Kisah Pesepakbola Berbakat yang Hidupnya Hancur Akibat Konflik di Kashmir

  • Bagikan



“Jiwa rasanya seperti meleleh.”

Begitulah yang dirasakan lelaki 24 tahun bernama Murad ketika pertama kali merokok charas, konsentrat yang terbuat dari tanaman ganja. Dia baru 12 tahun saat itu.

Nama asli Murad diubah untuk melindunginya dari konsekuensi hukum.

Dia menjajal charas di hari yang tak terlupakan baginya. Bukan karena itu pertama kalinya dia merokok, melainkan karena memenangkan pertandingan sepakbola antar kampung. Dia terpilih sebagai kapten tim saat itu. “Saya melakukannya dengan baik,” kenangnya dengan senyum mengembang.

Kecintaan Murad pada sepakbola melebihi apa pun. Baginya, olahraga itu “zona aman” terakhir di salah satu wilayah paling diperebutkan di dunia — Negara Bagian Jammu dan Kashmir  di utara India yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dia tinggal di Anantnag, kota di wilayah Kashmir yang dikuasai oleh India.

Berbagai laporan menunjukkan penyalahgunaan narkoba di Kashmir meningkat tajam selama tiga tahun terakhir, dengan perkiraan kenaikannya hampir 1.500 persen. Anak-anak berusia 10 bahkan dibawa ke tempat rehabilitasi akibat ketergantungan obat-obatan terlarang. Pihak berwenang India telah mengaitkan lonjakan tiba-tiba itu dengan “terorisme narkotika” yang diduga ulah Pakistan, wilayah yang berbatasan dengan Jammu dan Kashmir sepanjang 1.222 kilometer.

Namun, kenyataan di lapangan begitu rumit. Tingkat pengangguran yang tinggi, depresi, kegelisahan dan kasus bunuh diri yang kian mengkhawatirkan menjerumuskan anak muda Kashmir ke jurang narkoba.

Dua tahun lalu, pemerintah India mencabut Pasal 370 Konstitusi India yang memberikan status istimewa untuk wilayah Kashmir yang berkaitan dengan identitas dan budayanya. Sejak itu, masa depan penduduk Kashmir menjadi tak pasti. Wilayah persatuan tersebut mencatat tingkat pengangguran terburuk kedua di negara itu dan peningkatan masalah kesehatan mental akibat pandemi dan kebrutalan militer yang dikerahkan India untuk meredam protes dan pemberontakan.

Kisah Murad mungkin menggambarkan betapa dalam ketakutan yang dirasakan warga akibat konflik, serta kesepian di tingkat individu.

“Ketika saya memenangkan pertandingan pertama, saya ingin beli perlengkapan sepakbola sebagai hadiah untuk diri sendiri,” tuturnya. “Orang tua setuju, makanya saya membeli sepasang sepatu yang mengilap. Saya tak pernah menyangka sepatu itu tidak akan pernah saya pakai. Malamnya, saya melihat teman-teman merokok charas di luar lapangan sekolah. Entah karena masih semangat setelah menang atau ada yang lain, tapi saya ikutan merokok.”

Dia menyadari telah ketergantungan ketika uang untuk biaya sekolah habis buat beli chara. “Saya tidak pernah merasa puas,” ujarnya. “Charas tak mampu mengatasinya. Efek charas bercampur dengan gangguan kecemasan yang saya miliki. Setiap malam, saya berhalusinasi melihat ratusan setan kecil mengelilingi kasur dan menggerogoti kaki.”

Sementara sepatu bola Murad teronggok di sudut rumah, dia kelimpungan menghadang makhluk-makhluk yang menghantui pikiran, sendirian di kamarnya. Keringat mengucur deras dan matanya merah karena gelisah sepanjang hari.

“Kecemasan itu amat mencekik. Karena ada efek tambahan dari charas, kecemasan yang dirasakan tidak membuat saya malas meninggalkan tempat tidur. Saya malah berharap itu yang terjadi,” Murad menerangkan. “Rasanya saya ingin berkelahi dengan siapa saja dan menjauhi orang tua. Barisan semut bahkan membuat saya marah besar. Tak ada lagi ruang aman untuk saya — baik itu orang tua maupun sepakbola.”

Putus asa, dia mulai mengonsumsi obat penenang tanpa pengawasan dokter. Awalnya Murad menenggak alprazolam (lebih dikenal dengan sebutan Xanax) untuk meredakan kecemasan, tapi kemudian beralih ke opioid macam kodein, yang penyalahgunaannya juga merajalela di kalangan anak muda India. Murad akhirnya putus sekolah saat usianya beranjak 15 tahun.

Sebagian besar waktunya terbuang sia-sia untuk nongkrong bareng teman di gedung bekas krematorium yang kumuh. 

“Hidup orang tua hancur,” katanya. “Saya masa bodoh setiap ada anggota keluarga atau tetangga yang meninggal. Saat saya kecanduan heroin, saya mulai berhalusinasi orang-orang terdekat sebetulnya tentara bersenjata yang ingin membunuh saya.”

Suatu hari, Murad dan kawan-kawannya dilaporkan ke polisi. Salah satu temannya berontak saat ditangkap, sehingga polisi menyeretnya keluar rumah di siang bolong. Yang membuat Murad ketakutan bukanlah penangkapan tersebut, melainkan saat menyaksikan teman sakau di dalam penjara. Temannya mengalami ketergantungan opium yang sangat parah.

“Dia menjambak rambutnya keras-keras,” Murad mengenang momen memilukan itu. “Dia jerit-jerit, memohon agar dikasih opium. Polisi akhirnya memberi dia alprazolam. Baru kali ini mereka menyaksikan yang seperti ini.”

Krisis opium telah menghantui Kashmir selama puluhan tahun. Baru-baru ini, penemuan ladang bunga poppy (opium) di dekat sekolah dikhawatirkan dapat memicu remaja terlibat dalam narkoba. Penduduk Kashmir sejak lama terkenal sebagai penghasil biji poppy yang banyak dijadikan bahan kue. Namun, tingginya permintaan opium di Kashmir, Punjab dan Rajasthan menggoda sejumlah petani untuk menjual seluruh tanaman mereka ke tengkulak, yang menyulap sebagiannya menjadi obat bubuk. 

“Selalu ada sentakan mendalam yang dibutuhkan setiap pecandu. Buat saya pribadi, teriakan pecandu opium yang menggema ke seluruh ruangan kantor polisi pukul tiga pagi,” ungkapnya.

Jeritan itu masih terngiang di benak Murad bahkan ketika dia melatih diri untuk lepas dari narkoba. Dia baru memutuskan masuk rehabilitasi setelah temannya meninggal dunia.

Tahun lalu, dia mendatangi pusat penanggulangan kecanduan narkoba di Ibu Kota Srinagar. Di sinilah Murad menemukan ruang aman yang selama ini dia cari. 

“Saya berada di sana selama enam bulan. Semuanya serba gratis, sama seperti pusat penanggulangan narkoba lain yang dikelola pemerintah di Kashmir. Mereka mengobati saya secara holistik. Saya sangat berterima kasih kepada mereka,” katanya. “Di sana ada kolam renang dan tempat gym, juga ruangan untuk melukis. Sesi konseling wajib diikuti. Pasien terbebas dari prasangka dan sifat menghakimi. Seharusnya memang seperti itu.”

Sudah setahun Murad bersih dari narkoba. Dia sekarang membuka toko kelontong tak jauh dari rumahnya di Anantnag. Penghasilannya cukup untuk menghidupi diri sendiri.

“Dulu ayah punya toko pupuk. Saya mengambil alih toko dan mengubahnya jadi warung setelah sembuh,” dia mengutarakan.

Masih banyak yang harus dilewati Murad, meski dia sudah berhenti memakai narkoba. Yang paling berat adalah menghapus stigma di masyarakat.

“Pasti ada saja yang membicarakan saya ke manapun saya pergi. Jika ada yang belanja di warung, muncul omongan mereka mendatangi warungnya pecandu,” tutur Murad. “Saya bisa melihat kebencian dan kekecewaan di mata mereka. Dunia ini terlalu sibuk menjatuhkanmu, padahal kehidupanmu sudah sangat terpuruk.” 

Akan tetapi, dia menyadari kemajuan yang telah dicapai mampu membantunya melalui semua itu.

“Saya tidak boleh memasukkannya ke dalam hati. Saya masih menyimpan perlengkapan sepakbola yang saya beli di kelas tujuh sebagai pengingat seberapa jauh saya telah melangkah. Siapa tahu suatu hari nanti saya bisa main bola dan memenangkan pertandingan lagi.”

Follow Arman Khan di Instagram.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *