Viral  

Desainer Ini Rancang Busana Muslim Terinspirasi Makam Peneleh

Busana muslim bertajuk "Langit di Atas Peneleh" karya desainer Nuniek Mawardi. (Foto: Istimewa)


Inspirasi fashion bisa datang dari mana saja. Hal inilah yang ditunjukkan oleh desainer Nuniek Mawardi dalam rancangan busananya yang bertajuk “Langit di Atas Peneleh”.

Rancangan busana desainer senior asal Bandung ini menggambarkan langit-langit yang ada di atas Makam Peneleh Surabaya. Makam Peneleh merupakan salah satu makam Belanda tertua dan juga kawasan heritage di Surabaya.

Dalam merancang busana yang terinspirasi dari Makam Peneleh ini, Nuniek sebelumnya melakukan riset selama satu bulan terlebih dahulu.

“Awalnya saya melakukan riset terlebih dahulu bahwa Makam Peneleh ini dibangun pada abad ke-18. Dimana era itu banyak menggunakan art deco yang berbentuk geometris dan art nouveau yang berbentuk sulir-sulir, dua motif ini banyak digunakan pada bangunan Makam Peneleh,” ucap Nuniek ditemui di Tunjungan Plaza Surabaya.

Busana bertajuk “Langit di Atas Peneleh” Karya Nuniek Mawardi. (Foto: Istimewa)

Lalu pada batu nisan Makam Peneleh ini, ujar Nuniek, ada relief yang bentuknya segi empat. Bentuk segi empat ini ia aplikasikan dalam bentuk origami pada muslim wear rancangannya.

“Di bagian depan rancangan baju saya, ada origami berbentuk segi empat. Ini melambangkan bentuk segi empat yang ada di relief batu nisan Makam Peneleh,” jelasnya.

Sementara untuk motif geometris pada bajunya juga memiliki makna tersendiri ungkap Nuniek. Motif garis-garis geometri yang terlihat pada busana memiliki arti bahwa kehidupan di dunia cepat sekali berjalan.

“Jadi di dunia ini tidak ada yang abadi. Bagaimana kita mempersiapkan dalam perjalanan di dunia ini untuk kehidupan yang lebih baik lagi nantinya,” imbuh Nuniek.

Menariknya, tidak seperti rancangan muslim wear pada umumnya. Busana rancangan Nuniek ini dilengkapi penutup kelapa yang terinspirasi dari cungkup-cungkup Makam Peneleh.

Rancangan busana muslim wear ini juga dipadukan dengan batik gedog Tuban. Batik Gedog Tuban dipilih karena memiliki unsur sustainable dalam pembuatannya.

“Pembuatan Batik Gedog Tuban ini ditenun dari kapas yang ditanam sendiri oleh para petani Tuban. Setelah ditenun baru dijadikan kain dan dibatik. Selain itu, ciri khas dari batik gedog Tuban ialah memiliki warna kusam karena menggunakan pewarna alami dari tanaman,” urainya.

Mengapa terinspirasi makam untuk rancangan busananya? Nuniek menyebut, lewat rancangan busana ini dirinya ingin menghargai yang meninggal dan memberikan edukasi masyarakat bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja.

“Inspirasi itu bisa didapat dari mana saja, bukan dari internet, apa lagi kita nyontek orang. Tapi inspirasi bisa datang dari sekitar kita sekalipun itu bangunan makam,” tandasnya.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *