Kata Ilmuwan, Ini Alasan Ilmiah Pegawai Susah Menolak Permintaan (Ngaco) dari Bos

  • Bagikan


Ilustrasi perempuan menenteng belanjaan berdiri di depan pintu keluar

Ilustrasi: AdobeStock/nadia_snopek.

The Devil Wears Prada, The Social Network, The Wolf of Wall Street — tampaknya hampir semua film tentang dunia kerja sangat mengglorifikasi budaya kerja toksik. Mengambil inisiatif memang penting dalam pengembangan karier, tapi atasan sering kali memanfaatkan niat baik karyawan yang tidak menetapkan batasan jelas, menurut psikoterapis Sara Capizzi dan Stefano Macchi dari Pusat Klinis Spazio FormaMentis di Milan, Italia.

Itulah mengapa berani mengatakan tidak sangat penting — kalau pun kalian ingin menjadi anggota tim yang aktif, kalian takkan bisa membuat banyak kemajuan apabila membiarkan atasan memperlakukan kalian dengan buruk. Akan tetapi, kenapa sulit sekali menolak permintaan bos? Kalian mungkin berpikir mereka akan tersinggung dan posisi kalian di perusahaan menjadi terancam jika tidak menuruti suruhan atasan. Namun, banyak dari kita akhirnya jadi kewalahan sendiri karena tekanan psikologis yang lebih dalam.

“Menolak permintaan adalah cara kita menetapkan batasan yang dipahami orang lain,” tutur Capizzi. “Tapi untuk mengatakan tidak, kita perlu berhubungan dengan kebutuhan pribadi dan bertanggung jawab atas dunia batiniah kita. Ketika kita melakukan itu, kita tidak bisa mengharapkan semua orang akan memahami perasaan kita. Karena itulah menolak permintaan tak mudah.”

Karyawan yang menolak permintaan rekan kerja mungkin akan dicap yang buruk-buruk, seperti egois, tidak sopan atau menyebalkan. Kita semua pastinya merasa iri dengan kolega yang memahami batas kemampuan mereka dan berani mengatakan tidak tanpa memedulikan ucapan orang lain. Namun, tak semua orang bisa sepercaya diri ini. “Kalian mungkin khawatir akan dijauhi atau memicu konflik,” Capizzi melanjutkan. “Kalian bisa juga takut mengecewakan orang lain, dan akibatnya kalian akan melakukan segala cara agar kalian merasa telah menjadi orang baik.”

Macchi beranggapan kebiasaan menyenangkan orang lain menjadi sangat menonjol di tempat kerja karena kita menghabiskan sebagian besar waktu di sana — sekitar 25 persen dalam seminggu bagi karyawan purnawaktu — dan akhirnya mengembangkan hubungan yang mendalam dengan rekan kerja. “Perasaan itu sangat manusiawi, berasal dari kebutuhan kita untuk terlibat secara sosial pada tingkat psikologi,” terangnya. Selain itu, kita akan merasa senang ketika mengikuti permintaan orang lain dan kemudian diberi imbalan. “Itu terkait dengan pelepasan dopamin oleh otak,” Capizzi menambahkan.

Selain itu, Macchi melihat ketidakstabilan lingkungan kerja membuat orang takut mengatakan tidak. Ada ancaman digantikan oleh orang lain yang membayangi karyawan kontrak. Kecemasan tidak memiliki perlindungan hukum juga mendorong orang mengikuti permintaan guna membangun ikatan yang lebih kuat di tempat kerja. Tujuannya, menurut Macchi, “untuk menghindari risiko ditinggal sendirian tanpa memilihnya.”

Masalahnya adalah selalu menyanggupi suruhan orang lain tidak bagus untuk diri kalian sendiri. “Ketika ada ketidakseimbangan antara tuntutan organisasi dan sumber daya atau kebutuhan pribadi karyawan, pihak yang terakhir (karyawan) akan mengalami stres,” ujar Capizzi.

Stres dapat memicu burnout apabila dibiarkan begitu saja. Burnout ditandai oleh “perasaan lelah, kehilangan motivasi, ketidaktertarikan, penarikan emosional dari pekerjaan dan penurunan efisiensi kerja.”

Sifat lekas marah, sulit berkonsentrasi, kecenderungan menyendiri, susah tidur dan makan, serta gejala fisik seperti migrain dan masalah pencernaan bisa menjadi tanda kalian sedang burnout.

“Umumnya orang yang memiliki ekspektasi tinggi terhadap diri sendiri lebih berisiko mengalami burnout. Mereka perfeksionis dan cenderung ingin melakukan banyak hal,” Capizzi menjelaskan. Orang dengan risiko burnout yang lebih tinggi kerap memiliki etos kerja yang kuat, tapi juga dilumpuhkan dengan keraguan dan perasaan insecure (tidak percaya diri) terhadap pekerjaan mereka.

Ini akan merugikan dalam jangka panjang. Macchi berujar, menolak permintaan seseorang dapat “mengaktifkan kembali rasa penentuan nasib sendiri dan kemampuan kita dalam mengerjakan tugas”. Selain itu, dengan mengatakan apa yang mampu kita lakukan akan lebih bermanfaat bagi perusahaan. Tim kalian menjadi lebih terorganisir dan bisa mencari solusi lain untuk mencapai tujuan.

“Di mata bos, mengatakan tidak akan membuat saya tampak seperti kolaborator aktif, seseorang yang mampu melindungi kebutuhan diri sendiri dan perusahaan,” lanjutnya. Faktanya, kalian hanya akan membuat diri sendiri dan rekan kerja stres jika merasa tidak enak untuk menolak permintaan. Alur kerja mereka menjadi berantakan karena kalian membutuhkan bantuan ekstra dari mereka.

Kalian mungkin ingin berhenti menyanggupi setiap permintaan orang lain, tapi kalian tidak tahu harus mulai dari mana. Oleh karena itu, Macchi menganjurkan untuk merenungkan alasan sebenarnya kalian tidak berani menolak permintaan. Macchi mengatakan, kalian bisa mulai dengan menanyakan diri sendiri, memahami batasan dan apa yang terpenting untukmu, dan menemukan “pusat gravitasi” kalian. Setelah itu, ajari diri sendiri bahwa kalian berhak menolak sebelum memikirkan strategi konkret di tempat kerja.

Jika kalian takut dengan akibat yang mungkin akan terjadi atau hanya belum terbiasa menetapkan batasan, kalian perlu “menanyakan diri sendiri apa konsekuensi terburuk yang akan dihadapi jika menolak permintaan,” tutur Capizzi. Pikirkan juga “apa manfaatnya jika kalian menyanggupi permintaan orang.”

Belajar jujur pada diri sendiri tanpa merasa bersalah memang membutuhkan waktu. Tapi kalau kalian tidak berani mengatakan apa yang sebenarnya diinginkan, bagaimana kalian bisa mengharapkan orang lain untuk memahami dan menghargai keinginanmu?

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Italy.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *