Hati-hati Keracunan Makanan, Ini Pemicunya

  • Bagikan
Ilustrasi sakit perut. (Foto: Istimewa)


Keracunan makanan merupakan salah satu gangguan sistem pencernaan. Seseorang rentan keracunan sehabis mengonsumsi makanan atau minuman yang tidak steril. Misalnya makanan di pinggir jalan yang lokasi dan cara mengolahnya belum terjamin benar-benar bersih.

Makanan-makanan ini dapat dicemari oleh kuman, entah itu bakteri, virus, maupun parasit dari lingkungan sekitar. Salah satu contohnya air kotor yang kemudian dipakai untuk mencuci bahan makanan atau peralatan masaknya.

Anda juga dapat mengalami keracunan apabila makanan yang Anda makan disiapkan dan diolah dengan tangan orang yang membawa kuman penyebabnya. Misalnya orang tersebut habis BAB tapi tidak cuci tangan dan langsung lanjut memasak.

Jenis makanan yang Anda makan pun dapat memicu keracunan apabila tidak diolah dengan tepat. Beberapa hidangan yang rentan menyebabkan keracunan antara lain salad sayur atau buah yang mentah, susu mentah (non-pasteurisasi), daging mentah, dan makanan lainnya yang dimasak tidak matang.

Secara umum, keracunan makanan bukanlah kondisi yang serius dan dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, kondisi tersebut terkadang juga dapat membahayakan dan membutuhkan penanganan khusus oleh dokter.

Penyebab Keracunan

1. Bakteri

Bakteri merupakan salah satu penyebab keracunan yang paling umum. Setiap jenis bakteri bisa menimbulkan gejala dengan tingkat keparahan yang berbeda.

2. Virus

Norovirus dapat menginfeksi dalam kurun waktu 12-48 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Gejalanya sama dengan kondisi yang disebabkan oleh bakteri, antara lain seperti kram perut, diare encer (lebih sering terjadi pada orang dewasa), atau muntah (lebih sering terjadi pada anak-anak).

3. Parasit

Selain virus dan bakteri, parasit juga bisa menjadi penyebab keracunan makanan. Parasit ialah organisme yang memperoleh makanan dari organisme hidup lain yang juga dikenal sebagai inang. Salah satu parasit yang bisa menyebabkan keracunan adalah Giardia yang dapat hidup di usus hewan dan manusia.

4. Racun

Selain karena bakteri, virus, dan parasit, beberapa kasus keracunan juga bisa terjadi karena racun alami atau racun kimia tambahan yang dikonsumsi dari makanan.

Bakteri Penyebab Keracunan

1. Salmonella

Bakteri Salmonella typhi hidup di usus hewan ternak, biasanya akan diperoleh dari konsumsi produk pangan yang terkontaminasi feses hewan mengandung bakteri salmonella. Ada banyak sumber makanan yang berisiko tinggi terkontaminasi Salmonella typhi. Antara lain telur, daging unggas, daging merah, susu atau jus buah yang tidak dipasteurisasi, keju, rempah-rempah, kacang-kacangan, serta buah dan sayuran mentah.

2. Shigella

Salah satu bakteri penyebab keracunan makanan yang umum menjangkiti anak kecil di tepat penitipan anak (daycare) atau sekolah. Sebagian besar orang yang terinfeksi Shigella akan mengalami diare berlendir (bisa juga berdarah), demam tinggi, dan kram perut dalam satu atau tiga hari setelah terpapar bakteri. Sumber makanan yang berisiko tinggi terkontaminasi shigella adalah sayuran mentah yang tidak dicuci, atau salad sayur mentah yang diolah langsung dengan tangan telanjang.

3. Campylobacter

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setiap tahun hampir 1 dari 10 orang di dunia mengalami keracunan akibat terinfeksi Campylobacter. Bakteri tersebut sering ada di makanan mentah atau yang kurang matang, air mentah yang tidak dimasak atau sudah tercemar, dan di susu mentah yang tidak dipasteurisasi.

4. Escherichia coli 0157

Kelompok bakteri yang menjadi penyebab banyak penyakit pada manusia, seperti ISK dan pneumonia. Dari banyak jenisnya, E. coli O157 merupakan yang spesifik menyebabkan keracunan makanan, dan menular ke manusia terutama melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi, seperti produk daging giling mentah (seperti daging burger) atau kurang matang, jus dan susu mentah (nonpasteurisasi), serta sayuran mentah dan kecambah yang terkontaminasi.

5. Clostridium botulinum

Merupakan bakteri penyebab keracunan makanan yang kondisinya disebut botulisme, dan dapat mengontaminasi sayuran serta makanan yang diawetkan atau disimpan di dalam kaleng. Bakteri ini juga secara alami hadir di dalam madu.

6. Listeria

Merupakan salah satu bakteri penyebab keracunan makanan yang dapat bertahan hidup di suhu dingin, misalnya seperti di kulkas atau freezer. Makanan dingin yang bisa berisiko terkontaminasi listeria diantaranya, ikan asap, daging asap, keju mentah yang terbuat dari susu nonpasteurisasi, dan es krim. Ibu hamil dan orang yang daya tahan tubuhnya lemah lebih mudah terkena infeksi bakteri listeria.

7. Clostridium perfringens

Jenis bakteri yang cenderung menjadi penyebab wabah keracunan makanan di satu area besar, misalnya lewat katering di pesta-pesta, di kafe, atau di restoran yang konsumennya banyak.

8. Giardia duodenalis

Infeksi giardiasis disebabkan oleh parasit Giardia duodenalis dan Giardia lamblia yang juga dapat menjadi penyebab keracunan makanan. Dua jenis parasit tersebut dapat hidup di usus hewan dan masuk ke dalam tubuh manusia lewat makanan.

Faktor Keracunan

Selain disebabkan oleh bakteri hingga racun, keracunan juga bisa dipicu oleh beberapa faktor lain.

1. Usia

Ketika semakin tua usia seseorang, maka sistem kekebalan tubuh secara natural melemah saat harus melawan infeksi, sedangkan bayi dan anak kecil juga sama rentannya karena di usia muda sistem kekebalan tubuh mereka belum sesempurna orang dewasa.

2. Kehamilan

Masa kehamilan dapat menurunkan daya tahan dan mengubah kerja metabolisme tubuh, sehingga meningkatkan risiko ibu hamil mengalami infeksi yang dapat terasa lebih parah.

3. Riwayat penyakit

Faktor lainnya bisa disebabkan juga oleh faktor lain seperti ketika seseorang memiliki penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit hati, atau AIDS.

4. Memiliki alergi

Adapun reaksi keracunan juga bisa terjadi bila seseorang yang memiliki alergi telah mengonsumsi makanan yang mengandung alergen.

5. Bayi dan anak-anak

Pada masa anak anak, sistem imun belum sepenuhnya berkembang layaknya orang dewasa, sehingga respon terhadap pajanan organisme kontaminan dalam makanan juga semakin rendah.

6. Penyakit kronik dan kondisi khusus

Seseorang yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit liver dapat menurunkan respon kekebalan tubuh kita terhadap pajanan organisme kontaminan, begitu juga pada orang dengan kondisi khusus, yaitu orang yang sedang menjalani kemoterapi.

Ilustrasi mencegah keracunan dengan mencuci sayuran terlebih dahulu sebelum dimasak. (Foto: Istimewa)

Gejala Keracunan

Gejala keracunan makanan beragam, bergantung pada sumber kontaminasi. Sebagian besar keracunan makanan dapat menyebabkan beberapa tanda seperti mual, muntah, diare berair atau berdarah, nyeri dan kram perut, demam.

Tanda dan gejala juga dapat timbul beberapa saat setelah memakan makanan yang terkontaminasi, atau bahkan yang umumnya dapat bertahan beberapa jam saja hingga menetap selama beberapa hari

Beda Keracunan dan Muntaber

Banyak yang menganggap bahwa keracunan makanan sama dengan gastroenteritis atau yang lebih dengan muntaber. Hal tersebut dikarenakan keduanya memiliki gejala utama yang sama, yaitu muntah dan diare. Namun, kedua kondisi tersebut berbeda dari cara penularannya. Muntaber menular lewat kontak dengan benda atau permukaan yang telah disentuh orang sakit muntaber.

1. Konsumsi makanan atau minum air yang sudah terkontaminasi kuman,

2. Kontak langsung dengan orang yang terinfeksi muntaber, misalnya makan pakai sendok yang sama atau menyentuh tangan penderita yang terkontaminasi feses, dan

3. Udara di sekitar muntahan atau kotoran orang yang terinfeksi muntaber.

Keracunan makanan umumnya dapat terjadi melalui:

1. Konsumsi makanan yang tidak diolah dengan baik dan higienis,

2. Menyimpan daging mentah berdekatan dengan makanan matang di atas meja, di dalam kulkas, atau freezer yang sama, serta

3. Tidak menutup hidangan saat disajikan di atas meja, sehingga meningkatkan risiko makanan dihinggapi oleh serangga pembawa kuman seperti lalat.

Tips Mencegah Terjadinya Keracunan

1. Jangan makan atau jajan sembarangan.

2. Cuci tangan sehabis dari toilet, sebelum memasak, sebelum menyajikan makanan, dan sebelum makan.

3. Kurangi mengonsumsi daging mentah, telur mentah, dan unggas mentah.

4. Gunakan perkakas dapur seperti pisau dan talenan yang bersih. Setelah potong daging atau bahan makanan mentah lain, cuci dulu pisau serta alat masak lainnya.

5. Cuci buah-buahan segar dan sayuran dengan air matang.

6. Simpan makanan yang mudah busuk seperti daging pada suhu freezer 4º Celsius atau kurang.

7. Daging sapi, kambing, dan domba harus dimasak sampai matang, minimal hingga suhu dalam daging 62º Celsius.

8. Daging giling harus dimasak hingga bagian dalam daging bersuhu 71º Celsius.

9. Daging unggas perlu dimasak hingga 73º Celsius.

10. Sisa makanan harus dipanaskan hingga 73º Celsius sebelum disajikan.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *