Heboh Fenomena Aphelion, Ini Klarifikasinya

  • Bagikan
Fenomena Aphelion yang sengaja dibuat heboh oleh pihak tak bertanggung jawab hingga viral di media sosial. (Grafis: Twitter @lapan_ri)


Fenomena Aphelion trending topik. Hal ini tak lepas dari pesan berantai melalui Facebook hingga WhatsApp yang menyebutkan kabar akan terjadi fenomena Aphelion. Fenomena dimana letak bumi akan sangat jauh dari matahari.

Dalam fenomena Aphelion itu disebutkan kondisi membuat cuaca akan jadi lebih dingin dari sebelumnya sehingga bisa menimbulkan sejumlah penyakit diantaranya meriang flu, batuk, sesak nafas dan lain-lain.

Berikut isi pesan berantai yang beredar, “Kita akan mengalami FENOMENA APHELION, dimana letak bumi akan sangat jauh dr matahari. Kita tdk bs melihat fenomena tsb, tp kita bs merasakan dampaknya. Ini akan berlangsung sampai bulan Agustus. Kita akan mengalami cuaca yg dingin melebihi cuaca dingin sebelumnya,yg akan berdampak meriang flu,batuk sesak nafas dll. Oleh Krn itu mari kita semua tingkatkan imun dgn byk2 meminum vitamin atau suplemen agar imun kita kuat. Smg kita semua selalu ada dlm lindunganNYA. Aamiin,” demikian bunyi pesan tersebut.

Jarak bumi ke matahari perjlnan 5 mnt cahaya atau 90.000.000 km. Selain itu juga disebutkan, fenomena Aphelion menjadi 152.000.000 km . 66 persen lbh jauh. Jadi hawa lbh dingin, dampaknya ke badan kurang enak karna ga terbiasa dgn suhu ini. Tetap  jaga kesehatan

Pesan berantai itu secara tidak langsung membuat keresahan di tengah masyarakat. Mengingat kasus Covid-19 di Indonesia nyatanya juga terus mengalami peningkatan yang signifikan.

Fenomena Aphelion

Fenomena Aphelion diambil dari bahasa Yunani, bahwa kata “apo” yang memiliki arti jauh, dan kata “helion” yang merupakan nama Dewa Matahari dalam peradaban Yunani kuno. Jadi Aphelion menunjukkan sebuah benda langit yang berada dalam titik terjauhnya dengan matahari.

Fenomena Aphelion kebalikan dari Perihelion, yakni titik terdekat bumi dengan matahari, aphelion sendiri ialah kira-kira titik paling jauh dari orbit itu daripada planet yang diberikan berkenaan langsung dengan matahari. Hal itu bermakna bahwa bila planet tertentu berada dalam aphelionnya, ia terletak jauh dari matahari karena ia akan menjadi orbit.

Fenomena Aphelion Dampak ke Bumi

Dikutip dari akun resmi Instagram Lapan @lapan_ri, fenomena Aphelion memang rutin terjadi di setiap tahun tepatnya di bulan Juli. Sebaliknya, Perihelion (jarak terdekat matahari dengan bumi) terjadi setiap bulan Januari.

Namun dijelaskan juga bahwa fenomena Aphelion tidak mempengaruhi panas yang diterima Bumi. Perbedaan distribus panas di permukaaan bumi paling signifikan disebabkan oleh pola angin.

“Jadi yang meyebabkan suhu dingin periode Juli-Agustus (Khususnya di beberapa tempat di Indonesia) sebagian besar karena pola angin,” demikian penjelasannya.

Posisi relatif matahari berada di belahan bumi utara (BBU). Dimana, wilayah tropis di BBU menerima radiasi matahari yang relatif besar dibanding wilayah belahan bumi selatan (BBS). Hal ini menyebabkan suhu udara rata-rata di BBS menjadi lebih rendah dibandingkan dengan BBU.

Ditambah lagi, wilayah Indonesia saat ini berlangsung monsun Australia (Angin timur). Di Australia sendiri, saat ini berlangsung musim dingin. Menyebabkan adanya pergerakan massa udara yang relatif dingin dan kering dari Australia menuju Indonesia atau disebut dengan angin monsun dingin Australia (Australian Winter Mosoon).

Atas kondisi cuaca yang terjadi, LAPAN mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik atau termakan hoax yang kerap beredar dari sosial media manapun. Masyarakat sebaiknya selalu update kondisi cuaca melalui berbagai kanal yang disediakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Penyebab Fenomena Aphelion

Bumi memiliki orbit yang tidak berbentuk bulat, bundar, atau lingkaran secara sempurna. Dan sebenarnya, bumi memiliki orbit berbentuk elips atau oval, karena memiliki bentuk yang tidak sempurna itulah akhirnya terbentuklah titik terdekat dan juga titik terjauh bumi dari matahari yang disebut dengan Aphelion dan juga Perihelion, yang mana kedua siklus tersebut merupakan konsekuensi dari bentuk orbit bumi yang elips tadi.

Contoh Fenomena Aphelion yang sudah Pernah Terjadi

Fenomena Aphelion mungkin baru menggemparkan publik akhir-akhir ini, namun sebenarnya fenomena tersebut sudah berlangsung diberbagai belahan negara. Tetapi fenomena aphelion itu sesungguhnya tidak berdampak bagi kelangsungan bumi, tidak seperti fenomena gerhana matahari ataupun fenomena gerhana bulan yang sudah biasa diketahui oleh semua orang.

Terjadinya fenomena Aphelion mungkin memang tidak bisa dilihat secara langsung oleh mata, karena memang hanya bisa diketahui oleh ahlinya dengan menggunakan bantuan alat khusus. Aphelion sendiri terjadi secara rutin, setiap bulan Juli dan pasti jatuh pada awal bulan Juli. Pada tahun 2018, fenomena Aphelion terjadi tepat ditanggal 6 Juli, yang bisa dibilang tanggal tetap atau tidak terlalu mengalami perubahan secara signifikan sehingga memudahkan untuk diprediksi.

Terjadinya fenomena Aphelion tersebut sebenarnya tidak perlu disikapi secara berlebihan karena memang faktanya terjadinya fenomena itu tidak memiliki dampak yang signifikan pada bumi salah satunya yang seperti ramai dibicarakan publik mengenai suhu dingin yang saat ini terjadi, karena faktanya fenomena Aphelion tidak memengaruhi suhu dingin yang saat ini terjadi di negara khususnya Indonesia.

Fenomena alam ini akan dirasakan hingga bulan Agustus 2021. Itulah informasi mengenai fenomena Aphelion yang belakang dirasakan oleh sebagian masyarakat Indonesia.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *