Kumpulan Foto Surreal dari Berbagai Perbatasan Negara

[ad_1]

Bagi fotografer Rafal Milach, tembok perbatasan tak hanya sebatas mencegah orang masuk ke suatu negara. Struktur ini telah menjadi simbol perpecahan dan propaganda yang kuat.

Milach telah mengamati mekanisme kontrol politik dalam arsitektur dan struktur sosial lain selama bertahun-tahun. Sebagai lelaki kelahiran Polandia, dia memahami rasanya hidup di balik Tirai Besi. Karena itulah dia memusatkan perhatian pada negara-negara bekas Blok Timur dalam karya sebelumnya yang bertajuk Refusal. Proyek ini terpilih untuk menerima Penghargaan Deutsche Börse Photography Foundation pada 2018.

Diterbitkan oleh GOST Books, buku foto terbaru Milach yang berjudul I Am Warning You menunjukkan bahwa bangunan semacam ini tersebar di mana saja. Bukunya terbagi dalam tiga bagian: #13767 mengamati tembok perbatasan Amerika Serikat-Meksiko, I Am Warning You berfokus pada perbatasan Hongaria-Serbia-Kroasia, dan Death Strip mengintip keadaan Tembok Berlin 30 tahun kemudian.

“Kayaknya bagus kalau ada proyek yang tidak terikat dengan wilayah bekas Blok Timur, supaya orang bisa menyadari masalah yang saya sentuh tidak terjadi pada geografi tertentu saja,” Milach memberi tahu VICE. “Bagi saya, tembok perbatasan adalah simbol terkuat dari pembagian geopolitik, propaganda, krisis migran… itulah hal pertama yang biasanya dikaitkan dengan wilayah ini.”

Pada musim semi 2018, studio Magnum menanyakan kesediaan Milach untuk melaksanakan proyek foto di tembok raksasa yang memisahkan Meksiko dari AS. Dia melihat sebuah kesempatan untuk menyelidiki perpecahan yang diwujudkan oleh Donald Trump.

“Pagar dan temboknya telah berdiri hampir 30 tahun, dan sudah sering dieksploitasi oleh seniman dan fotografer,” tuturnya, mengacu pada pagar yang memisahkan San Diego dan Tijuana selama pemerintahan Bill Clinton pada awal 90-an. “Kalau saya lebih tertarik pada momen saat pagar berubah menjadi tembok, lalu diperkuat.”

Milach dua kali mengunjungi perbatasan di Amerika, dan menghabiskan masing-masing 10 hari di Hongaria dan Jerman. Yang pertama merupakan tugas dari Goethe-Institut untuk memperingati 30 tahun reunifikasi Jerman pada 2019.

Perjalanan Milach di setiap negara dibimbing oleh temuannya di lapangan. Selama mengunjungi Hongaria, dia terkejut melihat seperti apa penjagaan di perbatasan yang dibangun untuk mengatasi krisis migran Eropa pada 2015. Sementara pasukan militer dan aparat berpatroli di sekitar perbatasan, warga sipil ikut berjaga di sana.

“Di satu desa, warga terbagi dalam kelompok tiga orang untuk mengawasi kalau-kalau ada migran yang ingin melintasi perbatasan. Ini sangat mengerikan karena warga berinisiatif sendiri — kalian bisa melihat cara kerja propagandanya. Gelombang imigrasi melewati Hongaria dan itu bukan tujuan akhirnya, tapi mereka memutuskan untuk mempersulitnya,” terang Milach, lalu mengakui betapa buruk Polandia dalam menangani imigran.

“Bertemu orang-orang ini, beberapa tahun setelah lalu lintas berhenti, itu adalah tandingan gelap dari pengalaman saya menelusuri pagar Hongaria di tempat lain yang diliputi keheningan dan kekosongan luar biasa.”

Milach mengambil pecahan Tembok Berlin di pasar loak dekat “death strip”, ruang di antara dua bagian tembok — tempat ratusan orang tewas terbunuh.

“Saya memikirkan ide materialitas, serta sejarah dan waktu. [Saya memikirkan] di mana saya bisa menemukan tembok atau bagian dari tembok ini,” Milach menjelaskan. “Saya langsung menyadari sebagian besar telah dibongkar dan sekarang dijual online.” Menurutnya, bagian tembok yang masih berdiri bagaikan monumen yang dimanfaatkan industri pariwisata kota untuk kepentingan baru. 

Meski kemanusiaan adalah inti dari karya Milach, fokus proyek ini adalah struktur yang tidak memanusiakan manusia dan pengalaman pribadi mereka. Selain terinspirasi oleh suara robot yang terdengar di pagar Hongaria-Serbia-Kroasia, judul I Am Warning You juga bisa bertindak sebagai deklarasi yang kuat.

“Suaranya dihasilkan sistem, tapi pesannya bisa dibalikkan oleh masyarakat yang memahami advokasi gelap dan struktur kontrol ini,” ujar Milach. “Isi pesannya bisa saja ‘Saya memperingatkanmu, sadarlah ini sedang terjadi dan kalian mungkin bisa melakukan sesuatu untuknya.’”

Dia sadar fotografi memiliki kekuatan untuk menantang status quo. “Ini senjata yang saya miliki,” katanya. “Bersama organisasi dan aksi aktivis, fotografi bisa menjadi alat persuasif. Untuk membuat pernyataan kritis tentang fungsi sistem yang menindas — itu yang bisa saya lakukan.”

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.