Go to Hell with Your Aids!

Otak dengkul, suatu ilustrasi

[ad_1]

Selalu ada kata olok-olok bagi pengusaha Indonesia yang lazim: modal dengkul. Tanpa mengeluarkan modal, tapi mampu menguasai kapital. Ah, tapi humor kali ini bukan soal modal, meskipun sama-sama mengambil kata “dengkul”.

Lalu nanti dilanjut dengan orasi sejarawan, yang terkesan berbusa-busa hingga menimbulkan tawa. Ah, tak usah bertele-tela ya. Mari kita nikmati saja lelucon politik yang ini.

Otak di Dengkul

Suatu hari seorang pejabat Indonesia mengalami kecelakaan mobil ketika ingin menghadiri rapat. Mobilnya slip di jalan. Ketika itu pula sang pejabat dibawa ke sebuah rumah sakit.

Setelah tiga hari dirawat, si pejabat belum juga sadar dari pingsannya. Sedangkan si sopir sudah siuman. Padahal ia mengalami luka yang cukup parah.

Seminggu sudah terlewati. Namun si pejabat belum juga sadar. Padahal luka yang dialami tidak terlalu parah. Para dokter pun kelimpungan dibuatnya.

Akhirnya para dokter di tengah-tengah kekelimpungan itu, mereka memutuskan bahwa si pejabat “gegar otak”.

Mendengar hal ini para kerabat dan teman-temannya merasa heran. Karena yang mereka lihat, luka yang diderita tidaklah parah. Hanya ada luka kecil di wilayah dengkul.

Namun, ada salah seorang temannya di masa kecil yang ingat bahwa ibu dari pejabat itu pernah memarahinya seraya berkata, “Dasar Otak ditaruh di dengkul, sih!”

Ah, tentu ini bukan modal dengkul, lho!…

Kalau Indonesia Malah Menang?

Konon Bappenas (Badan Perancang Pembangunan Nasional) pada tahun 1966, saat rezim militer Orba lahir, pernah mengadakan seminar tentang politik luar negeri kita setelah Presiden Sukarno diturunkan. Apakah akan meneruskan politik konfrontasi dengan Barat atau mengambil jalan berdamai.

“Kita harus bukan hanya menyerukan ‘Go to Hell with Your Aids ‘ Tetapi juga berperang secara militer dengan Amerika Serikat”, ujar seorang sejarawan.

Lho!

“Sejarah telah membuktikan, Jerman dan Jepang yang kalah berperang habis-habisan dengan AS akhirnya akan dibantu bangkit menjadi negara maju dan kaya. Kita dapat menjadi negara maju ketiga”, lanjutnya menguraikan alasan.

Usul pakar sejarah tersebut menjadi bahan perdebatan ramai.

Jenderal Soeharto dan kalangan militer menolak keras usulan perang itu sehingga ditempuhlah jalan berdamai dengan Barat. Jubir dari Mabes menjelaskan alasannya:”Bukan kami takut perang. Dengan bambu runcing kita telah mengusir penjajah. Bapak-bapak hanya berpikir dengan satu skenario kita kalah. Padahal kami yakin dapat mengalahkan Amerika !”



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.