Ilmuwan Temukan Gambar Misterius Raksasa di India dari Citra Satelit

[ad_1]

Garis misterius di Boha, India. Arsir merah mengindikasikan kerusakan manusia, panah merah menandakan jejak kendaraan, dan panah hijau menandakan jalur yang dilalui hewan ternak.

Garis misterius di Boha, India. Arsir merah mengindikasikan kerusakan manusia, panah merah menandakan jejak kendaraan, dan panah hijau menandakan jalur yang dilalui hewan ternak. Gambar: Carlo dan Yohann Oetheimer, Archeological Research in Asia, 2021

Sepasang peneliti independen yang merupakan ayah dan anak mengidentifikasi bentuk geometris yang diklaim terbesar di dunia dengan bantuan gambar satelit. Menurut studi yang terbit di jurnal Archaeological Research in Asia, itu merupakan geoglif pertama yang ditemukan di anak benua India.

Garis misterius tersebut ditemukan tak jauh dari kota Boha, India, dan totalnya mencakup sekitar 48 kilometer. Geoglif terbesar yang disebut Boha 1 berbentuk garis spiral asimetris sepanjang 12 kilometer.

Gambarnya terletak tepat di sebelah Boha 2 yang memiliki pola berkelok-kelok. Panjang ukiran kedua tak beda jauh dari yang pertama. Studi, yang terbit di jurnal Archaeological Research in Asia memaparkan, “tak ada satu pun yang sebanding” dengan gambar ini. Tujuan dan maksudnya juga tidak diketahui.

“Setelah penelitian ekstensif, kami menganggap geoglif Boha sebagai bentuk geometris terbesar yang pernah diciptakan manusia, dan tersusun secara organik sejauh ini,” tulis Carlo dan Yohann Oetheimer dalam studi. Keluarga Oetheimer pertama kali menemukan gambarnya di Google Earth, dan melakukan studi lapangan ke daerah tersebut pada Desember 2016.

Tampak dekat garis misterius di Boha, India.

Tampak dekat garis misterius di Boha, India. Foto: Carlo dan Yohann Oetheimer, Archaeological Research in Asia, 2021.

Garis-garis Nazca di kawasan selatan Peru merupakan geoglif paling terkenal di dunia, dan terdiri dari berbagai sketsa yang cakupannya jauh lebih luas dari Boha 1 dan 2. Namun, Oetheimer berujar, tak ada satu pun garis Nazca yang setengah dari panjang kedua figur tersebut.

Karsten Lambers, associate professor ilmu komputer arkeologi di Universitas Leiden, tidak dapat memastikan geoglif di India adalah yang terbesar. Akan tetapi, dia menegaskan ukuran bukanlah yang terpenting.

“Aspek ini tidak relevan dari perspektif sosial dan budaya karena siapa pun yang membuat geoglif tersebut tidak menyadari ukuran relatifnya dalam skala global,” Lambers menjelaskan lewat email.

Banyak geoglif ikonik di dunia berusia ribuan tahun, seperti Garis-Garis Nazca dan Kuda Putih Uffington di bukit Inggris. Namun, studi terbaru menunjukkan gambar Boha 1 dan 2 tercipta dalam beberapa abad terakhir. Dibutuhkan lebih banyak studi lapangan dan keterlibatan masyarakat lokal untuk memahami pola misterius, usia dan tujuan budaya dari geoglif ini.

“Kami sudah menanyakan tentang garis ini ke warga setempat dan para gembala, tapi tidak ada yang bisa menjawab,” Carlo memberi tahu Motherboard melalui email. “Kami masih harus menyelesaikan penelitian […] kembali ke India, melakukan survei antropologi dan membawa semua peralatan untuk mengetahui usia geoglif.”

Merek berencana menerbitkan penelitian lain yang merangkum hasil ekspedisi berikutnya.

Selaku pakar geoglif di Amerika Selatan, Lambers menyoroti pentingnya penelitian lanjutan yang dapat menjelaskan “konteks spasial dan lingkungan” garis-garis Boha, termasuk studi ikonografi, survei arkeologi dan rekaman aktivitas manusia yang terkait dengan geoglif tersebut.

“Dari penelitian geoglif saya, garis-garis ini hanya bisa dipahami dalam konteks budaya, sosial dan sejarah,” terang Lambers. “Apa pun yang dapat menjelaskan konteks tersebut akan sangat membantu.”

Carlo dan Yohann pertama kali menemukan geoglif saat melakukan survei Gurun Thar, yang membentang di sepanjang perbatasan barat laut India dengan Pakistan, dengan gambar satelit Google Earth. Tim peneliti awalnya mengidentifikasi delapan situs yang tampaknya mengandung geoglif, tapi analisis lapangan mengungkapkan empat di antaranya terkait dengan perkebunan. Tiganya lagi tidak meyakinkan.

Gambar rekonstruksi Boha 1 dan 2.

Sebaliknya, satu situs di timur Boha sangat berbeda dari yang lain. Garis-garis di daerah ini berukuran raksasa, memiliki pola unik dan tampaknya tidak terkait dengan perkebunan. Boha 1 menonjol karena sangat besar, sedangkan Boha 2 memiliki pola lebih aneh — garis mengular, spiral kecil dan urutan besar garis lurus subparalel yang terhubung oleh bentuk U bulat (“boustrophedon”). Garis-garis yang terhubung ke dua bentuk utama ini mencakup hampir 25 kilometer, tapi ada juga geoglif kecil di area tersebut yang mengungkapkan desain abstrak misterius lainnya.

Oetheimer memperkirakan geoglif temuan mereka berusia sekitar 150 tahun, berdasarkan vegetasi yang tumbuh di sana. Mereka berencana menggunakan penanggalan thermoluminescence untuk menentukan usia yang lebih tepat di masa depan. Mereka juga mencatat bahwa geoglif tersebut berdekatan dengan lokasi artefak arkeologi menarik yang mungkin berkaitan dengan gambar misterius, seperti tugu, batu peringatan dan sembilan monolit yang bentuk dan ukurannya beragam — yang tertinggi yaitu 152 centimeter. Temuan ini berpeluang untuk menjadi penelitian baru.

Peneliti menduga garis-garis itu mungkin terukir oleh bajak unta, tapi tujuannya masih menjadi misteri. Daerah ini terlalu datar untuk diamati dari ketinggian, sehingga menimbulkan keraguan atas keefektifan garis-garis tersebut sebagai penanda. Walaupun mereka menekankan perlunya penelitian lebih lanjut — termasuk upaya melindungi geoglif dari erosi — mereka berspekulasi gambar misterius itu mungkin memiliki arti religius atau kosmologis.

“Pada tahap penelitian ini, kami yakin geoglif unik tersebut terkait erat dengan konteks geografis dan budaya. Bisa jadi mengandung pesan universal yang sakral dan berkaitan dengan alam semesta,” Oetheimer menyimpulkan.

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.