Istriku Editorku

20 September 2021

[ad_1]

Ummi, kehilanganmu adalah juga kehilangan seorang editor. Bukan sembarang editor. Ummi adalah editor luar dalam bagi abi. Kukura tidak akan ada lagi editor seperti dirimu itu. Air mataku kembali menetes deras. Air mata keridhoan untukmu duhai ibu anak-anakku.

Dulu awal kita menikah belum musim komputer. Kau punya mesin ketik manual yang kau beli untuk kepentingan mengerjakan tugas-tugas praktikummu. Jauh sebelum kita menikah. Aku punya mesin ketik yang aku beli dari hadiah lomba menulis artikel di Surabaaya Pos. Juga sebelum kita menikah. Praktis di rumah kita ada dua mesi ketik. Dan, ketika itu kita sepakat, ngapain harus ada dua mesin ketik. Maka tidak pikir panjang salah satu mesin ketik kita itu jual. Aku masih ingat yang dijual adalah mesin ketikmu. Mesin ketikku dipilih karena ketika itu kondisinya lebih baik.

Istriku editorku

Jaman itu kau dan aku menulis dengan mesin ketik manual. Maka tidak ada kebutuhan editor disitu. Yang ada alah type ex berupa cairan atau kertas untuk mengoreksi jika terjadi salah ketik. Dan sebagai penulis aku melakukannya sendiri. Aku sudah produktif menulis yang memang sudah menjadi hobiku sejak SMA. Tentu sudah akrab dengan type ex itu sejak SMA juga. Tapi belum terpikir kebutuhan seorang editor.

Kebutuhan editor baru muncul ketika kita pertama kali beli komputer sekitar tahun 1996. Masih ingat ketika itu sebagai pasangan suami istri yang sama-sama mahasiwa kita harus memastikan bahwa aku dan kau lulus dua duanya. Itu komitmen kita saat menikah. Itu juga janji kita kepada orang tuaku dan oranag tuamu. Bahwa pernikahan tidak akan menggagalkan kuliah kita. Dan alhamdulillah kita sukses membuktikannya.

Untuk memastikan hal itu kita datang berdua ke senior dan dosen kita, Pak Daniel Rosyid bersama istri beliau ketka itu. Kini sang istri itu juga sudah almarhumah. Allahumarhamhunna. Kita konsultasi bagaimana pengalaman beliau menyelesaikan studi bahkan sampai doktor sambil mengasuh anak-anak. Dan saran beliau luar biasa. Mujarab. Salah satunya adalah hal teknis. Bahwa kita harus beli komputer lengkap dengan printer. Agar tiap hari bisa menabung tulisan untuk kelulusan itu setiap hari. Jika sehari menulis satu halaman, maka 3 bulan skripsipun kelar.  Bulan keempat tinggal melakukan perbaikan ini dan itu. Simple sekali.

Selengkapnya klik https://korporatisasi.com/2021/01/19/istriku-editorku/

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.