Kurban Seekor Sapi, Kiai Bisri dan Jawaban Mengejutkan Kiai Wahab

  • Bagikan
KH Bisri Syansuri dan KHAbdul Wahab Hasbullah bersama Jend A.H. Nasution, KH Mahrus Aly dan Habib Alwi Alhadad dalam suatu kesempatan kegiatan NU. (Foto: Sirah An-Nahdliyah)


Kiai pesantren selalu menjadi rujukan pertanyaan umat bila menghadapi masalah. Menjelang Idul Adha, seseorang bertanya tentang bolehkah berkurban seekor sapi tapi untuk 8 orang.

Orang itu bertanya pada Kiai Bisri Syansuri, Pengasuh Pesantren Denanyar Jombang. “Yai, bolehkah saya berkurban 1 sapi untuk 8 orang?”

Kiai Bisri menjawab, “Tidak boleh, 1 sapi itu hanya untuk 7 orang, yang 1 nanti kurban pakai kambing.”

Ketentuan fiqih memang mengajarkan sebagaimana yang diungkapkan Kiai Bisri. Kiai Bisri memang dikenal sebagai orang yang teguh memegang ilmu fiqih, sampai-sampai cucunya sendiri, KH Abdurraman Wahid (Gus Dur) dan juga Rais ‘Aam PBNU KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh, menyebutnya sebagai Pecinta Fiqih Sepanjang Hayat.

Setelah mendengar jawaban dari Kiai Bisri orang itu merasa belum puas. “Bagaimana mungkin satu keluarga yang 7 naik sapi tapi yang 1 naik kambing. Alangkah kasihan yang 1 orang itu,” pikirnya.

Jawaban Diplomatis Kiai Wahab Hasbullah

Akhirnya orang itu bertanya pada Kiai Wahab Hasbullah di Pesantren Tambakberas Jombang, dengan pertanyaan yang sama, seperti yang diajukan pada Kiai Bisri.

Lalu dijawab oleh Kiai Wahab, “Boleh saja.”

“Tapi katannya 1 sapi itu hanya utuk 7 orang Yai?” orang itu bertanya lagi.

“Iya, memang untuk 7 orang,” lalu beliau berbalik bertanya, “shahibul qurban yang terakhir itu umurnya berapa?”

“Masih kecil, Yai.”

“Ya, kalau begitu ‘kan nanti kambingnya itu untuk pijakan (ancik-ancik, dalam bahasa Jawa) anak yang masih kecil itu, kalau dia mau naik sapi ‘kan kasihan dia belum sampai jadi harus ada pijakannya dulu”.

Catatan Redaksi:

Kiai Wahab Hasbullah memang dikenal sebagai kiai yang diplomatis, tapi bukan berarti beliau tidak ahli fiqih. Jawaban dari Kiai Bisri dan Kiai Wahab sebenarnya intinya sama, cuma mereka berbeda cara dalam menghadapi umat.

Perbedaan cara bersikap antara Kiai Bisri dan Kiai Wahab menunjukkan adanya perbedaan karakter kepribadian di antara kedua ulama kharismatik ini. Kepekaan membaca psikologi orang dan kepandaian diplomasi Kiai Wahab telah menghadirkan jawaban yang lebih menentramkan dan “rasional” menurut ukuran lawan bicaranya, tanpa sedikit pun menyimpang dari aturan fikih yang ada.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *