Festival Jalur Rempah, Bangun Ekosistem Budaya Rempah

  • Bagikan
Workshop Jalur Rempah titik simpul Jawa Timur. (Foto: Deni Lukmantara/Ngopibareng.id)


Workshop edukasi Sejarah Jalur Rempah, mulai digelar di Ayola hotel Sunrise Mall Kota Mojokerto, Senin 1 November 2021. Fokus dari program kali ini adalah mengangkat narasi Jalur Rempah melalui berbagai acara budaya yang diproduksi langsung di 13 titik Jalur Rempah.

Kegiatan Workshop ini digelar selama tiga hari dengan mendatangkan komunitas seni dan budaya dari wilayah Jawa Timur. Seperti hari ini diikuti komunitas seni dan budaya dari Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Lamongan, Madiun, Magetan dan Jember.

Workshop edukasi sejarah jalur rempah dengan tema “Rempah Masa Depan Kita” ini juga sebagai pembukaan festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia, yang digelar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerjasama dengan Pemerintah Kota Mojokerto.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun ekosistem budaya rempah dari hulu hingga hilir. Muhibah Budaya dan Festival Jalur Rempah yang disiapkan sebagai Warisan Budaya ini, dapat memperkuat diplomasi dan meneguhkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Muhibah Budaya merupakan pelayaran menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Dewa Ruci dan kapal latih Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut. Kapal-kapal tersebut membawa 79 pemuda pemudi pilihan dari 34 provinsi untuk napak tilas jalur rempah Nusantara.

Pelayaran ini akan menyusuri titik-titk Jalur Rempah Nusantara di antaranya terdapat 13 titik yang dipilih. Rangkaian kunjungan ke 13 belas titik penting dimulai pada 17 Agustus 2021 dan berakhir pada 28 Oktober 2021.

Tiga belas titik itu dimulai dari Banda Neira, Ternate, Makassar, Banjarmasin, Tanjung Uban-Pulau Bintan, Belawan, Lhokseumawe-Banda Aceh, Padang, Banten, Jakarta, Semarang, Benoa, dan berakhir Surabaya.

“Kita awalnya bikin perjalanan ke 13 titik dengan sebuah kapal KRI Dewa Rici milik angkatan laut. Yang mengisi perjalanan itu adalah anak-anak Laskar rempah yang dipilih dari setiap Pemda dari 34 provinsi yang mengirim 5 anak terbaiknya melalui sebuah penyaringan,” kata direktur kreatif dari Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia, Rama Soeprapto, kepada wartawan.

Laskar Rempah, menurut Rama, adalah garda depan untuk mewartakan keberagaman budaya nusantara yang selama ini dipersatukan melalui kehangatan rempah-rempah.

Dari tiga belas titik itu mempunyai ciri-ciri kas yang beda dengan sejarah rempahnya. Menurut dia, Presiden Joko Widodo mengutamakan pengangkatan UMKM yang dibawa oleh emak-emak.

“Perjalanan jalur rempah ini panjang keterikatan semua komunitas dan terutama Pemda, juga UPT, BPCB, BPMD yang di bawah naungan Dirjen kebudayaan ini semua bergerak, tapi bagi saya yang harus bergerak adalah Komunitas. Jokowi sebagai presiden mengangkat UMKM yang dibawa ibu-ibu, jadi mikro ekonomis. Saya kalau melihat ibu-ibu UMKM tidak jauh dari rempah,” jelasnya.

Sejarah mencatat, rempah bukan sekadar komoditi, namun membawa nilai (value) dan gaya hidup (lifestyle) untuk peradaban global. Begitu pentingnya rempah-rempah dalam kehidupan manusia sehingga ia menjadi penghela perkembangan ekonomi, sosial budaya, dan politik dalam skala lokal dan global.

Para pedagang mempertaruhkan nyawa dan kekayaannya untuk memasarkannya; juru masak meramunya untuk melezatkan hidangan; para tabib ahli kesehatan meraciknya untuk pengobatan; para raja mengirim ekspedisi mengarungi samudra untuk mendapatkannya; diplomasi demi diplomasi dirajut; hubungan antar manusia menjadi global dan sejarah peradaban manusia dibangun.

Untuk diketahui, Pemkot Mojokerto bersama BPCB Jawa Timur menggelar Festival Bumi Rempah Nusantara Untuk Dunia, yang akan digelar selama tiga hari mulai 1 hingga 3 November 2021.

Festival Jalur Rempah Titik Simpul Jawa Timur tahun 2021 ini mengusung tema “Rempah untuk Masa Depan”.

Banyak acara yang bakal disuguhkan dalam pagelaran festival ini di antaranya, Workshop 5 Pilar Rempah di Hotel Ayola Sunrise Mall Kota Mojokerto, yang mendatangkan berbagai narasumber, salah satunya Sejarawan Majapahit.

Kemudian pameran Komoditi Rempah serta Diskusi Praktisi Rempah di Rumah Rakyat Kota Mojokerto.

Yang menarik acara ini akan ditutup dengan Festival Perahu Naga di Kali Brantas pada 3 November. Beberapa perahu naga bakal menyusuri sungai Brantas yang akan mengambil start di Jembatan Rejoto Kota Mojokerto. Banyak juga hiburan yang digelar, seperti Wayang Beber, Musik Keroncong dan Akustik.

Acara ini tentu bakal digelar dengan mengedepankan protokol kesehatan Covid 19 yang ketat.

Berikut susunan acara yang bakal digelar :

1. Workshop Lima Pilar Rempah, Tanggal 1 s.d 3 November 2021.

2. Pameran Komoditi Rempah, Tanggal 2 s.d 3 November 2021.

3. Diskusi Praktisi Rempah, Tanggal 2 s.d 3 November 2021.

4. Festival Perahu Naga, Susur Sungai Brantas (Penutupan) Tanggal 3 November 2021.

Seluruh kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *