Gus Yahya Ketua Umum PBNU, Siapa Sekjennya?

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staqut bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, melapor usai bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu 29 Desember 2021 di Gedung PBNU Jakarta. (Foto: Istimewa)

[ad_1]

Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung telah menetapkan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU 2021-2026. Ia akan mengendalikan Ormas Islam terbesar di dunia itu bersama Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

Lantas siapa yang akan menjadi Sekretaris Jenderal PBNU dalam kepengurusan Gus Yahya –panggilan akrab KH Yahya Cholil Staquf? Ini yang sekarang sedang ditunggu para pengurus wilayah, cabang, dan warga Nahdliyin.

Sampai saat ini, Gus Yahya belum memberikan isyarat siapa yang akan dia pilih dalam menjalankan roda organisasi. Muktamar memberikan waktu sebulan untuk Rais Aam dan Ketum PBNU terpilih untuk melengkapi kepengurusan.

Toh demikian, banyak nama telah disodorkan dan diperbincangkan di media untuk menduduki kursi Sekjen PBNU. Misalnya, Asrorun Ni’am Saleh, Saifullah Yusuf, Nusron Wahid, Prof Dr Mohammad Nuh dan Abdussalam Shohib.

Lantas siapa sebenarnya sosok di atas sehingga dianggap layak menjadi orang kedua di Tanfidziyah PBNU? Apa saja kiprah dan perannya selama ini?

Prof Mohammad Nuh. (Foto: Istimewa)
Prof Mohammad Nuh. (Foto: Istimewa)

1. Mohammad Nuh

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyita perhatian publik karena berhasil memimoin sidang penting selama Muktamar. Gayanya yang kalem dianggap ikut menyejukkn suasan muktamar NU.

Sebagai Ketua Komite Pengarah (Steering Committee), M Nuh tampil begitu piawai ketika memimpin Sidang I terkait Tata Terbib dalam muktamar itu. Meski sempat tegang karena pelbagai protes dari peserta, tapi kecakapan mantan Rektor Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) ini mampu memadamkan api amarah dari seorang peserta.

M Nuh selalu tampil didampingi Katib PBNU Asrorun Niam Soleh, dipilih menjadi Sekretaris SC. Demikian pula ada saat-saat Sidang Komisi III dan IV saat pemilihan ketua umum PBNU. M Nuh menjadi figur yang menjadi tumpuan yang bisa bersikap netral dalam ‘perayaan demokrasi’ di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Dengan penuh pesona, M Nuh pun merasa terenyuh menyaksikan langsung pemilihan ketua umum yang berlangsung dua putaran itu.

“Kita menyaksikan bersama, pemilihan ketua umum PBNU berlangsung sangat demokratis. Lebih dari itu, tata nilai kesantrian, ketawadhuan seseorang pada yang lebih sepuh tetap terjaga,” tutur M Nuh, yang juga Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSIS).

Atas dasar fakta itu, peluang M Nuh untuk duduk di jajaran Kepengursan PBNU. Adakah Sekretaris Jenderal PBNU, ataukah sebagai Wakil Ketua Umum PBNU, agaknya masih ditunggu pengumuman pada saatnya.

Asrorun Ni'am Sholeh. (Foto:dok/Ngopibareng.id)
Asrorun Ni’am Sholeh. (Foto:dok/Ngopibareng.id)

2. Asrorun Ni’am Sholeh

Sekretaris Komite Pengarah (Steering Committee) Muktamar ke-34 NU, Asrorun Ni’am Sholeh selalu menarik perhatian. Pernyataan-pernyataannya selalu memberi pehamanan dari waktu ke waktu menjelang pelaksanaan perhelatan puncak NU di Lampung itu.

Dari kalangan Ikatan Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IKA IPNU) mengharap figur Ansrorun Niam sebagai menjadi bagian dalam proses perubahan kepemimpinan di PBNU.

Regenerasi perlu dilakukan. Maka, peluang Asrorun Ni’am Sholeh cukup terbuka.

Namun, ada yang menilai ia terlalu “mengkiai” sehingga kurang tepat bila untuk posisi yang selalu harus bersikap tega dan membawa suara organisasi sebesar Nahdlatul Ulama.

Ketua IKA IPNU Jawa Timur, Muzammil Syafi’i menjagokan figur Asrorun Ni’am sebagai Sekjen PBNU menyampaikan pandangannya soal sosok di Sekjen PBNU.

“Saya kira yang layak diangkat jadi Sekjen itu Asrorun Ni’am Sholeh. Pada saat Muktamar 34 sudah bisa kita lihat kapabilitasnya sebagai Sekretaris SC bersama Prof M Nuh, berangkat dari bawah dI IPNU sampai menduduki jabatan strategis termasuk dI MUI. Semoga Gus Yahya melihat dengan jernih bukan sekadar bagi-bagi jabatan atau kompensasi pada mereka yang telah berbuat terutama sekali para pendekar,” tutur politisi Nasdem ini.

Dalam perjalanan hidup, Asrorun Ni’am memadukan antara gerakan dan konsep – sebagai aktivis sekaligus juga konseptor. Kepeduliannya terhadap, ia juga membangun sekolah untuk anak-anak. Kader NU kelahiran Ngajuk 31 Mei 1976, menjadi aktivis sejak zaman mahasiswa pada 1998. Ia menjabat sebagai Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta . Ia terlibat dalam sejarah perubahan dan peralihan rezim kekuasaan dari Orde Baru ke Orde Reformasi.

Banyak rekannya yang menjadi aktivis politik setelah menamatkan S1 mereka, namun Ni’am malah kembali ke kampus dan menempuh pendidikan pascasarjana ke Al-Azhar Mesir pada umurnya yang ke 23 tahun.

Saat masih duduk di bangku kuliah, ia dan rekan-rekannya mendirikan forum kajian Lembaga Studi Agama dan Sosial (elSAS), yang bergerak di bidang pengkajian dan penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan kreativitas anak bangsa di bidang agama, sosial, politik, dan budaya Indonesia.

Selain itu, Asrorun Ni’am juga mendirikan lembaga pendidikan bagi anak-anak yang secara akademik potensial dengan nama Al-Nahdlah Islamic Boarding School yang terletak di Depok. Lembaga ini memiliki tujuan mulia yang diharapkan dapat memberikan kesempatan pendidikan untuk anak anak di pedesaan.

Pada tahun 2005, Asrorun Ni’am mulai terlibat di dalam penyusunan kebijakan yang terkait dengan pendidikan, termasuk di dalamnya pendidikan anak, dalam kapasitasnya sebagai Tenaga Ahli di Komisi X DPR RI. Komisi ini membidangi masalah pendidikan, olahraga dan kepemudaan, kebudayaan dan pariwisata serta perpustakaan. Bidang ini sesuai dengan pengalaman Ni’am. Ia pernah terlibat langsung menjadi Koordinator Tim Ahli pengawasan pelaksanaan UU Sisdiknas, Koordinator Tim Ahli penyusunan UU Perpustakaan dan UU Perfilman.

Karier Ni’am makin naik. Ia menjadi wakil ketua KPAI dan Ketua Divisi Sosialisasi selama 1 periode dan puncaknya penulis buku “Fikih Anak, Perlindungan Anak dalam Perspektif Islam” ini dipercayai menjadi Ketua KPAI periode 2014-2017.

Asrorun Ni’am pun dikenal aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia ditunjuk sebagai Ketua MUI Bidang Fatwa, yang kerap menjelaskan soal hasil-hasil keputusan dan Fatwa MUI di bawah kepemimpinan Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar.

H Saifullah Yusuf. (Foto: Dok/Ngopibareng.Id)
H Saifullah Yusuf. (Foto: Dok/Ngopibareng.Id)

3. Saifullah Yusuf

Seorang di antara yang menjadi bintang media menjelang digelar Muktamar ke-34 NU adalah H Saifullah Yusuf. Meneguk keteguhan dari ajaran Gus Dur, Gus Ipul — panggilan akrabnya — gigih dalam memperjuangkan gagasan dan pendapatnya. Keberhasilan pun tak akan menghentikan ia untuk menyuarakan perbaikan-perbaikan di masyarakat.

