Kesadaran Kalbu, Ma’rifatullah Menurut Syaikh Abdul Qadir Jilani

Masjid terapung paling indah di dunia, indonesia juga punya. (Foto: Istimewa)

[ad_1]

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan :

“Maksud dari ma’rifatullah adalah membangun kesadaran dalam kalbu bahwa Allah sangat dekat dengan dirinya, selalu menjaganya, berkuasa atas dirinya, menyaksikannya dan mengetahui tindakan-tindakannya.

Ma’rifatullah adalah meyakini bahwa Allah Maha Mengawasi dan Maha Memelihara, Maha Esa, dan Maha Agung, yang tak ada sekutu dalam kerajaan / kekuasaan-Nya. Jika berjanji Dia menepati.

Jika menjamin, Dia memenuhi dan jika diminta, Dia akan mengabulkan. Dia adalah tempat kembali seluruh makhluk dan sumber segala tindakan, Dia berkuasa memberi pahala dan siksa, tidak ada sesuatu pun yang menyerupai dan menyamai-Nya.

Dialah Allah Yang Maha Mencukupi dan Maha Penyayang, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Dia mengetahui semua yang gaib dan samar, bahkan sesuatu yang terpendam di dalam kalbu, terdetak dalam pikiran, kegalauan hati, keinginan, cita, gerakan tubuh, hingga kerlingan mata, lirikan dan sorot sindiran, serta semua hal yang ada di atas atau bawah semua hal tersebut, yang sangat lembut hingga yang tak dapat diketahui, dan sangat besar hingga yang tak mungkin digambarkan. Sungguh, Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Jika seseorang telah menanamkan kesadaran seperti ini dalam dirinya dengan keyakinan sempurna dan kokoh, beserta amal-amal kebaikan yang bermanfaat, kemudian diterjemahkannya dalam setiap anggota tubuh, setiap persendian, urat nadi, rambut dan kulit, lalu dia yakin bahwa Allah yang mengurus semua itu, mengetahui seluk-beluknya, dan mengawasi segala gerak-geriknya tanpa ada satu pun yang terlewat.

Jika semua itu telah tertanam dalam kalbunya disertai tekad yang benar dan akal sempurna, maka berarti dia telah melakukan muhasabah dan memahami makrifatullah. Dia pun akan berada di tempat mulia di sisi Allah dengan kewaspadaan tingkat tinggi yang menyertainya dalam segala kondisi. Ini adalah tingkatan para ulama ahli makrifat yang bertakwa dan wara’.”

Demikian Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Al-Ghunyah lithalib Thariq al-Haqq.

Semoga kita dan seluruh keluarga kita selalu bertakwa kepada Allah, selalu cinta kepada Allah, selalu mendapat cinta dan ridha-Nya. Amiin….!!!

Begitulah pesan dan tausiyah pagi Ust Keman Almaarif. Semoga bermanfaat.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.