Giliran Warga Kalijudan Tolak Gedung SD Sebagi Tempat Isolasi

Gedung SDN Kalijudan I yang bakal dijadikan sebagai tempat isolasi (Foto: Andhi Dwi/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya merencanakan SDN Kalijudan I dijadikan sebagai tempat isolasi pasien Covid-19. Namun, rencana tersebut tak bisa berjalan mulus. Pasalnya, warga sekitar menolak rencana dari Pemerintah Kota Surabaya tersebut.

Sejumlah warga terlihat mendatangi Kantor Kelurahan Kalijudan, pada Minggu, 25 Juli 2021, siang. Mereka bertemu dengan Lurah Kalijudan, LPMK dan Bhabinsa setempat, untuk mediasi atas rencana tersebut.

Salah satu warga setempat, Sandra mengaku tidak mendapatkan sosialisasi penggunaan SDN Kalijudan I sebagai tempat isolasi dari pejabat setempat. Bahkan dia mengetahui informasi itu dari penjual makanan sekitar.

“Saya loh setahun nggak keluar rumah. Ini malah seenaknya sendiri didekatkan sama Covid-19. Nggak mungkin seminggu dua minggu ini ditempatkannya. Anak SD belum vaksin,” kata Sandra.

Sandra pun menolak penggunaan bangunan tersebur sebagai tempat isolasi pasien Covid-19. Sebab, selain kurangnya sosialisasi dari pejabat, hal ini juga berdampak ke anaknya.

“Lokasi SDN Kalijudan sangat dekat dengan permukiman warga. Kami juga memikirkan dampak kesehatan siswa SDN Kalijudan yang nantinya akan belajar di gedung tersebut,” jelas dia.

Sementara itu, Lurah Kalijudan, Yongki Kuspriyanto Wibowo berjanji kepada masyarakat, dalam waktu dekat, dirinya bakal memangil Dinas Lingkungan Hidup dan DKRTH.

Yongki mengatakan, Dinas Lingkungan Hidup dan DKRTH bakal menjelaskan kepada masyarakat setempat mengenai Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), terkait penggunaan gedung sebagai tempat isolasi.

“Rencananya, hari Senin, 26 Juli 2021, besok langsung ketemu DLH dan DKRTH,” kata Yongki.

Yongki mengungkapkan, sejumlah 4 ruangan di SDN Kalijudan I telah dipersiapkan sebagai tempat isolasi. Nantinya lokasi tersebut digunakan sebagai tempat karantina sementara untuk menunggu hasil PCR.

“Kira-kira ada 32 warga yang bisa ditampung. Satu ruangan ada 8 bed. Jadi saat PCR positif, langsung dibawa ke rumah sakit. Ini bukan rumah sakit,” jelasnya.

Sebelumnya, warga Jalan Baratajaya, Gunungsari, serta Gubeng melakukan hal serupa pada, Jumat, 25 Juli 2021. Mereka menolak penggunaan sekolah dasar setempat sebagai tempat isolasi.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.