Dokter Muslim Jadi Sosok di Balik Kesuksesan Cangkok Jantung Babi ke Manusia

[ad_1]

Sewaktu kecil dulu, Dr. Muhammad Mohiuddin akan diomeli ibunya kalau tidak sengaja menyebut “babi”. Dia sampai harus berkumur-kumur karena sudah berkata kasar. 

“Babi istilah terlarang di rumah kami,” kenang lelaki itu, yang tumbuh besar di lingkungan Muslim di Ibu Kota Karachi, Pakistan.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, Mohiuddin memelopori teknik transplantasi jantung babi ke tubuh manusia. Dia telah membawa kabar baik bagi dunia kedokteran di minggu pertama Januari 2022. Pasalnya, rumah sakit tempatnya bekerja, University of Maryland Medical Center (UMMC), sukses mencangkok organ babi ke manusia.

Bersama Bartley P. Griffith, direktur transplantasi jantung UMMC, Mohiuddin bersusah payah menyelamatkan pasiennya menggunakan jantung babi yang telah dimodifikasi secara genetik didukung obat imunosupresif langka. Mereka memperoleh organ tersebut dari perusahaan bioteknologi Revivicor di Swedia.

Lelaki 57 tahun yang menerima cangkok jantung babi kini dalam proses pemulihan.

Metode “xenotransplantation” berpotensi menjadi solusi pasokan organ yang amat terbatas, khususnya di negara-negara seperti Amerika Serikat yang calon penerima donornya mencapai ratusan ribu orang.

“Hampir 150.000 nyawa hilang di Amerika setiap tahunnya karena tidak menerima donor organ. Kamu bisa membayangkan betapa banyak nyawa yang hilang di seluruh dunia karenanya,” ujar Mohiuddin. “Kami bisa menyelamatkan banyak nyawa jika teknik ini berhasil.”

Mohiuddin mengambil ilmu kedokteran di Dow Medical College, Pakistan, untuk mewujudkan cita-citanya sebagai ahli bedah kardiotoraks. Pada 1992, dia mengikuti program fellowship di University of Pennsylvania, AS. Selama waktunya di sana, sang mentor mengarahkannya untuk mendalami penelitian transplantasi.

Gurunya meyakinkan, dia bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa jika metodenya berhasil. Merasa termotivasi, Mohiuddin akhirnya menyeriusi bidang xenotransplantation, yang melibatkan cangkok organ binatang pada tubuh manusia.

“Sering kali saya berpikir tidak mau melanjutkan ini. Jauh di benakku, saya tak yakin bisa mewujudkan xenotransplantation karena banyaknya masalah yang menghadang,” ungkap Mohiuddin.

Kesuksesan timnya saat ini bisa diraih setelah mencicipi berbagai kegagalan. Tubuh pasien tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan sejak menjalani cangkok jantung 16 hari lalu. 

Sebagai Muslim yang taat, Mohiuddin sering perang batin selama 30 tahun meneliti jenis transplantasi ini. Diharamkan agama, babi kerap diasosiasikan dengan hal-hal kotor oleh umat Muslim di Pakistan.

“Keluarga sangat menentang keputusan ini. Ayah sering bertanya, ‘Kenapa harus binatang itu? Memangnya tidak bisa pakai binatang lain?’” tuturnya.

Tim Mohiuddin sebetulnya telah mencoba alternatif lain, tapi organ babi merupakan pilihan ideal untuk ini. Banyak komponen genetik yang terbukti dapat meningkatkan peluang kesuksesannya. 

“Kami memanipulasi gen babi hingga menyerupai imunologi pada tubuh manusia. Kami hanya mengubah gen untuk menunda penolakan [organ], jadi tidak benar-benar mengubahnya hingga mirip organ manusia,” terang Mohiuddin. “Jadi seperti transplantasi organ manusia yang masih membutuhkan obat. Tubuh pasien mungkin takkan menerima organ cangkok jika kami tidak melakukan itu.”

Berhubung transplantasi jantung babi dilakukan di negara Barat, Mohiuddin dan rekan-rekan tidak menerima reaksi keras dari masyarakat. “Saya tinggal di negara yang mewajarkan konsumsi daging babi, sehingga metode ini tak pernah menjadi masalah etika. Jauh lebih mudah untuk mewujudkannya di sini,” lanjutnya.

Akan tetapi, penolakan dari keluarga dan ajaran yang dia yakini sejak kecil membuatnya sempat diliputi keraguan. “Saya berusaha menjadi Muslim yang taat, sehingga selalu ada kekhawatiran jauh di lubuk hati. Dulu saya sering mencari-cari alasan kenapa harus tetap menggunakan babi untuk transplantasi.”

Setelah berkonsultasi ke sana-kemari dan mendengar pendapat para ulama, dia pun menarik kesimpulan: “Tak ada yang lebih mulia di hadapan Allah SWT selain menyelamatkan nyawa manusia.” 

Namun, tantangan tak berhenti sampai di situ. Metode xenotransplantation yang dikembangkan Mohiuddin memerlukan campuran hormon unik dan sejumlah dosis kokain guna mencegah penolakan. Penggunaan kokain jelas mengundang perhatian BPOM di Amerika Serikat.

“Saat membaca kokain, orang-orang langsung berpikir, ‘Kenapa bisa ada kokain di sini?’” katanya.

Diperoleh dari perusahaan Swedia XVIVO, obatnya mengandung sekitar 10 hormon, termasuk kortisol dan adrenalin. Campuran ini dapat memperpanjang kelangsungan hidup jantung hingga 24 jam selama perjalanan. Di masa lalu, kondisi jantung cangkok cepat memburuk selama di perjalanan, yang akhirnya mengurangi kemampuan berfungsi dengan baik pasca operasi. 

Belum diketahui secara ilmiah mengapa campuran kokain dan larutan hormon dapat mempertahankan kondisi jantung yang akan didonor, tapi uji coba Mohiuddin membuktikan cara tersebut efektif mencegah gagal jantung selama prosedur pencangkokkan.

“Kami mengalami kegagalan dalam kurun 48 jam saat tidak menggunakan larutan ini. Tapi begitu kami menyuntikkannya ke dalam jantung, kualitas organ terjaga dan bisa berdetak dengan baik,” terangnya.

Setelah melalui proses yang panjang, tim dokter akhirnya menerima persetujuan untuk mengimpor kokain demi kepentingan operasi. “Cukup merepotkan sebenarnya, tapi ini hal yang biasa saat mengimpor zat-zat yang dikendalikan pemerintah.”

Mohiuddin merekomendasikan penggunaan luas larutan kokain dalam metode transplantasi lain. “Ini akan menjadi kemajuan besar jika badan regulasi negara mengizinkan prosesnya, mengingat sulit mendapatkan jantung dalam rentang 2-3 jam. Dengan cara ini, kita bisa mencari jantung cangkok dari negara bagian lain.”

Follow Rimal Farrukh di Twitter.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.