Drs. H. Saifullah Yusuf, kader NU yang cukup populer sejak era Reformasi. Lahir 28 Agustus 1964, dikenal sebagai birokrat dan politisi yang menjabat sebagai Wali Kota Pasuruan sejak 26 Februari 2021.

Sebelumnya, Gus Ipul pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur sejak 12 Februari 2009 hingga 12 Februari 2019.

Ia pernah menjabat sebagai Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal pada Kabinet Indonesia Bersatu dari Oktober 2004 hingga Mei 2007. Salah satu pencapaiannya adalah dia tercatat sebagai Menteri yang paling sering “blusukan” di daerah-daerah tertinggal.

Saifullah Yusuf terpilih sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur mendampingi Soekarwo dalam pemilu kepala daerah dan wakil kepala daerah Provinsi Jawa Timur yang diselenggarakan selama dua putaran (putaran pertama tanggal 23 Juli 2008 dan putaran kedua tanggal 4 November 2008) serta pemilihan ulang putaran kedua di Kabupaten Bangkalan dan Kabupaten Sampang tanggal 21 Januari 2009.

Pelantikannya dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2009 oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto.

Setelah memenangi Pilgub Jatim 2013, Gus Ipul kembali mendampingi Soekarwo sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur dilantik kembali pada 12 Februari 2014 di Gedung Negara Grahadi, Jawa Timur oleh Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. Pelantikan keduanya dihadiri seluruh bupati/wali kota se-Jawa Timur, menteri-menteri di Kabinet Indonesia Bersatu II, gubernur-gubernur, dan tokoh masyarakat Jawa Timur.

Gus Ipul –demikian biasa dipanggil– salah seorang yang dijuluki pendekar muktamar oleh Gus Yahya. Itu disampaikan Ketua Umum PBNU pengganti KH Said Aqil Siradj ini saat pidato penutupan muktamar.

Gus Ipul dikenal sebagai panglima lapangan dalam muktamar NU Lampung. Ia menjadi tokoh kunci dalam konsolidasi dukungan bagi kubu regenerasi NU. Lincah dalam menggalang lobi dan dikenal dekat dengan banyak kiai sepuh.

Nusron Wahid. (Foto: Dok/Ngopibareng.id)
Nusron Wahid. (Foto: Dok/Ngopibareng.id)

4. Nusron Wahid

Meski nama Nusron Wahid begitu populer selama ini, dalam perhelatan Muktamar ke-34 NU di Lampung, tidak banyak diketahui. Tapi, secara intens ia hadir dalam momen sidang komisi dalam muktamar.

Nama Nusron Wahid mulai dikenal setelah terpilih sebagai Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor pada Januari 2011. Pengalaman atas kepemimpinan dalam organisasi kepemudaan di NU, dinilai layak duduk di Sekjen PBNU.

Ia kader yang gesit dalam bertindak dan mampu memberi hujjah-hujjah (argumentasi) nilai-nilai alaran Ahlussunnah waljamaah (sebagaimana diperjuangkan NU). Itu sebagai pembuktian ketika digembleng sejak SMA Islam Al Ma’ruf Kudus, MTS Qutsiyyah Kauman Menara Kudus dan MI Miftahutthalibin Mejobo Kudus.

Nusron Wahid yang lahir di Kudus 12 Oktober 1971, dipercaya kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) masa Presiden Joko Widodo.

Nusron adalah politikus Golkar asal Kudus, namun pada Pemilu 2014, Nusron “membelot” dengan memberikan dukungan kepada pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, bukannya pada Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang diusung partainya. Meski sudah dipecat dari DPP Partai Golkar, Nusron hingga sekarang masih menjadi kader Golkar.

