Kasus Covid Indonesia Tembus 3.000, Eks Bos WHO Buka Suara

Kasus Omicron di Indonesia bertambah 68 orang hingga Jumat 31 Desember 2021 yang dibawa oleh para pelaku perjalanan luar negeri dari sejumlah negara. (Ilustrasi: Fa-Vidhi/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Kasus harian Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Bahkan kasus harian mencapai 3.205 orang per Sabtu, 22 Januari 2022. Eks pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Profesor Tjandra Yoga Aditama, memberikan enam pesan pada Indonesia untuk mengantisipasi dampak Omicron. Diketahui, Profesor Tjandra adalah juga guru besar di Universitas Indonesia.

Perketat Prokes

Eks petinggi WHO di Asia Tenggara, Profesor Tjandra Yoga Aditama menyoroti peningkatan kasus Covid-19 yang berlangsung di Indonesia.

Dari 2.000 per hari kemudian melonjak menjadi 3,205 kasus per Sabtu, 22 Januari 2022. Fakta itu menurutnya harus diikuti dengan antisipasi serius oleh pemerintah Indonesia.

“Kita perlu melakukan sesuatu yang lebih daripada yang dilakukan di hari-hari sebelumnya, tidak bisa kegiatan yang sama saja,” kata Prof Tjandra, dikutip dari detik.com, Minggu 23 Januari 2022.

Sikap yang serius menurutnya bukan berarti meningkatkan Level PPKM. Namun pengetatan penerapan protokol kesehatan penting untuk dilakukan. Bentuknya seperti, pengawasan kapasitas bekerja di kantor (WFO) hingga soal pembelajaran tatap muka 100 persen.

Pengawasan PTM

Diketahui, sebagian besar wilayah di Indonesia mulai menerapkan pembelajaran tatap muka 100 persen (PTM) sejak Januari lalu. Melihat kasus Covid-19 yang terus meningkat, dan sebaran Omicron, Prof Tjandra menilai kebijakan sekolah tatap muka 100 persen perlu dikaji lebih lanjut risikonya.

Bentuknya bisa jadi pengurangan kapasitas PTM di sekolah. “Mungkin baik juga dianalisa tentang pembelajaran tatap muka di sekolah, apakah tetap 100 persen, atau barangkali dipertimbangkan kalau perlu diturunkan 75 persen dan lain-lain,” imbuhnya.

PCR Omicron dan Tracing

Selain itu, mantan bos WHO di Asia Tenggara ini juga berpesan agar ketersediaan PCR khusus yakni tes S Gene Target Failure (SGTF) juga diperluas. Hal ini membantu mengidentifikasi kasus Omicron lebih awal, meski harus dilanjutkan dengan tes whole genome sequencing (WGS).

Sebab, tes SGTF bisa melihat kasus probable Omicron dalam hitungan jam, ketimbang WGS yang membutuhkan waktu beberapa hari.

Upaya lain adalah peningkatan tracing atau penelusuran kontak erat terutama pada kasus transmisi lokal. “Baik telusur ke depan, kepada siapa mereka menularkan dan juga telusur ke belakang, dari mana mereka tertular,” katanya.

Booster dan Rem Darurat

Selanjutnya, untuk menanggulangi dampak Omicron, vaksin booster seharusnya diprioritaskan pada kelompok lansia yang rentan terpapar.

Mantan petinggi WHO di Asia Tenggara ini meminta pelaksanaan program tersebut juga dipermudah demi meningkatkan angka sasaran vaksinasi.

Sedangkan terkait kemungkinan tarik rem darurat, Prof Tjandra mengimbau keputusan tersebut wajib dianalisis dari perkembangan di lapangan.

“Jangan sampai terlambat untuk menarik rem darurat kalau sekiranya diperlukan, dan jangan pula terlalu cepat melakukan pengetatan kalau belum sepenuhnya diperlukan,” imbuhnya.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.