Lagu Klasik ‘Unwell’ dari Matchbox Twenty Makin Relevan dengan Hidup Kita Sekarang

  • Bagikan


Makna lagu 'Unwell' dari Matchbox Twenty untuk hidup di masa pandemi

Matchbox Twenty. Foto milik Randall Slavin, Atlantic Records

Pandemi mengajarkan kita, tak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja—sebuah pesan yang sebetulnya telah digaungkan frontman Matchbox Twenty Rob Thomas sejak awal 2000-an.

Dirilis lewat album More Than You Think You Are pada 2002, “Unwell” menjadi salah satu lagu pop terpopuler sepanjang masa. Lagu tersebut sering diputar di radio, dinyanyikan saat karaoke dan kini lembaran lirik aslinya dijual sebagai NFT. Meski usianya sudah belasan tahun, makna lagu “Unwell” tetap relatable bagi kita semua.

“Kayaknya baru kemarin perkataan ‘Saya tidak baik-baik saja’ masih dipenuhi stigma. Orang tidak berani mengungkapkan perasaannya dan mencari bantuan,” Thomas memberi tahu VICE. “Lagu ‘Unwell’ intinya mengatakan kalau ‘Saya tidak baik-baik saja.’”

Sesuai judul, lirik lagunya menggambarkan rasa sakit, keraguan, rasa tidak aman dan isolasi yang sering menyertai serangan panik, kondisi mental yang dialami lelaki 49 tahun itu sejak lama.

“Lagunya tentang merawat diri dan perasaan tidak nyaman dengan diri sendiri dan [bagaimana] dunia melihatnya. Kamu merasa dirimu aneh,” katanya kepada DJ Steve Aoki dalam video yang diunggah ke akun resmi band di Instagram.

“Dengan adanya media sosial… itu menjadi lebih lazim daripada sebelumnya.”

“All night hearing voices tellin’ me / That I should get some sleep / Because tomorrow might be good for somethin’ / Hold on, feelin’ like I’m headed for a breakdown / And I don’t know why.”

Lirik lagu “Unwell” menceritakan soal pengalaman pribadi Thomas saat berjuang melawan gangguan kecemasan. “Lagu itu menceritakan tentang diri saya yang semakin tidak percaya diri dalam situasi sehari-hari dan menyaksikan perubahan yang terjadi,” tuturnya.

“Saya mulai mengalami serangan panik kecil saat sedang menulis lagu ini. Gejala memburuk seiring berjalannya waktu, tapi lagu ini menunjukkan kalau saya baru menyadari punya pekerjaan yang mana saya merasa nyaman tampil di depan ribuan orang, tapi rasanya seolah-olah saya berdiri di luar diri saya sendiri di ruangan ramai.”

Penggalan lirik favorit Thomas yaitu “Tomorrow might be good for something”.

“Ini penuh harapan,” ujarnya. “Walaupun harapannya kecil.”

unwell 2003 song matchbox twenty

Foto milik Randall Slavin​, Atlantic Records

Gangguan kecemasan merupakan salah satu masalah kejiwaan yang diderita jutaan orang dari segala usia. Pakar menjelaskan, gejalanya berupa perasaan negatif, seperti stres, gelisah, takut dan, sering kali membuat penderitanya merasa kewalahan. Dalam kasus yang lebih serius, beberapa mengalami tekanan psikologis. Kondisi ini terutama terjadi selama pandemi. Lockdown berkepanjangan dan siklus berita buruk yang tiada hentinya memicu perasaan resah dan kesepian.

Thomas dilanda rasa kecemasan dan serangan panik pada saat harus tampil di depan ribuan penggemar selama konser dan tur keliling dunia. Lama-lama dia memutuskan untuk membicarakan kondisinya melalui musik.

“Lagunya semakin penting sekarang, ketika kecemasan kolektif kita terus meningkat. Sebagian besar dari kita sadar kita tidak merasa baik-baik saja, tapi membicarakannya membutuhkan perjuangan besar,” kata lelaki yang memimpin band rock populer di era 90-an dan awal 2000-an.

Sama seperti kebanyakan orang lainnya, kehidupan Thomas selama pandemi tidaklah mudah. Usai kehilangan teman dan anggota keluarga, dia kini mengkhawatirkan keadaan istrinya yang sakit-sakitan dan belum layak untuk divaksin.

“Ini sebuah tantangan,” ungkapnya. “Kalau pun saya sudah divaksin, kami harus tetap berhati-hati.”

Dibandingkan lagu-lagu hits Matchbox Twenty seperti “Push”, “Bent” “If You’re Gone” dan “Disease” (yang ditulis bersama Mick Jagger), “Unwell” menandakan berakhirnya ciri khas rock dari band itu. Lagunya lebih lambat dan dibuka dengan iringan banjo.

“Saat mulai menulis lagu ini, saya awalnya menginginkan lagu yang lebih upbeat. Tapi untung saja, Paul [drummer yang juga memainkan gitar ritem] mendengar demo-nya dan langsung menyarankan agar lagunya lebih condong ke ballad,” Thomas mengenang kembali saat-saat pembuatan lagu. “Kami menyukai lagu itu, tapi ada kemungkinan tidak akan laku.”

Merilis lagu tersebut merupakan tantangan besar bagi mereka, tapi untungnya diterima baik oleh pendengar. “Unwell” memuncaki tangga lagu Billboard, menjadi lagu lima teratas pada Hot 100, dan masuk nominasi Grammy.

“Ketika lagunya memasuki tangga lagu, kebanyakan bergenre hip-hop dan R&B. Dan lagu ini berasal dari band yang memainkan banjo sebagai instrumen utama.”

Popularitas “Unwell” tak pernah meredup belasan tahun kemudian. Lagunya terkadang diputar di radio. Video klipnya—yang menampilkan Thomas dikejar makhluk aneh ala A Clockwork Orange—masih sering ditonton dan telah mengumpulkan lebih dari 69 juta tayangan di YouTube.

“Senang rasanya,” ujar Thomas, “masih mendengar lagu-lagu kami di radio atau dimainkan band lain bahkan setelah bertahun-tahun kemudian.” 

Lagunya kini di-remix oleh DJ Steve Aoki dan penyanyi-penulis lagu Kiiara, juga menampilkan Wiz Khalifa, menjadi “Used To Be”. Thomas bahkan mengisi suara dalam versi akustik lagunya.

“Kiiara memiliki perjuangannya sendiri di usia yang masih sangat muda. Saya yakin dia mengenali dirinya sendiri dalam chorus itu,” tutur Thomas, lalu menambahkan “sangat senang” bisa berduet dengannya di versi akustik.

“Menurut saya, ketika seniman, musisi atau penulis menyentuh sesuatu yang dipahami pendengar atau pembaca, ini menunjukkan kita semua memiliki banyak kesamaan,” lanjutnya.

Matchbox Twenty sudah tidak sabar untuk naik panggung lagi tahun depan.

“Perasan ini bisa menjadi hal yang normal jika tokoh publik—musisi, atlet, aktor, penulis, pemimpin rakyat—secara terang-terangan membicarakan perjuangan mereka melawan masalah mental.”

Follow Heather Chen di Twitter.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *