Jokowi Sedih, Indonesia Sering Dikerdilkan Bangsanya Sendiri

  • Bagikan
Presiden Jokowi bersama Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh ( foto: Setpres)


Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa posisi Indonesia makin dihargai, dihormati, dan dipandang oleh negara lain dalam kancah internasional. Hal tersebut dirasakan langsung oleh Presiden Joko Widodo saat melakukan perjalanan luar negeri ke tiga negara pada akhir Oktober hingga awal November lalu.

Kesan itu disampaikan Presiden Jokowi pada peringatan hari ulang tahun ke-10 Partai Nasdem di Auditorium Ki Hajar Dewantara, Kampus Akademi Bela Negara, Jakarta, Kamis, 11 November 2021.

“Ada yang saya rasakan yang berbeda kalau dibandingkan dengan summit, dengan KTT-KTT sebelumnya, di pertemuan itu. Banyak sekali permintaan bilateral, banyak sekali permintaan pertemuan bilateral dari negara-negara lain yang hadir saat itu,” katanya.

Kemudian yang kedua, Jokowi juga mengatakan banyak acara mendadak yang datang kepadanya dari negara-negara negara besar. “Kepala negara yang datang. Ini ada apa? Perbedaan itu yang saya rasakan,” ujar presiden.

Menurut presiden, Indonesia adalah negara besar dengan sejarah besarnya.ia ingin manfaatkan kebesaran Indonesia ini untuk memengaruhi kebijakan-kebijakan dunia dalam rangka apa pun.

Tetapi di balik itu presiden merasa sedih karena posisi Indonesia yang makin dihargai, dihormati, dan dipandang oleh negara lain tersebut kadang justru dikerdilkan di negara sendiri. Padahal, sebagai negara yang memegang keketuaan G20 dan ASEAN, mestinya warga negara Indonesia juga turut merasakan kehormatan itu.

“Saya juga ingin, kita semuanya juga ingin, warga negara kita ini juga dihormati, dihargai oleh warga negara lain di mana pun WNI kita berada,” lanjutnya.

Presiden menegaskan bahwa mental inferior, mental inlander, dan mental terjajah harus dihilangkan dan tidak boleh dipelihara. Presiden mengingatkan bahwa sebagai sebuah bangsa besar, Indonesia memiliki banyak penggalan sejarah kejayaan dari para pendahulu bangsa dan bahwa kemerdekaan Indonesia itu bukan sebuah hadiah melainkan hasil dari sebuah perjuangan panjang.

“Kita harus mulai membangun rasa percaya diri, rasa optimisme sebagai bangsa pemimpin. Jangan sampai kita kehilangan orientasi itu dan itulah yang dinamakan gerakan perubahan, gerakan restorasi, ya di situ,” katanya.

Ia berharap mental inlander, mental terjajah, mental inferior, segera hilang dan tidak dipelihara.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *