Di Desa Unik Ini, Manusia Bisa Hidup Berdampingan dengan Macan Tutul

[ad_1]

Terselip di antara padang pasir Rajasthan, India utara, daerah perbukitan Jawai menyimpan sejuta keajaiban alam. Tak hanya memiliki bendungan terbesar di negara bagian tersebut, daerah ini juga terkenal sebagai tempat berkembang biak ratusan spesies burung migran. Gua-gua yang terbentuk dari aliran lava jutaan tahun lalu bersembunyi di balik lanskap bukit granit.

Kelebihan lain daerah ini adalah populasi macan tutulnya yang amat berlimpah. Menurut perkiraan penduduk setempat, ada sekitar 66-100 ekor macan tutul yang berkeliaran di Jawai. Kemungkinan berpapasan dengan kucing besar di tengah jalan pun sangat tinggi. “Bukit Macan Tutul” ini jelas peluang bisnis yang menggiurkan bagi sektor pariwisata.

Di sepanjang perjalanan wisata safari yang menegangkan, sesekali kamu akan menemui laki-laki bersorban merah menggembalakan ternak dengan santai. Sama sekali tak terlihat raut ketakutan di wajah mereka, bahkan saat macan tutul lewat di sampingnya. Sang predator juga seperti tidak tertarik dengan manusia di dekatnya.

Itu bukanlah pemandangan aneh di sana, terlebih karena macan tutul sudah lama hidup berdampingan dengan suku Rabari. Keharmonisan tersebut semakin menambah daya tarik wisata.

Rabari berarti “orang luar” dalam bahasa lokal Marwari, yang menggambarkan statusnya sebagai suku semi-nomaden asal Iran yang bermigrasi melalui Afghanistan ribuan tahun silam. Mereka menyembah Dewa Syiwa, salah satu dari tiga dewa utama dalam agama Hindu. Oleh karenanya, tak mengherankan apabila motif macan tutul kerap muncul dalam gambar dan berhala Dewa Syiwa.

Berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan India yang dirilis tahun lalu, populasi macan tutul di negara itu melonjak 63 persen dalam empat tahun terakhir. Menariknya, dari sekitar 13.000 ekor macan tutul yang berkeliaran di alam bebas, jarang sekali terjadi serangan terhadap manusia.

Untuk mengenal lebih dalam suku Rabari, saya mengikuti keseharian Bhikaram Dewasi menggiring 150 ekor kambingnya di padang rumput setiap pagi. Perjalanannya relatif tenang, terlepas dari kenyataan ada macan tutul bersembunyi di sekitar kami. “Kami jarang bertemu macan tutul di siang hari,” tutur lelaki 66 tahun itu. “Macan tutul tidak berani menyerang kambing dan sapi yang digiring gembala Rabari.”

Bhikaram lupa kapan terakhir kali macan tutul menikam orang Rabari. Menurut National Geographic, serangan macan tutul di wilayah ini terjadi sekitar 20 tahun lalu.

Setelah cukup jauh berjalan, kami beristirahat di dekat kolam dangkal sementara ternak miliknya melepas dahaga di tengah panasnya bulan Maret. Air kolam yang mengering, ditambah pemandangan gersang di sekitarnya, menjadi pertanda musim kemarau yang keras telah nampak di depan mata.

“Yang terpenting, jangan pernah mengganggu macan tutul, kecuali jika hewan itu menyerang ternak kami,” ungkapnya saat ditanya mengapa orang-orang sepertinya bisa hidup berdampingan dengan kucing besar.

Pemerintah setempat dikabarkan telah menyiapkan kompensasi untuk para warga yang diserang macan tutul. Namun, tak ada data resmi yang menjabarkan jumlah insiden di daerah tersebut. Uang ganti rugi yang diterima juga tidak seberapa — rata-rata Rs 4.951 (Rp932 ribu) jika yang diserang hewan ternak, Rs 6.892 (Rp1,3 juta) untuk korban cedera, dan sekitar Rp46 juta jika serangan macan tutul menewaskan manusia. Belum lagi, proses pengajuannya cukup rumit.

Gembala Rabari harus menemukan lokasi tepat hewan ternak diserang, yang berarti bisa saja membawa mereka sampai ke sarang macan tutul. Seandainya mereka berhasil menemukan bangkai ternak, langkah selanjutnya adalah memfoto barang bukti untuk diserahkan ke departemen kehutanan setempat.

“Kebanyakan peternak Rabari, seperti ayah saya, tidak punya ponsel,” kata Hartnaram, putra Bhikaram yang bekerja di departemen pelayanan resor Bijapur Lodge, terletak pada jarak yang aman dari inti Bukit Macan Tutul. Bagaimana mereka bisa menunjukkan bukti kalau gadget saja tidak ada? 

Hartnaram masih ingat saat umurnya baru 10 tahun, dia menyaksikan sang ayah mengusir macan tutul dengan tangan kosong.

“[Kehidupan harmonis] ini tidak terjadi begitu saja,” ujarnya, menekankan upaya masyarakat untuk menjaga kedamaian. “Kami tidak pernah membuat suara-suara berisik yang bisa mengganggu kucing besar. Kami tidak menyalakan kembang api saat perayaan Diwali, dan juga musik kencang saat pesta pernikahan.”

Namun, bagi antropolog Radhika Govindrajan di University of Washington, keharmonisan hubungan manusia dengan binatang buas semacam ini diromantisasi secara berlebihan oleh publik.

“Ada berbagai alasan mengapa komunitas merasa seperti menemukan kesamaan dengan macan tutul,” terang Govindrajan, yang mempelajari hubungan manusia-macan tutul di daerah perbukitan Uttarakhand. “Terkadang, mereka mengalami penindasan yang serupa, dalam artian baik macan tutul maupun anggota suku menjadi korban eksploitasi pihak luar. Tapi ada juga yang marah karena pemerintah dinilai lebih menghargai kehidupan satwa dibandingkan kesejahteraan mereka.”

Govindrajan menyebut gelombang kapitalisme telah merayap hingga ke Negeri Macan Tutul, yang semakin menambah kesengsaraan warga yang selama ini kurang mendapat perlindungan.

Hal ini juga membawa kabar buruk bagi populasi kucing besar. Jumlahnya mungkin meningkat di India, tapi tetap ada ancaman nyata yang mengintai macan tutul. Penelitian menunjukkan, risiko kepunahan macan tutul di India utara meningkat jadi 83 persen dengan bertambahnya pembangunan jalan. Studi lebih lanjut mengidentifikasi macan tutul sebagai hewan yang paling terancam punah dalam 50 tahun ke depan jika tren hewan mati tertabrak kendaraan terus berlanjut.

Selama perjalanan saya ke lima titik Bukit Macan Tutul, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri bukti-bukti nyata kapitalisme di daerah tersebut. Resor berdiri megah di atas bukit, dengan taman dan kolam renang cantik yang menghadap langsung ke hutan belantara. Tempat penginapan semacam ini biasanya menjanjikan sensasi hidup di alam bebas dan berdampingan dengan macan tutul. Namun, pengunjung menikmatinya dari kenyamanan resor yang penuh proteksi, tak seperti suku Rabari yang bersinggungan langsung dengan predator.

Resor-resor itu mendapatkan perlindungan hukum, padahal bukan termasuk taman nasional atau suaka margasatwa. Pembangunan tempat penginapan mewah menjadi bagian dari Project Leopard, yang disebut-sebut bertujuan melestarikan populasi macan tutul.

Dengan membeli sebidang tanah dari penduduk setempat, pengelola resor bisa menebang pohon demi memperluas cakupan wisata mereka. Ironisnya, anggota suku Rabari, yang secara tidak langsung gaya hidupnya menjadi bahan tontonan wisatawan, tidak menerima jaminan upah minimum atau akses prioritas ke sumber daya hutan.

Govindrajan berpandangan koeksistensi anggota suku Rabari dan macan tutul yang terlalu diromantisasi terbukti merugikan kedua belah pihak. “Manusia terhubung dengan hewan karena saling berbagi kehidupan. Sejarah mereka terjalin erat dan selalu berubah.” 

Dia menganggap glorifikasi yang berlebihan telah mengabaikan pahitnya realitas hidup suku Rabari. Para turis datang bukan untuk merasakan langsung seperti apa kehidupan penduduk setempat, melainkan sibuk memotret “keharmonisan” manusia dengan macan tutul.

“Apakah tempat-tempat penginapan ini membantu masyarakat secara substansial? Apa saja inisiatif pendidikan dan finansial yang diterima anggota suku Rabari? Akankah pemerintah negara bagian memperbaiki kebijakan kompensasi mereka? Kita perlu mempertanyakan hal-hal ini,” jelasnya. “Asumsi macan tutul selamanya hidup berdampingan dengan suku Rabari menghapus dan meniadakan kesengsaraan hidup mereka.”

Follow Arman Khan di Instagram.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.