Kepri Rencanakan Industrialiasi Sektor Perikanan

  • Bagikan


Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) segera membangun industry perikanan terpadu dengan berbagai konsep termasuk marine city di kab. Natuna. Selain, pulau Galang di wilayah kota Batam seluas 1500 hektar diproyeksikan untuk pengembangan industry perikanan budidaya. “Ada MoU (memorandum of understanding) antara Pemprov dengan BP (Badan Pengusahaan) Batam untuk realisasinya. Sehingga dari keseluruhan perencanaan, kami bisa memanfaatkan potensi lestari ikan Kepri, (yakni) 1,1 juta ton. Tapi yang baru dimanfaatkan sekitar 33 persen setara dengan 350 ribu ton. kami kebut untuk pencapaian target 1,1 juta ton ikan,” Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengatakan kepada Redaksi melalui sambungan telepon.

Sektor perikanan tangkap tentunya harus dibarengi dengan usaha perikanan budidaya. Terutama pulau Galang berangkai dengan pulau lain yang jumlahnya sekitar seribu, sangat potensial untuk pengembangan perikanan budidaya. Pulau Galang juga rangkaian pulau besar ketiga yang dihubungkan oleh enam buah jembatan Barelang. Dulunya, sebagai pengungsian Galang dan sekarang menjadi objek wisata dan sejarah kota Batam. Jaraknya relatif dekat dengan pulau Batam (sekitar 7 km) dan connectivity efektif dengan jembatan Barelang. “Rencana pengembangan budidaya menyasar semua Kawasan pulau dengan tetap menjaga prinsip keseimbangan ekologi,” kata mantan Bupati Bintan (2005–2010 dan 2010–2015).

Kegiatan industry perusahaan pengolahan ikan di Kepri juga belum ada. Industrialisasi masih sebatas kegiatan nelayan-nelayan tangkap dengan armada perikanan skala kecil, yakni di bawah 10 GT. Sementara ikan melimpah tidak dibarengi dengan operasi sampai fishing ground yang lebih jauh, yakni Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). “(Armada) yang bisa menangkap ikan di ZEE di Natuna, Anambas hanya kapal berbobot 50 GT ke atas. Sehingga kami sedang desain bersama KKP, memproyeksikan Kepri bisa menjadi lumbung ikan wilayah barat Indonesia. Kalau wilayah timur kan sudah existing.

Kondisi geografis Kepri yang terdiri dari 2.408 pulau dengan 96 persen luas wilayahnya berupa laut menjadi satu tantangan. Kegiatan usaha perikanan budidaya di Kepri menghasilkan berbagai komoditas ekspor unggulan, seperti lobster, kepiting, ikan kerapu, ikan betutu, udang belalang, gonggong, kerang, rumput laut, udang vaname, dan ikan tenggiri.  Pasokan ikan dari Kepri hanya 20 persen dari keseluruhan pasokan ikan Indonesia. Tapi secara geografis, Kepri punya kelebihan. Lokasi strategis dekat dengan pasar-pasar internasional terutama Singapura, Hongkong, Malaysia. “Selama ini ikan dari daerah lain termasuk Aceh, Sumatera Barat juga bisa didaratkan di Batam. Berbagai jenis ikan, bahkan komoditas rumput laut potensial untuk dikembangkan. Kondisi sekarang, ikan kerapu juga sedang mahal, sampai Rp 1-2 juta per kilo. Dalam waktu dekat, kami fokus pada pusat pengembangan ikan kakap putih, karena (proses budidaya) jauh lebih mudah dibanding ikan jenis lain,” kata Ansar Ahmad.

Tidak menyia-nyiakan potensi kelautan dan perikanan di tengah bentang ribuan pulau, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) segera membangun industry perikanan terpadu dengan berbagai konsep termasuk marine city di kab. Natuna. Selain, pulau Galang di wilayah kota Batam seluas 1500 hektar diproyeksikan untuk pengembangan industry perikanan budidaya. “Ada MoU (memorandum of understanding) antara Pemprov dengan BP (Badan Pengusahaan) Batam untuk realisasinya. Sehingga dari keseluruhan perencanaan, kami bisa memanfaatkan potensi lestari ikan Kepri, (yakni) 1,1 juta ton. Tapi yang baru dimanfaatkan sekitar 33 persen setara dengan 350 ribu ton. kami kebut untuk pencapaian target 1,1 juta ton ikan,” Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengatakan kepada Redaksi melalui sambungan telepon (25/11).

 

Sektor perikanan tangkap tentunya harus dibarengi dengan usaha perikanan budidaya. Terutama pulau Galang berangkai dengan pulau lain yang jumlahnya sekitar seribu, sangat potensial untuk pengembangan perikanan budidaya. Pulau Galang juga rangkaian pulau besar ketiga yang dihubungkan oleh enam buah jembatan Barelang. Dulunya, sebagai pengungsian Galang dan sekarang menjadi objek wisata dan sejarah kota Batam. Jaraknya relatif dekat dengan pulau Batam (sekitar 7 km) dan connectivity efektif dengan jembatan Barelang. “Rencana pengembangan budidaya menyasar semua Kawasan pulau dengan tetap menjaga prinsip keseimbangan ekologi,” kata mantan Bupati Bintan (2005–2010 dan 2010–2015).

 

Kegiatan industry perusahaan pengolahan ikan di Kepri juga belum ada. Industrialisasi masih sebatas kegiatan nelayan-nelayan tangkap dengan armada perikanan skala kecil, yakni di bawah 10 GT. Sementara ikan melimpah tidak dibarengi dengan operasi sampai fishing ground yang lebih jauh, yakni Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). “(Armada) yang bisa menangkap ikan di ZEE di Natuna, Anambas hanya kapal berbobot 50 GT ke atas. Sehingga kami sedang desain bersama KKP, memproyeksikan Kepri bisa menjadi lumbung ikan wilayah barat Indonesia. Kalau wilayah timur kan sudah existing.

Kondisi geografis Kepri yang terdiri dari 2.408 pulau dengan 96 persen luas wilayahnya berupa laut menjadi satu tantangan. Kegiatan usaha perikanan budidaya di Kepri menghasilkan berbagai komoditas ekspor unggulan, seperti lobster, kepiting, ikan kerapu, ikan betutu, udang belalang, gonggong, kerang, rumput laut, udang vaname, dan ikan tenggiri.  Pasokan ikan dari Kepri hanya 20 persen dari keseluruhan pasokan ikan Indonesia. Tapi secara geografis, Kepri punya kelebihan. Lokasi strategis dekat dengan pasar-pasar internasional terutama Singapura, Hongkong, Malaysia. “Selama ini ikan dari daerah lain termasuk Aceh, Sumatera Barat juga bisa didaratkan di Batam. Berbagai jenis ikan, bahkan komoditas rumput laut potensial untuk dikembangkan. Kondisi sekarang, ikan kerapu juga sedang mahal, sampai Rp 1-2 juta per kilo. Dalam waktu dekat, kami fokus pada pusat pengembangan ikan kakap putih, karena (proses budidaya) jauh lebih mudah dibandin ikan jenis lain jelas Ahmad.

Photo: Krakasmedia

Yuan Adriles
Latest posts by Yuan Adriles (see all)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *