Ki Manteb Sudarsono, Kepergian “Dalang Oye” Menghadap Sang Khaliq

  • Bagikan
Ki Manteb Sudarsono, Dalang Wayang Kulit terkenal. (Foto: Istimewa)


Ki Manteb Sudarsono, dalang Wayang Kulit terkenal, meninggal dunia, Jumat 2 Juli 2021, pukul 09.47 WIB. Seniman kenamaan asal Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah, mengembuskan nafas terakhir di rumahnya dalam usia 72 tahun.

Sekretaris Paguyuban Dhalang Surakarta (Padhasuka), Ki Sugeng Nugroho, membenarkan tentang kabar duka itu. Kepergian Ki Dalang yang dikenal sebagai tokoh iklan “Oskadon Oye!” menyisakan duka bagi kalangan kesenian di Indonesia.

“Mas Manteb wafat pagi ini. Baru saja saya dikabari oleh Mbak Warti (istri Ki Manteb). Mas Manteb wafat di rumahnya. Ini saya sedang perjalanan ke rumah duka,” ujar Ki Sugeng, dalam keterangan beredar di media sosial.

“Ya. Betul, kami juga baru mendapat kabar pukul 9.47 beliau wafat. Innalilahi wainnailaihi raji’un. Lahul Fatihah…semoga almarhum husnul khatimah,” kata Aton Rustandi di WhatsApp Grup (WAG) Komunitas Seni Indonesia.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ndhèrèk bélasungkawa awit sédanipun Ki Manteb Sudarsono. Mugi almarhum séda husnul khotimah, dipun apunten sedaya dosa kalepatanipun, lan dipun tampi sedaya amal kasaénanipun. Aamiin.

“(Ikut belasungkawa terkait wafatnya Ki Manteb Sudarsono. Semoga almarhum wafat husnul khatimah, diampuni segala dosa dan kesalahatannya, dan diterima semua amal kebaikannya. Amiin)” kata Bambang Pujasworo.

Sang dalang kelahiran Palur, Solo 31 Agustus 1948, Palur Solo (Jawa Tengah) ini menghadap kepada Sang Khaliq, Sang Penciptanya. Dialah Sang Dalang Agung, Pencipta Alam Semesta.

Dalang Setan, Karya dan Data Pribadi

Ki Manteb Soedharsono, dikenal sebagai seorang dalang wayang kulit khas. Karena keterampilannya dalam memainkan wayang, ia pun dijuluki para penggemarnya sebagai Dalang Setan. Ia juga dianggap sebagai pelopor perpaduan seni pedalangan dengan peralatan musik modern.

Seniman ini, dikaruniai sejumlah putra: Danang Suseno, Gatot Tetuko, Medhot Samiyana, Retno Palupi, Endar Maryati, Anik Wijayanti. Istri Ki Manteb, di antaranya, Suwarti meninggal dunia lebih dulu pada 2014. Ki Manteb kemudian menyunting Ny Sri Suwarni (1978–2005).

Darah seniman Ki Manteb Sudarsono mengalir dari darah seorang seniman Jawa pula. Dialah Ki Hardjo Brahim Hardjowijoyo dan Nyi Darti. Sebuah buku terbit, “Ki Manteb Soedharsono: Pemikiran dan Karya Pedalangannya” menjadi monumen ingatan bagi pencinta kebudayaan di Indonesia.

Ki Manteb dan Keluarga

Ki Manteb Sudarsono memiliki enam orang anak kandung. Satu dari istri pertama, satu dari istri kedua, dua dari istri ketiga dan dua dari istri kelima. Danang mengaku semua anak Ki Manteb memiliki hubungan baik satu dengan yang lain.

Selain enam anak kandung, Ki Manteb memiliki satu anak angkat bernama Bagas. Bocah lima tahun itu kini diurus oleh istri kedelapan, Suwarti, yang dinikahi Ki Manteb pada 2015.

Ki Manteb Sudarsonosaat mendalang. (Foto: Istimewa)

Penghargaan dari UNESCO

Ki Manteb Sudarsono dikenal sebagai inisiator Hari Wayang Nasional. Berawal dari dari gagasan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), pada 2003 meminta dalang Ki Manteb Sudarsono mewakili Indonesia dalam seleksi yang dilakukan Unesco, lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang akan memberikan penghargaan master piece untuk berbagai produk kebudayaan dari beberapa negara.

Ki Manteb diminta mengirimkan rekaman video pertunjukan wayang kulit dengan durasi 3 menit 2 detik. ideo wayang kulit dengan lakon “Dasamuka Lena” tersebut dinyatakan berhak sebagai penerima penghargaan utama Unesco Award pada 7 November 2003, dengan menyisihkan 138 negara lainnya.

Pada 7 November 2003 PBB melalui Unesco, lembaga dunia yang membidangi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan tersebut menetapkan wayang sebagai warisan budaya dunia. Wayang dinyatakan sebagai sebagai karya agung budaya dunia non bendawi (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Pada 21 April 2004, Ki Manteb mendapat kehormatan untuk menerima piagam penghargaan dan menampilkan pagelaran wayang kulit secara langsung di Markas Unesco Paris. Ki Manteb mengulangi persis videonya, membawakan lakon yang sama yaitu Dasamuka Lena. Pentas tersebut dinilai menampilkan nilai filsafat yang tinggi, bukan sekadar hiburan. Tokoh Dasamuka yang tidak bisa mati adalah simbol hawa nafsu.Artinya hawa nafsu akan tetap ada selama manusia ada.

“Karena nilai lebih pada filsafat itulah, wayang Indonesia dimenangkan,” kata Manteb, saat memberi keterangan ketika itu.

Sejarah Hari Wayang Nasional, Menunggu 15 Tahun

Piagam penghargaan dari Unesco dibawa pulang oleh Ki Manteb dan diserahkan ke Sekretariat Negara. Ia meminta kepada pemerintah untuk segera menetapkan Hari Wayang Nasional serta mengumumkan kepada masyarakat bahwa wayang sudah dapat pengakuan dunia. Ia berharap 7 November dijadikan Hari Wayang Nasional sesuai dengan tanggal penetapan wayang sebagai warisan dunia.

“Wayang sudah diakui dunia, sekarang dalangnya mau ngapain?” tanya Ki Manteb. Tokoh ini, pun penerima penghargaan “Nikkei Asia Prize Award 2010” dalam bidang kebudayaan.

Ki Manteb Sudarsono dan tokoh wayang kesayangannya, Krisna. (Foto: Istimewa)
Ki Manteb Sudarsono dan tokoh wayang kesayangannya, Krisna. (Foto: Istimewa)

Kenangan Perayaan Hari Wayang Nasional

Ki Manteb Sudarsono tampil memelopori pertunjukkan, pada 4-5 September 2004 bertepatan dengan Hari Radio Ke-59 di halaman RRI Semarang. Seniman kondang ini menggelar pertunjukan wayang 24 jam nonstop mementaskan cerita “Bharatayudha”, mulai dari lakon “Kresna Duta” sampai “Duryudono Gugur”.

Ketika itu, Ki Manteb mengaku “hanya makan telur rebus dan minumnya es teh”. Di luar arena pertunjukkan, telah disiapkan ambulan dan tiga dokter, guna menjaga kesehatan Sang Dalang.

Salat, Makan, dan Ganti Baju di Depan Keliar

Setelah pagelaran berakhir, Museum Rekor Indonesia(MURI) memberikan penghargaan untuk pertunjukan wayang terlama yaitu selama 24 jam 28 menit tanpa istirahat. Sepanjang pertunjukan, Ki Manteb memang tidak mengambil jeda istirahat. Salat, makan, dan ganti baju dilakukan di depan kelir.

Setelah penantian selama 15 tahun, akhirnya Hari Wayang Nasional di tetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden yang ditandatangani Presiden Jokowi pada 17 Desember 2018. Hari Wayang Nasional diperingati setiap 7 November.

Menurut Ki Manteb, Hari Wayang Nasional merupakan pengingat bagi kita semua bahwa wayang sudah diakui dunia dan harus di lestarikan.

Sebagai penghargaan pada presiden, maka pada saat wayangan di Istana Negara, 2 Agustus 2019, Ki Manteb menyerahkan tokoh wayang Kresna kepada Presiden Jokowi.

Berdampak Besar

Untuk kalangan seniman wayang kulit, khususnya dalang, Hari Wayang Nasional mempunyai dampak yang besar. Para dalang yang dulunya jarang pentas pada Hari Wayang Nasional ini, semua dalang ikut terlibat dalam wayangan. Pada tanggal 7 November 2019 di Karanganyar diselenggarakan pagelaran wayang kulit dengan 17 dalang dan 2 kelir.

Pada perayaan Hari Wayang Nasional yang pertama bulan November 2019, Ki Manteb mementaskan pagelaran wayang di halaman RRI Semarang, dengan lakon “Wahyu Darma”.

Sebelum pentas Ki Manteb menyerahkan seperangkat beskap Jawa lengkap dengan blangkon, stagen dan jarik kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk dipajang di Museum Ronggowarsito Semarang.

Seperangkat beskap jawa tersebut terakhir kali dipakai Ki Manteb untuk pentas di Markas Unesco, saat wayang ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia.

“Niat saya menitipkan pakaian dalang ini di museum hanya semata-mata untuk menjadi pengingat bahwa wayang telah diakui sebagai warisan dunia dan bisa menjadi kenang-kenangan bagi anak cucunya kelak,” kata putera Ki Hardjo Brahim almarhum yang juga seorang dalang.

Selamat jalan, Ki Manteb Sudarsono. Semoga damai di Sisi Sang Khaliq. Alfatihah! Amin. (Riadi Ngasiran)



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *