima kembali militan ISIS yang sejak awal membuang kewarganegaraan mereka demi bergabung dengan proyek khilafah.

Adapun jaringan ISIS yang masih bebas berkeliaran kini berkomunikasi dengan cara sembunyi-sembunyi. Petingginya diyakini memiliki markas di Pegunungan Harmin, Irak, untuk memerintahkan penyerangan atau aksi teror. Komunikasi antar teroris juga rutin dijalankan lewat aplikasi Telegram.

ISIS, sekalipun sudah tak lagi menguasai wilayah luas seperti pada masa jayanya, masih rutin melancarkan aksi teror. Di hari yang sama dengan serangan penjara Suriah, belasan prajurit ISIS menyerang pangkalan militer Diyala, menewaskan 11 tentara Irak.

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.