Diduga, kedekatannya dengan Kalla-lah yang akhirnya menjadikannya kepala BNP2TKI. Nusron adalah satu-satunya anggota aktif Partai Golkar di kabinet Jokowi.

Nusron Wahid memulai karirnya di Senayan sebagai politikus setelah berhasil memenangkan Dapil Kudus. Dengan dukungan dari 13.157 suara, Nusron menjabat sebagai anggota komisi VI di DPR RI untuk periode 2009-2014.

Di komisi ini, ia bertugas sebagai pengawas kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi, UKM dan BUMN, dan standarisasi nasional.

Semasa di Komisi VI, Nusron dikenal kerap mengkritik kebijakan privatisasi dan restrukturisasi BUMN.

Selain ranah ekonomi, Sarjana Sastra di Universitas Indonesia ini pun memperkuat kaderisasi anggotanya untuk mempersiapkan kader-kader penerus di organisasinya tersebut. Selain itu, Majelis Dzikir juga ditingkatkan keberadaannya oleh Nusron Wahid.

KH Abdussalam Shohib. (Foto: Dok/Ngopibareng.id)
KH Abdussalam Shohib. (Foto: Dok/Ngopibareng.id)

5. Abdussalam Shohib

KH Abdussalam Shohib, mewarisi semangat kakeknya, KH Bisri Syansuri (Rais Aam PBNU 1971-1980). Gus Salam — panggilaran putra KH Shohib Bisri ini –, kini Pengasuh Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Jombang.

Di Pesantren Denanyar — yang termasuk salah satu yang legendaris di Jombang — ini, Gus Salam menujukkan kepemimpinannya berorganisasi.

Ia pernah aktif di Gerakan Pemuda Ansor, kini Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (WPNU) Jawa Timur. Alumni Pondok Pesantren Ploso, Kediri, menjadi figur yang tak banyak omong menjelang Muktamar ke-34 NU di Lampung.

Tapi, ia justru yang melakukan pelbagai komunikasi sosial guna menyelamatkan keputusan para masyayikh NU Jawa Timur, yang mengarahkan pilihan pada figur Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

Gus Salam adalaah figur yang dipercaya sebagai benteng pertahanan nilai Ahlussunnah Waljamaah. Ketuas Bidang Pengkaderan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKNU) dan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) bagi calon-calon pemimpin di pelbagai tingkatan di PWNU Jawa Timur.

Ketegasannya bersikap dan ketepatan bertindak, menjadi harapan atas kepemimpinan NU di masa mendatang. Dalam kondisi pandemi Covid-19, Gus Salam gigih dalam memosisikan pondok pesantren sebagai pertahanan dalam menjaga moral kaum santri.

“Kami punya ajaran sami’na wa-ta’na (mendengar dan menaati) sebagai bagian dari pendidikan adab dan moral kaum santri. Jadi, justru di masa pendidikan daring dan online, pengajaran di pesantren tetap berlangsung dengan aman saat pandemi,” tuturnya.

Meski pernah disebut berpeluang duduk di Sekjen PBNU, tapi agaknya hal itu bukan orientasi utama bagi cucu Kiai Bisri Syansuri ini. Ia terlebih dulu berpeluang menjadi figur penting di wilayah yang menjadi barometer NU di Indonesia: Jawa Timur.

Gus Salam pun diperkuat dengan kehadiran figur-figur kiai muda, seperti KH Reza Ahmad Zahid (Pengasuh Pesantren Al-Masruriyah Lirboyo), KH Abdurohman Al-Kautsar (Gus Kautsar, Pondok Pesantren Ploso Kediri) dan figur kiai muda lainnya.

Apalagi, komunikasi yang apik dengan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, agaknya menjadi hubungan harmonis jajaran PBNU dan PWNU Jawa Timur di tangan Gus Salam. Tapi, lagi-lagi, peluangnya menjadi Sekjen PBNU masih menunggu keputusan resmi tentang Susunan Kepengurusan PBNU periode 2022-2026 yang kini tengah digodok mandataris Muktamar ke-34 NU di Lampung: Rais Am PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staqut.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.