Lelaki Belanda Sukses Rakit Motor Berbahan Bakar Metana dari Balon Toko Mainan Seks

  • Bagikan


Lelaki mengendarai motor dengan tabung gas raksasa di belakangnya

Foto dari arsip pribadi Gijs Schalkx

Gijs Schalkx sudah tahu gimana caranya merakit motor bertenaga metana. Hanya saja, peralatan modifnya belum lengkap. Dia membutuhkan balon raksasa untuk menyimpan gas.

“Lucunya,” tutur Schalkx. “Saya beli di toko mainan seks. Balon itu bukan kondom, tapi saya tahu [balon ini] dari gambar perempuan telanjang yang tiduran di atas balon. Saya berpikir, ‘balon itu hampir 200 liter dan terlihat kuat.’”

Setelah mendapat balon, Schalkx langsung merakit motornya. Seniman sekaligus engineer itu mengumpulkan gas metana yang dibutuhkan di rawa-rawa dekat rumahnya di Belanda. Gas yang dikumpulkan selama delapan jam dapat menjalankan motor sejauh 19 km.

Sloot Motor—sloot berarti “parit” dalam bahasa Belanda—adalah motor Honda yang telah dimodif sehingga memiliki tabung gas raksasa di bagian belakang. Balon adalah komponen penting untuk menjalankan motor. “Saya menggunakan balon ini karena harus kuat,” Schalkx memberi tahu Motherboard ketika dihubungi melalui Zoom. Kebetulan saja balonnya tersedia di toko mainan dewasa, dan mirip kondom pula.

Schalkx merakit motor bahan bakar gas metana untuk tugas akhir kuliahnya di sebuah institut seni Belanda. Sebagai mahasiswa pas-pasan yang pindah jurusan dari teknik, dia memilih motor Honda tuanya karena bisa mereparasi sendiri. “Motornya lebih keren daripada model baru. Lebih murah juga,” ungkap Schalkx.

Selain itu, dia punya kecintaan sendiri terhadap sepeda motor. “Saya memiliki keinginan yang sangat besar untuk menggunakan mesin pembakaran ini,” lanjutnya. “Kalian punya kebebasan dan gerakan. Kalian tidak memerlukan apa-apa selain gas untuk menjalankannya.”

Berhubung dananya pas-pasan, dia belajar memodif motor sendiri. “Dimulai dua tahun lalu ketika saya membongkar motor dan merakitnya kembali. Saya menghabiskan banyak waktu, uang dan tenaga untuk membuat motor berumur 35 tahun ini terlihat seperti baru lagi.” 

Di tengah perjalanan, dia pindah jurusan dari teknik ke seni. Dari situlah tercetus ide untuk menciptakan motor bertenaga gas metana. “Akhirnya itu menjadi proyek kelulusan saya karena telah menghabiskan banyak waktu, riset dan usaha untuk memastikan bisa dilakukan.”

Ketika sedang memodif motor, seseorang meminjamkan buku Zen and the Art of Motorcycle Maintenance kepadanya. Buku itu tentang lelaki yang berkeliling Amerika naik motor sambil mendiskusikan filosofi pribadinya dan menjelaskan keindahan reparasi motor. Tema utama dari buku ini adalah mengubah hubungan kita dengan teknologi. Lelaki itu belajar mereparasi motor sebagai bentuk meditasi, dan melatih diri untuk lebih sadar dengan benda yang dipakai sehari-hari.

Schalkx merasa jiwanya terpanggil. “Kalian bekerja lima hari seminggu untuk membayar sewa dan memenuhi kebutuhan lain. Kalian mencoba mengalihdayakan apa yang tidak kalian ketahui, tapi kemudian kalian takut dengan teknologi yang digunakan,” renungnya. “Saya tidak bisa memperbaiki laptop sendiri. Saya hanya bisa menerima fakta benda-benda ini rusak. Hal ini bisa dengan mudah dihindari seandainya kalian menyempatkan waktu mengeceknya sendiri dan menghilangkan ketakutan akan hal yang tidak diketahui.”

Schalkx awalnya takut mengotak-atik sepeda motor milik pribadi karena belum memahami cara kerjanya. Tapi setelah berhasil membongkar dan memasangnya lagi, dia memperdalam hubungan dengan teknologi dan mampu mengatasi rasa takut. “Hubungan ini menjadi lebih intens dan intim karena, ketika saya menarik kopling, saya tahu persis bagian mana saja yang bergerak. Saya lebih memahami hubungan antara objek dan fungsinya.”

Selain menyalurkan kecintaannya pada sepeda motor, dia merakit Sloot Motor untuk menciptakan dunia yang lebih berkelanjutan. “Kalian takkan pernah bisa menemukan solusi besar untuk semua masalah, tapi setidaknya saya berusaha untuk mempertahankan mesin pembakaran,” ujar Schalkx. “Kalau pun kita beralih ke jenis bidang lain, kita semua mengendarai listrik atau apalah itu. Saya tidak ingin melepaskan teknologi ini. Teknologi yang sudah tua ini.”

Schalkx berulang kali membahas pentingnya sadar teknologi dan lebih memahaminya. Mengisi bensin mobil memang mudah, tapi jarang sekali orang memikirkan seberapa banyak energi yang tersimpan dalam satu galon dan betapa ajaibnya kita bisa menggunakannya untuk menggerakkan masyarakat.

Dia menciptakan Sloot Motor bukan karena benci perusahaan migas macam Shell. Lagi pula, motor rakitannya masih membutuhkan gas sebelum metana mengaliri kendaraan beroda dua itu. “Saya juga bergantung pada mereka,” katanya. “Saya masih membutuhkan jasa mereka untuk bertahan hidup. Saya tidak setuju dengan model bisnis mereka, tapi saya takkan mungkin bisa menyingkirkannya.”

Schalkx memang sengaja mengumpulkan metana secara publik. Dia ingin memulai percakapan tentang perubahan iklim dan cara kerja masyarakat. “Itulah tujuannya. Agar orang menyadari seperti apa gaya hidup mereka selama ini. Kita tidak bisa terus-terusan hidup seperti ini.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *