Guru Lecehkan Murid Pakai Kedok Nilai Jelek, Lalu Ancam Sebar Videonya

  • Bagikan



Sidra* selalu mendapat nilai jelek selama satu semester. Sementara teman sekelas dengan santai meninggalkan ruang kelas, dia diliputi rasa takut mengecewakan kedua orang tua. Ditambah lagi, guru memintanya untuk tidak langsung pulang karena ingin membicarakan sesuatu.

Perempuan 18 tahun itu tak kuasa menahan air mata ketika sang guru menutup pintu kelas dan berjalan ke arahnya. Dia ditegur habis-habisan karena nilainya tidak pernah bagus.

“Dia meneriaki saya dan membuatku menangis. Dia bilang saya telah merusak masa depan. Ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah dan dia mulai tersenyum. Dia bilang bisa membantu saya memperbaiki nilai asal mau melakukan sesuatu untuknya,” Sidra membeberkan kisahnya kepada VICE World News. “Dia mendekatiku bahkan sebelum saya sempat memikirkan jawaban. Saya tidak bisa memercayai apa yang telah terjadi.”

Insidennya terjadi di Ibu Kota Islamabad, Pakistan.

Tak berhenti sampai di situ saja, sang guru mulai memaksa Sidra untuk datang ke rumahnya. “Katanya jika tidak datang, dia akan memberi tahu orang tua kalau saya menggodanya. Dia mengancam akan menyebarkan video,” lanjutnya.

Dia tidak sendirian. Sepanjang tahun ini, sedikitnya ada setengah lusin kasus kekerasan seksual serupa yang dilaporkan media lokal Pakistan, yang para pelakunya memiliki kekuasaan di lembaga pendidikan. Mereka merekam aksinya mencabuli murid atau pegawai sekolah, lalu menjadikan video untuk menutup mulut korban. Para ahli mengatakan lonjakan kasus dipicu oleh rasa malu untuk melapor, otoritas yang tak terkendali di sekolah-sekolah Pakistan, dan kemudahan mengakses alat-alat yang dimanfaatkan untuk mengancam korban.

“Ada banyak insiden dilaporkan di berbagai kota dan institusi yang kalian ketahui, di mana pegawai mengancam dan melecehkan murid dan guru. Kami telah melihat peningkatan besar dalam hal ini. Dulu sebelum ada teknologi komunikasi informasi, kasusnya tidak dilaporkan. Tapi pengaduan meningkat secara eksponensial karena kejahatan siber sangat aktif sekarang,” terang pejabat kejahatan siber yang meminta agar identitasnya dirahasiakan karena tidak memiliki wewenang untuk berbicara kepada media.

Pekan lalu, guru di kota Sukkur dibekuk polisi atas dugaan pemerkosaan dan pengancaman. Seminggu sebelumnya, di awal Oktober, pemilik sekolah swasta di kota Dera Ghazi Khan ditangkap karena melecehkan murid perempuan sambil merekam tindakannya. Kasus ini terungkap setelah video tersebar di media sosial. April lalu, pihak berwajib menahan guru seminari yang dituduh merekam pelecehan seksual yang dia lakukan terhadap lima muridnya di kota Chakwal, provinsi Punjab.

Untuk kasus kekerasan seksual seperti yang dialami Sidra, korban biasanya diancam akan dikeluarkan dari sekolah atau tidak naik kelas apabila mereka mengadu. Video yang direkam pelaku membuat kondisi mereka semakin terpojok. Pelajar yang menceritakan kejadiannya kepada orang tua kerap dibungkam oleh stigma sosial.

Meskipun tidak ada jumlah pasti berapa kasus kekerasan seksual dan pemerasan yang terjadi di lembaga pendidikan, Sayap Kejahatan Siber Badan Investigasi Federal Pakistan menyebutkan ada lebih dari 3.000 kasus pemerasan online yang dilaporkan sepanjang 2020 saja. Organisasi nirlaba perlindungan anak Sahil mengungkapkan 24 kasus pelecehan anak yang melibatkan guru dilaporkan pada 2020.

Dinamika kekuasaan yang tidak seimbang di dunia akademik menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjadinya pelecehan dan pemaksaan.

“Jika penyintas melaporkan pelecehan yang dilakukan guru, kami memperhatikan mereka ragu untuk mendatangi tata usaha atau mengadu karena khawatir tata usaha akan berpihak pada guru dan mengeluarkan mereka dari sekolah,” ungkap Ali Aftab yang bekerja untuk lembaga nirlaba reformasi pendidikan Zindagi Trust.

“Ketakutan akan dampaknya menjadi salah satu hambatan terbesar bagi siswa untuk melaporkan kasus pelecehan. Masalahnya lebih buruk di sektor pendidikan tinggi, yang para dosennya memiliki tingkat kekuasaan yang jauh lebih signifikan,” imbuhnya.

Menurut psikolog, memfilmkan kekerasan seksual termasuk ciri-ciri psikopat. Selain untuk membuat korban tidak berkutik, pelaku memanfaatkan video untuk mengenang kembali kejahatan mereka. “Pelaku memiliki mentalitas suka menyebarkan teror dan menciptakan cap unik untuk kejahatan yang mereka lakukan. Psikopat sangat menikmati itu,” psikolog klinis Qudsia Tariq menjelaskan kepada VICE World News.

Di lingkungan sekolah, pelaku bisa dengan mudahnya menyerang murid yang rentan. Aftab mengutarakan kurangnya program perlindungan anak dan pendidikan seks yang tepat dapat membuat kasus pelecehan semakin tidak terkendali.

Walaupun tingkat pelaporan kekerasan relatif telah mengalami peningkatan, sejumlah besar penyintas belum berani mendatangi penegak hukum. Dari 20 video yang tersebar di Dera Ghazi Khan, tak ada satu pun penyintas yang lapor polisi.

“Mereka enggan melapor demi melindungi kehormatan,” wakil inspektur polisi kota Dera Ghazi Khan Rehan-ul-Rasool memberi tahu VICE World News.

“Meski banyak anak muda yang melapor, ada tantangan besar yang dihadapi perempuan — sekali pun sudah ada banyak petugas dan dewan penasihat perempuan. Para penyintas, terutama yang masih berlatar belakang tradisional, takut akan reaksi yang mereka terima di rumah,” kata pejabat kejahatan siber.

Sidra baru berani mengadukan tindakan guru ke orang tua lima bulan kemudian. Namun, ayah ibunya memutuskan untuk tidak lapor polisi dan hanya memberi uang tutup mulut kepada sang pelaku. Pelecehan yang dialami Sidra mungkin telah berakhir, tapi pemerasannya bisa saja terjadi lagi.

“Saya tak pernah bisa menyingkirkan video-video itu dari ingatan. Apa yang akan terjadi kalau uang orang tua sudah habis? Kita seharusnya lapor polisi saja,” tutur Sidra.

Dengan meningkatnya kasus pelecehan di dunia pendidikan, semakin banyak orang tua yang khawatir memasukkan anak — termasuk putri — mereka ke sekolah.

“Saya ingin putriku menjadi sosok yang mandiri. Saya ingin dia menjalani hidup dengan percaya diri dan belajar untuk menjadi orang sukses. Tapi sekarang saya harus mengubur mimpi itu. Saya takkan lagi memasukkannya ke sekolah setelah apa yang terjadi di sana,” ujar ayah Sidra.

*Nama telah diubah untuk melindungi keselamatan narasumber.

Follow Rimal Farrukh di Twitter.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *