Jelang Kematian Bemo Lyn N, Mobilnya Diobral Rp15 Juta Per Unit

  • Bagikan
Bemo lyn dikandangin. Bahkan, ada yang yang dijual murah. (Foto: Asmanu Sudarso/ngoppibareng.id)


Masa kejayaan angkutan kota (Angkot) atau bemo lyn N jurusan Bratang – Jembatan Merah, terjadi antara tahun 1995 hingga tahun 2000.

Saat itu penumpang tidak ada sepinya Pada jam berangkat dan pulang kerja, penumpang berderet di sepanjang jalan menunggu lyn N lewat. Karena selalu penuh.

Selain tergolong ‘basah’, Lyn N ini juga mempunyai rute terpanjang. Yakni dari Terminal Bratang menyusuri Jl Menur, Kertajaya, Sulewesi, Jl Raya Gubeng, Jl Pemuda, Walikota Mustajab, Jl Praban, Blauran, Bubutan, Jl Kemayoran, Sikatan Rajawali hingga Jembatan Merah.

“Dulu penumpang yang menunggu lyn N sampai berjam jam karena selalu penuh. Sekarag berbalik bemonya yang menunggu karena penumpannya tidak ada,” kata seorang sopir Lyn N Harsono.

Ia merupakan salah seorang seorang sopir Lyn N di masa kejayaan itu, sampai bisa membeli bemo Lin N. “Saya beli tahun 1998 harganya waktu itu, kalau nggak salah Rp 250 juta, saat itu mahal mahalnya Lyn N, dan yang beli rebutan,” kata Harsono.

“Naliko semono, sedino isok nggowo moleh duwek gak kurang teko Rp 200 bersih,” kenang Harsono dengan logat Suroboyoan yang medok.

Sedang kalau nyerepi atau menjalankan orang lain setoran perharinya Rp 100 – Rp 150 ribu tergantung kondisi mobilnya.

“Iku, biyen Cak. Saiki nggateli. Penumpange gak onok, nek didol gak ono regane, per unitnya mok Rp 15 juta,” katanya.

Pemandangan di terminal Angkot Jembatan Merah, sepi. (Foto: Asmanu Sudarso/ngoppibareng.id)

Menurut Harsono dari 150 unit Lyn N yang terdaftar, sekarang hanya tinggal lima unit yang masih beroperasi. Itu pun lebih sering mondar mandir Bratang-Jembatan Merah hanya membawa satu dua orang penumpang. Bahkan terkadang kosong.

Ngopibareng.id membuktikan ucapan Harsono dengan naik bemo Lyn dari depan Rumah Sakit Jiwa Menur. Bemo baru berjalan sekitar 50 menit.

Kemudian setelah mendapat tambahan seorang penumpang yang baru keluar dari RSJ. Sampai Jembatan Merah hanya mengangkut dua orang penumpang dengan tarip Rp5 ribu/ orang.

Artinya dari Bratang sampai Jembatan menerima upah Rp10 ribu. Di Jembatan Merah angkot juga sepi. Jalur antrean lyn N juga kosong.

Salah seorang pemilik bemo Lyn N warga Menur yang punya nama panggilan Basori menuturkan, masa kejayaan Lyn mulai menurun setelah dibuka jalur Lyn baru yang bersinggungan dengan Lyn N.

Sehingga penumpang mulai berkurang, sedang mobilnya bertambah banyak. “Meskipun penghasilan menurun, tidak signifikan,” kata Basori.

Penghasilan sopir belum semakin menurun, setelah kredit sepeda motor dipermudah. “Bahkan, ada yang tanpa DP atau uang muka. Uang untuk bayar bemo mereka alihkan untuk membayar kredit,” kata Basori.

Tapi ketika ojek online diizinkan beropearsi oleh pemerintah dengan bebas hingga keplosok, saat itulah awal kematian angkot di Surabaya termasuk Lyn N.

Penumpang angkot banyak yang beralih ke kendaraan pribadi atau yang dinilainya lebih simpel. “Tinggal telpon dalam hitungan menit sudah datang dan siap mengantar sampai tempat tujuan,” katanya.

Kata Basori, sekarang ratusan unit angkot Lyn dikandangkan, sambil menunggu pembeli. “Angkot saya ini juga akan saya jual, Suzuki tahun 2000. Murah Rp 17 juta saja, bisa nego,” kata Basori.

Sopir angkutan kota (angkot) di Surabaya sebagian mengaku sulit mendapatkan penumpang.

Selain banyak yang berpindah ke Ojol dan kendaraan pribadi, sepinya penumpang angkot diperparah dengan pandemi Covid-19 serta PPKM yang terus diperpanjang dari minggu ke minggu tanpa ada kepastian kapan berakhir.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *