Kisah Dosen Unesa Surabaya Bantu Pengungsi Ukraina di Polandia

Dosen Unesa  Khofidotur Rofiah saat menjalankan tugas sebagai relawan di Polandia bantu warga Ukraina. (Foto: Istimewa)

[ad_1]

Dosen Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Khofidotur Rofiah datang ke Polandia. Ia menjadi menjadi relawan di posko penyediaan dan penerimaan kebutuhan pokok bagi warga Ukrania yang mengungsi.

Seperti diketahui konflik antara Rusia dan Ukraina berbuntut pada peperangan sejak 24 Februari lalu, membuat para penduduk Ukraina mengungsi ke berbagai negara, salah satunya ke Polandia. Kementerian Dalam Negeri Polandia melaporkan sekitar 500 ribu warga Ukrania datang mengungsi ke Polandia.

Dosen Unesa yang akrab disapa Fia itu mengatakan, semenjak gelombang pengungsi berdatangan ke Polandia, secara cepat melalui media sosial warga di sana mengumpulkan semua kebutuhan pokok mulai dari makanan, pakaian, baju, selimut, perlengkapan mandi, mainan anak-anak, obat-obatan untuk disalurkan kepada para pengungsi.

“Alhamdulilah saya dapat kesempatan untuk membantu mengumpulkan, menyeleksi, mengemas dan menyalurkan berbagai kebutuhan pokok kepada para pengungsi,” ujarnya melalui sambungan telepon, Sabtu 5 Maret 2022.

Meski cukup menguras tenaga, waktu dan butuh mobilitas tinggi serta was-was yang selalu menghantui, bagi Fia itu tidak menjadi hambatan yang berarti, karena urusan kemanusiaan adalah yang terpenting.

Menjadi relawan di Polandia bukan yang pertama baginya, selama di Indonesia, sejak jadi mahasiswa sampai diangkat jadi dosen, aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemanusiaan pada Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Unesa.

“Perang di kedua negara ini mengancam keselamatan penduduk. Warga di sini (Polandia) saja khawatir dan takut, apalagi warga Ukraina dan Rusia, tentu secara psikologis sangat terguncang,” jelasnya.

Warga Ukraina yang mengungsi, lanjutnya, terbagi dalam beberapa kategori, ada yang memiliki tujuan untuk menyelamatkan diri ke keluarga, kerabat atau temannya di Polandia dan banyak juga yang tidak memiliki keluarga atau teman.

“Jadi di pusat atau posko penerimaan, pemerintah siapkan pusat informasi, nanti mereka yang ada keluarganya diarahkan ke daerah tujuan, bahkan disiapkan akomodasi,” terangnya.

Sementara, bagi pengungsi yang tidak memiliki keluarga disiapkan akomodasi dan kebutuhan pokok di pusat pengungsian dan pemerintah menjamin hak-haknya. “Namanya perang menyangkut keselamatan tentu takut dan tertekan. Kasihan sama yang rentan-rentan, orang tua, ibu-ibu dan anak-anak,” ungkapnya.

Ia pun berharap, perang segera usai dan kedua negara segera berdamai.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.