Mahasiswa ITS Ciptakan Makanan Pendamping ASI dari Buah Mangrove

Lima mahasiswa ITS membuat Makanan Pendamping ASI (MPASI) bebas gluten berbahan dasar buah mangrove yang aman untuk bayi (Foto: istimewa).

[ad_1]

Lima mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Departemen Kimia ITS berhasil menciptakan makanan pendamping ASI (MPASI) bebas gluten berbahan dasar buah mangrove yang aman untuk bayi.

MPASI yang banyak beredar di pasaran saat ini mengandung protein berupa gluten karena berbahan tepung terigu dan tidak semua bayi dapat mengonsumsi gluten.

“Gluten dapat menimbulkan gangguan jaringan saraf dan fungsi otak bagi bayi penderita autisme dan penyakit celiac,” ungkap Ketua Tim, Miftahul Jannah, Senin, 17 Mei 2021.

Miftahul bersama empat rekannya yaitu Sarazen Shalahuddin Akbar, Widya Anastasya Ningtiyas, Nova Ainur Rohma, dan Ardi Lukman Hakim mengunakan buah mangrove yang jenis lindur karena kandungan nutrisinya tinggi dan dapat diolah menjadi tepung.

“Tepung buah mangrove sejatinya telah memenuhi kriteria bahan pangan yang sehat, yaitu mengandung protein, serat, dan vitamin. Pemanfaatan buah mangrove juga upaya memaksimalkan potensi sumber daya lokal yang melimpah namun belum banyak dimanfaatkan,” jelasnya.

Selain berbasis tepung, kata Miftahul, produk MPASI yang diberi nama RooveBites ini juga ditambah kandungan asam amino dan riboflavin dari Glycine max.

“Asam amino dan riboflavin merupakan mikronutrien yang diperlukan masa pertumbuhan bayi,” kata gadis kelahiran Sukoharjo ini.

Makanan pendaming ASI dari buah mangrove
Makanan pendaming ASI dari buah mangrove “Roove Bites”. (Foto: istimewa)

RooveBites Porridge berupa bubur untuk bayi berusia di bawah 6-12 bulan dan RooveBites Toddler berbentuk biskuit untuk bayi berusia di atas 12 bulan.

Dipaparkan Miftahul, sebelum diolah menjadi bubur dan biskuit, buah mangrove terlebih dahulu diproses menjadi tepung. Pada tahap awal buah akan direbus selama 20 menit kemudian dikupas dan dipotong.

Tahapan berikutnya buah direbus lagi menggunakan abu sekam lalu dicuci. “Pada perebusan kedua buah perlu direbus lebih lama untuk menghilangkan kandungan sianida dan tanin yang berbahaya bagi kesehatan,” kata mahasiswi kelahiran Juli 2001 ini.

Hasil perebusan kedua yang telah dicuci akan direndam selama 48 jam lalu dikeringkan dan digiling menggunakan blender. Setelah digiling, buah akan berbentuk tepung yang kemudian dicampurkan dengan Glycine max.

“Tepung inilah yang kemudian diolah menjadi bubur instan dan biskuit yang pengolahannya seperti pada umumnya,” jelas alumnus SMAN 1 Sukoharjo ini.

Saat ini produk ini sudah dipasarkan lewat platform e-commerce dan mempromosikan produk di lokasi yang ditargetkan.

“Pemasaran offline mengutamakan daerah sekitar toko bayi, rumah sakit anak dan bayi, klinik anak dan bayi, tempat penitipan anak dan bayi, serta komunitas pengidap autisme,” terangnya.

Inovasi ini berhasil meraih medali silver dalam kompetisi Business Plan yang diadakan Edutainer Nusantara Fair (ENF) 2021.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.