Industri Baja Pilar Penting Pertumbuhan Ekonomi

  • Bagikan


Jakarta, SuaraKupang.com – Presiden Joko Widodo dalam peresmian Hot Strip Mill #2 PT Krakatau Steel (Persero) mengungkapkan transformasi BUMN menjadi keharusan agar BUMN-BUMN menjadi BUMN kelas dunia, semakin profesional, semakin kompetitif, semakin menguntungkan, untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat dan membuka semakin banyak lapangan pekerjaan, serta berkontribusi lebih besar pada pendapatan negara. PT Krakatau Steel juga terus melakukan transformasi dan terus melakukan restrukturisasi.

“Pak Menteri BUMN tadi menyampaikan Krakatau Steel saat ini sudah semakin sehat, karena memang sebelumnya kurang sehat. Produksinya juga semakin lancar. Industri ini sangat strategis, oleh sebab itu, saya memberikan perhatian besar pada industri baja ini. Produk yang dihasilkan sangat dibutuhkan dan dimanfaatkan oleh industri-industri lain. Artinya, nanti akan mengurangi semakin banyak impor kita dari negara-negara lain dan merupakan salah satu pilar penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia, karena konsumsi baja kita sangat besar. Kalau kita tahu konsumsi baja sangat besar, jangan dibiarkan ini dimasuki produk-produk dari luar. Dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, bukan hanya karena pembangunan infrastruktur, tetapi juga pembangunan industri yang lainnya, yang nanti juga membutuhkan baja, utamanya industri otomotif,” kata Presiden Jokowi di Cilegon, Selasa (21/9).

Sebelumnya, Presiden meninjau terlebih dahulu pabrik yang akan diresmikan. “Pabrik menggunakan teknologi modern dan terbaru di industri baja. Dan hanya ada dua di dunia. Pertama di Amerika Serikat dan yang kedua di Indonesia di Krakatau Steel,” tambahnya.
 
Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi Hot Rolled Coil (HRC) sebesar 1,5 juta ton per tahun dan merupakan pabrik pertama di Indonesia yang mampu menghasilkan HRC kualitas premium. Dalam lima tahun terakhir, kebutuhan baja di dalam negeri meningkat hingga sekitar 40 persen. “Hal ini dipicu oleh pertumbuhan pembangunan infrastruktur yang terus kita laksanakan,” ucap Presiden. 

Oleh karenanya, Presiden meminta agar produksi dari pabrik tersebut untuk terus ditingkatkan hingga mencapai 4 juta ton/tahun. “Dengan beroperasinya pabrik ini akan dapat memenuhi kebutuhan baja dalam negeri dan juga akan menekan angka impor baja ke negara kita, yang saat ini berada pada peringat ke-dua komoditas impor Indonesia sehingga bisa menghemat devisa hingga Rp29 triliun per tahun,” ujar Presiden.
 
Oleh karenanya, Presiden berpesan agar kualitas produk yang dihasilkan tidak kalah dari produk impor, dapat memenuhi kebutuhan dunia industri di negara kita.“Dan saya yakin, nantinya akan menjadi komoditas yang mampu bersaing di pasar regional dan global. Saya titip kepada para Menteri untuk terus mendukung para pelaku industri baja dan besi, mendukung BUMN kita agar menjadi lebih profesional dan terus menguntungkan,” kata Presiden.

Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan klaster 10 juta ton industri baja di Cilegon yang ditargetkan terealisasi pada tahun 2025.
 
Di samping mengupayakan berbagai transformasi di BUMN, Kementerian BUMN juga telah melakukan restrukturisasi terhadap beberapa BUMN strategis. Restrukturisasi yang telah dilakukan PTPN dan Krakatau Steel berhasil membalikkan kondisi perusahaan dari rugi menjadi untung, dari perusahan konvensional menjadi mondern, dan bahkan mampu menekan impor, serta memperkuat ketahanan bangsa.

Menteri BUMN Erick Thohir menjelaskan, PTPN dan Krakatau Steel menjadi bukti nyata kesuksesan perubahahan yang dilakukan BUMN. Di Triwulan-II 2021, pada bulan Juni lalu, PTPN berhasil mencatat kenaikan revenue 37% dan membukukan laba sebesar Rp1.4 triliun dari yang diprediksi akan rugi Rp1.2 triliun dalam anggarannya.

“Krakatau Steel sesuai dengan restrukturisasi memang harus melakukan tiga tahapan, dan tentu tahapan ini sudah berhasil mencapai tahap 1 dan 2. Dan kalau kita lihat performance-nya sekarang ini, Krakatau Steel yang sebelumnya rugi selama 8 tahun terakhir, sekarang sudah untuk Rp800 miliar, tetapi saya bilang kepada managemen untuk jangan berpuas diri karena hal ini penting untuk terus ditingkatkan,” kata Erick Thohir.

Sementara itu dalam laporannya, Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Silmy Karim mengatakan bahwa Pabrik Hot Strip Mill #2 Krakatau Steel memiliki nilai investasi mencapai Rp7,5 triliun ini dengan luas pabrik 25 hektar dan berkapasitas 1,5 juta ton per tahun. “Dan pabrik ini adalah pabrik pertama di Indonesia yang mampu menghasilkan produk Hot Rolled Coil dengan ketebalan 1,4 mm hingga 16 mm,” ucap Silmy.

Selain itu, Silmy mengatakan bahwa produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik sehingga produk HRC HSM2 akan diutamakan untuk mengisi pangsa pasar otomotif yang membutuhkan kualitas baja terbaik. “Hal ini seiring dengan rencana Indonesia untuk dapat menjadi salah satu pusat produk mobil listrik dunia. Ini akan berdampak pada penghematan devisa Indonesia serta memperbaiki neraca perdagangan,” kata Silmy.

Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya, Ketua DPR RI Puan Maharani, Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia Park Taesung, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Ivestasi Luhut Pandjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Gubernur Banten Wahidin Halim, dan Walikota Cilegon Helldy Agustian.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *