Ini Cara Warga Mojokerto Tolak Wabah Covid-19

  • Bagikan
Air warna warni dipasang warga dipohon depan rumah. (Foto: Deni Lukmantara/Ngopibareng.id)


Wabah virus Corona atau Covid-19 kian meningkat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Mojokerto. Berbagai upaya dilakukan untuk warga untuk menghambat penyebarannya.

Selain menerapkan protokol kesehatan di beberapa wilayah yang ada di Kabupaten Mojokerto juga menggelar ritual tolak balak, seperti mengadakan baritan hingga menggantung air warna-warni yang dibungkus plastik dan digantungkan di depan rumah dan pepohonan.

Tradisi tersebut diyakini masyarakat dapat mengusir musibah atau wabah penyakit yang akan datang, seperti halnya wabah virus Corona yang sudah menyebar ke seluruh dunia.

Di Desa Pacing Kecamatan Bangsal misalnya, mereka menggelar baritan, sebagai ungkapan doa dan tolak bala terhadap wabah virus corona di Indonesia, termasuk Mojokerto.

Dari anak-anak hingga dewasa, mereka saling bahu-membahu memberi dukungan dan berdoa agar wabah COVID-19 tidak semakin menyebar. Baritan digelar di RT masing-masing dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak hingga cuci tangan pakai air mengalir dan disemprot cairan disinfektan.

Secara teratur mereka mengambil jarak satu meteran, warga duduk di atas tikar panjang yang digelar di tengah jalan desa. Mereka sepakat harus menggelar selamatan atau baritan ini untuk menangkal penyebaran virus Corona.

“Hampir tiap hari ada warga meninggal, entah itu karena Corona atau tidak. Yang jelas pemakamannya menerapkan protokol kesehatan (Prokes). Sudah 5 hari ini tiap hari ada yang meninggal,” kata Ika (26) salah satu warga, Minggu 18 Juli 2021.

Dia berharap upaya baritan ini bisa menolak wabah penyakit, termasuk virus Corona. “Semoga segera berahir, tetap jaga kesehatan patuhi prokes agar kita sehat bersama keluarga dan warga yang lain,” tegasnya.

Warga menggelar Baritan untuk mencegah virus Corona.(Foto: Deni Lukmantara/Ngopibareng.id)

Upaya tolak bala juga dilakukan warga di Desa Jotangan, Kecamatan Mojosari. Mereka menggantung air warna-warni didepan rumah dan pepohonan. Air warna-warni itu adalah air putih yang diberi pewarna makanan kemudian dibungkus dengan plastik kecil-kecil.

Hal tersebut merupakan tradisi turun temurun dilakukannya warga Desa Jotangan di saat wabah penyakit melanda. “Ini meneruskan tradisi zaman nenek saya dulu. Sudah ada sejak zaman dulu, tahun 1970-an sudah ada,” ujar Umbarawati, warga sekitar.

Air warna-warni yang digantung di depan rumah itu diyakini menjadi cara untuk mengecoh agar penyakit tidak mendekati manusia. Namun justru terkecoh gantungan berwarna-warni karena warna yang menarik

Buat tolak bala supaya selamat, tidak ada penyakit. Kata orang dulu supaya jika ada penyakit, biar minum air warna-warni itu sebagai pengganti darah manusia,” katanya.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *