Foto Wajahku Dipakai Ratusan Iklan di Berbagai Negara Tanpa Sepengetahuanku

  • Bagikan


kisah Shubnum Khan jadi model stok foto untuk iklan di seluruh dunia tanpa persetujuannya

Semua foto oleh Shubnum Khan

Kamu sedang mengejar deadline, tapi temanmu tiba-tiba mengirim tautan ke sebuah postingan Facebook. Katanya kamu muncul dalam iklan yang mempromosikan program imigrasi ke Kanada. Dinding Facebook-mu juga dipenuhi pertanyaan serupa dari teman-teman yang melihat iklan tersebut.

Kamu mulai melakukan pencarian gambar terbalik di Google, dan terkejut bukan main melihat hasil yang muncul. Kamu pernah merekomendasikan krim pemutih di Turki, jualan karpet di New York, makan burger di McDonald’s Cina, menawarkan paket wisata ke Kamboja, dan bahkan mengajak orang imigrasi ke Uruguay dan Kanada.

Bisa dibilang, kamu bintang iklan yang terkenal. Berbagai macam produk telah memakai wajahmu. Tapi masalahnya, kamu tak pernah sama sekali mendapatkan tawaran untuk menjadi bintang iklan. Kamu tidak mendapat bayaran sama sekali.

Begitulah kira-kira kisah Shubnum Khan, penulis dan ilustrator yang tinggal di Durban, Afrika Selatan. Perempuan 32 tahun itu baru menyadari kenyataan jutaan orang mungkin telah melihat wajahnya pada 2012, ketika dia menemukan iklan dari Kanada. Foto Khan dipakai tanpa persetujuannya. Dia pun mendokumentasikan pengalaman kurang mengenakkan ini dalam buku berjudul How I Accidentally Became a Global Stock Photo: And Other Strange and Wonderful Stories (Pan Macmillan India).

“Saya mudah gugup,” ungkapnya kepada VICE. “Ketika saya mengetahui sejauh mana foto saya digunakan secara global, saya terlalu gugup untuk mengonfrontasi fotografernya.”

Saat masih kuliah dulu, Khan dan teman-temannya mendaftarkan diri untuk sesi pemotretan sukarela yang digadang-gadang merupakan proyek seni. Mereka menemukan informasi tentang “100 Real Faces Project” di Facebook. Khan memeriksa siapa fotografernya, dan menemukan orang itu sudah berpengalaman di dunia fotografi. Kapan lagi bisa difoto fotografer profesional, batinnya. Dia berpikir fotonya tidak akan dijadikan apa-apa.

“Sebelum sesi pemotretan, kami diminta menandatangani formulir yang tampak biasa saja,” tutur Khan. “Tak ada satu pun yang memberi tahu foto kami akan dijadikan stok foto. Saya hanya disuruh melakukan tiga pose — wajah bahagia, datar dan ‘konyol’.”

Wajah Khan tiba-tiba menjadi duta program imigrasi Kanada dua tahun kemudian. Sepekan berikutnya, dia dan teman-temannya membuat postingan yang menuntut kejelasan dari fotografer. Orang itu berkilah menandatangani formulir berarti mereka telah menyetujui syarat dan ketentuan pemotretan. Formulir itu, yang mereka tanda tangani tanpa pikir panjang, mengandung detail dalam bahasa yang tidak jelas.

Pada 2018, Khan membuat twit bersambung yang menjelaskan peristiwa tersebut. Dia mengungkapkan keterkejutannya saat mengetahui wajahnya sering dijadikan iklan. Utas tersebut viral di Twitter.  Monica Lewinsky bahkan me-retweet postingan Khan, menyebutnya “utas menarik tentang pencurian identitas melalui manipulasi.”

Permintaan wawancara mulai berdatangan. Teman-teman Khan bahkan memanggilnya “perempuan paling menarik sedunia”.

“Tapi tak ada satu pun yang saya dapat dari situ,” ujarnya. “Fotografer tidak membayar saya, dan satu-satunya yang saya peroleh dari permintaan wawancara adalah kelelahan luar biasa. Banyak yang berkomentar saya cuma pengin tenar. Tapi apa yang bisa saya lakukan dengan semua publisitas ini? Kerugiannya sudah terjadi.”

Beberapa bulan kemudian, Khan mempelajari kasusnya bukan sekali dua kali. Ternyata bukan fotografer itu saja yang etika profesionalnya patut dipertanyakan.

Iklan real estate yang menggunakan wajah Shubnum Khan

“Awalnya tampak konyol. Saya tidak terlalu memikirkannya,” Khan menerangkan. “Tapi foto saya diubah secara digital untuk iklan pigmentasi kulit, dan saya memberikan testimoni untuk produk kehamilan sensitif dan bersalin yang tak pernah saya gunakan. Saat itulah perempuan berkulit cokelat lainnya, yang mengalami hal serupa, mendekatiku [untuk menceritakan pengalaman mereka]. Saya pun menyadari fotografer kulit putih secara global sudah lama memanfaatkan perempuan berkulit cokelat dengan cara ini.”

Keluarga Khan memahami situasinya. Kejadian ini benar-benar aneh, dan dia bersyukur orang tua menanganinya dengan baik. Tapi secara pribadi, dia tak menyangka hal seperti ini bisa terjadi. 

“Jika saya harus waras, penting bagi saya untuk memercayai ini tidak mungkin terjadi kepada saya,” katanya. “Terlalu nyata untuk membayangkan wajah saya terpampang di gerai McDonald’s di Cina, atau saya perempuan yang sedang mencari ‘lelaki ideal’ di situs kencan berbahasa Prancis di Maroko. Saya menjadi ‘Bonny Seg’ yang menjelajahi Kamboja, dan ‘Kelsie’ dari Arizona yang mengiklankan vila keluarga. Daftar itu tidak ada habisnya. Tapi kemudian saya memisahkan diri dari citra dan semua karakter itu. Mungkin kalau saya benar-benar pernah mengunjungi negara-negara tersebut, dampaknya pada saya akan sangat berbeda.”

Khan menganggap dengan menceritakan pengalamannya sekarang, dia bisa “merebut kembali ruang” yang telah direbut darinya selama ini.

“Nama dan kisah saya berbeda-beda di iklan. Tapi Shubnum yang asli bukanlah mereka. Ini cara saya mengambil alih kisah hidup saya dengan kata-kata saya sendiri,” simpulnya.

Follow Arman Khan di Instagram.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *