Kenapa Sih Ada Orang Sulit Setia sama Pasangan? Ini Alasan Pelakunya

[ad_1]

Hubungan gelap sering kali menyisakan luka mendalam bagi semua pihak yang terlibat. Pasangan yang selingkuh dicap tidak setia, sedangkan kekasih gelapnya dipandang merebut laki atau cewek orang. Terlepas dari kenyataan tersebut, masih banyak yang mendapati diri mereka menjalin “cinta terlarang” dan berakhir menyakiti orang-orang terdekatnya.

Meski pernah diselingkuhi oleh mantan, saya paham betapa beratnya memikul rasa bersalah telah membohongi pasangan dan label tidak setia yang mungkin akan melekat pada dirinya seumur hidup. Saya menyadari ini karena mantan pacarku pun belum bisa jujur tentang perselingkuhannya.

Joke Bruggenkamp, psikolog dan penulis The Reasons Behind Feelings, menganggap selingkuh bagaikan respons fisik. “Tubuhmu rindu dipeluk dan diinginkan seperti dulu lagi,” ujar Bruggenkamp. Menurutnya, orang tanpa sadar mencari kasih sayang kepada orang lain ketika hubungan resmi mereka memasuki masa-masa sulit. “Kamu jadi ketagihan begitu bertemu orang yang mengobarkan api cinta yang telah redup.”

Peter* paham betul rasanya menemukan kecocokan dengan perempuan yang bukan istrinya. Setelah 22 tahun menikah, batinnya mulai dirundung gelombang penolakan seksual saat ranjang tak lagi sehangat dulu.

Lelaki berkepala tiga itu merasa seperti “masuk ke dunia baru yang memberikanku perhatian penuh” setelah memadu kasih dengan perempuan lain. “Dia mampu membuat saya merasa seksi lagi dengan cara yang tak pernah saya alami sebelumnya.” Namun, rumah tangga yang telah dibangun bersama istri selama puluhan tahun terpaksa kandas.

Lain ceritanya dengan Jeanine, perempuan berusia 60-an yang sudah 30 tahun lebih menikah. Dia beberapa kali memacari orang lain setelah menikah, dan sang suami mengetahui semua hubungannya.

Ternyata Jeanine dan pasangan telah membuat semacam kesepakatan dari awal mereka bertunangan. Pasangan membebaskan Jeanine menjalin hubungan dengan siapa pun yang dia inginkan selama tidak menyeret dirinya ke dalam masalah.

Kesepakatan itu bermula dari pertemuan Jeanine dan mantan kekasih di taman. Cinta lama bersemi kembali di antara keduanya, tapi Jeanine menolak ajakan kencan. Sepulangnya ke rumah, dia bercerita kepada tunangan betapa menyesalnya dia tidak menerima tawaran itu. Bukannya marah, tunangan malah berkata “Kamu bebas mau ngapain aja, tapi jangan bawa-bawa aku,” kata Jeanine, menuturkan kembali ucapan lelaki yang sekarang menjadi suaminya.

Akan tetapi, tak semua orang legawa bila pasangannya mencintai lelaki atau perempuan lain. “Saya kehilangan segalanya setelah hubungan terbongkar istri,” ungkap Peter. “Semua orang memosisikan saya sebagai pihak yang bersalah, bahkan saya sendiri menganggapnya begitu. Tak ada yang tertarik mendengarkan alasanku dan rasanya saya seperti ditolak mentah-mentah oleh seluruh dunia.”

Padahal, menurut psikolog dan seksolog Vanessa Muyldermans, “Selingkuh bukanlah situasi yang mana satu orang menjadi korban, sedangkan yang lain pelakunya.”

Orang yang selingkuh kerap kesulitan menentukan kapan tepatnya domino pertama jatuh, alias ketika segalanya berubah buruk. Mereka bahkan syok dan terkejut oleh tingkah lakunya sendiri.

“Di momen itu, mereka belum menyadari kesalahan yang mereka perbuat pada pasangan,” jelas Muyldermans. “Sebagian besar dari mereka tidak punya niatan meninggalkan pasangan. Mereka melihat perselingkuhan sebagai peristiwa terpisah, atau sebagai pelarian dari masalah yang terjadi dalam hubungan.”

Meskipun demikian, tetap ada rasa bersalah yang mengusik hati nurani mereka yang merahasiakan hubungan dari pasangan. “Saking bucinnya, saya sampai merasa ada yang tidak beres dengan mentalku,” Maaike mengenang kembali awal dia selingkuh dengan teman kantor. “Saya mengaku kepada suami ingin menginap di rumah teman, padahal sebenarnya saya ada rencana berkencan dengan rekan kerja. Saya merasa gembira sekaligus bersalah.”

Percintaannya dengan teman kantor sangat intens, tapi juga rumit karena masing-masing sudah berkeluarga. Empat tahun mereka berpacaran, suami Maaike juga sudah mengetahui hubungan mereka. Namun, sang pacar bersikap seolah-olah tidak pernah selingkuh di depan keluarganya sendiri. Inilah yang mengakhiri pernikahan rekan kerja Maaike. “Mereka membaca email saya,” ungkapnya. “Keluarganya hancur. Kerusakan yang telah saya ciptakan tidak dapat diperbaiki.”

Bruggenkamp mengutarakan hampir semua orang yang berselingkuh pasti akan merasa bersalah karena mereka “tidak pernah bermaksud merusak kebahagiaan” orang lain. Agar seseorang bisa meredakan perasaan bersalah itu, dia menganjurkan untuk merenungkannya baik-baik. “Kamu harus menerima dan menanggung rasa bersalah, lalu pikirkan baik-baik apa sebenarnya yang membuatmu merasa bersalah.”

Kamu juga harus siap menghadapi hal-hal yang kurang menyenangkan apabila terpikir memperbaiki hubungan dengan pasangan. “Yang terpenting, kamu harus memahami betul apa yang telah kamu perbuat kepada pasangan,” ujarnya. “Mereka berhak marah.”

Bruggenkamp melanjutkan, ada kalanya harapan mengembalikan hubungan seperti semula gugur, terutama jika orang yang tersakiti sulit memaafkan tindakan pasangannya dulu. “Akan tiba waktu pasangan melupakan amarah mereka. Jika tidak, akan sulit memperbarui hubungan dan mengembalikan kepercayaan mereka.”

Jeanine menekankan tak semua perselingkuhan berakhir buruk. “Saya mengundang suami dan pacar ke acara wisuda PhD-ku. Saya tidak peduli apa kata orang. Inilah diri saya yang sebenarnya dan saya tidak mau menyembunyikan itu.”

“Orang perlu menyadari monogami bukan satu-satunya pilihan dalam menjalin hubungan,” imbuhnya. 

Peter pun sependapat. Walau pernikahannya karam, dia merasa dunia seharusnya mulai belajar dari orang-orang yang pernah selingkuh. “Selingkuh kerap terjadi karena adanya ketakutan dan rasa tidak berdaya, serta ketidakmampuan untuk mengutamakan diri sendiri,” tuturnya. “Masyarakat umum belum siap menerima cinta sejati yang lebih bebas.”

Terlepas bagaimana seseorang menyikapi perselingkuhan, ada satu pertanyaan yang terus muncul: Apakah kamu siap mengakuinya, atau memilih merahasiakannya?

Bruggenkamp mengatakan, kamu sendiri yang harus menentukan ini. Jika pada akhirnya kamu bisa tetap setia dengan pasangan resmi, tak ada keharusan untuk memberi tahu mereka. “Akan tetapi, kamu hanya akan buang-buang tenaga kalau sampai merasa harus waspada setiap saat agar tidak ketahuan pasangan.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Belgium.

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.