Mahasiswa Perlu Menyadari Bahwa Wikipedia Sumber Terpercaya untuk Riset Mereka

[ad_1]

Wikipedia bisa dipakai untuk sumber penulisan ilmiah asal mahasiwa tahu cara validasi rujukan

Foto ilustrasi Wikipedia oleh Lorenzo Di Cola/NurPhoto via Getty Images

Pada awal setiap tahun akademik, kami sering menanyakan para mahasiswa baru suatu pertanyaan: siapa saja di antara kalian pernah diberitahu guru di sekolah agar tidak memakai Wikipedia? Kemungkinan besar, banyak di antara mereka yang akan mengangkat tangan.

Padahal, ensiklopedia daring ini mengandung informasi yang instan, gratis, dan dapat diandalkan. Jadi kenapa banyak guru masih sangsi terhadap Wikipedia?

Wikipedia memiliki beragam kebijakan yang ditegakkan oleh komunitasnya terkait netralitas, reliabilitas, dan signifikansi. Ini berarti seluruh informasi “harus disajikan secara akurat dan tanpa bias”; sumbernya harus berasal dari pihak ketiga; dan suatu artikel Wikipedia harus punya signifikansi serta hanya dibuat jika sebelumnya telah ada “liputan pihak ketiga terkait topik ini dalam publikasi atau sumber yang terpercaya”.

Wikipedia juga bersifat gratis, nirlaba, dan telah beroperasi selama lebih dari dua dekade, membuatnya jadi suatu kisah sukses di internet.

Pada suatu era yang semakin susah untuk membedakan antara kebenaran dan informasi palsu, Wikipedia hadir sebagai alat yang aksesibel untuk mendukung proses cek fakta dan melawan misinformasi.

Banyak guru mengatakan bahwa siapa pun dapat mengedit suatu halaman Wikipedia, tidak hanya ahli di bidang tersebut saja. Tapi ini tidak membuat informasi di Wikipedia menjadi meragukan. Hampir mustahil, misalnya, bagi teori konspirasi untuk bertahan lama di Wikipedia.

Untuk artikel yang populer, komunitas daring Wikipedia yang berisi relawan, administrator, dan bot memastikan bahwa pengeditan yang dilakukan berbasis sitasi dari sumber yang dapat diandalkan. Artikel yang populer biasanya diulas dan diperiksa hingga ribuan kali.

Beberapa pakar media, seperti Amy Bruckman, seorang profesor di Georgia Institute of Technology, Amerika Serikat (AS), bahkan mengatakan bahwa suatu artikel Wikipedia yang melewati proses yang sangat ketat ini bisa jadi adalah sumber informasi paling terpercaya yang pernah ada.

Artikel akademik di jurnal – sumber bukti ilmiah yang paling umum – biasanya hanya melalui peer-review (telaah sejawat) dari maksimal tiga orang lalu tidak pernah diedit lagi.

Artikel di Wikipedia yang tidak melewati pengeditan yang terlalu banyak bisa jadi tidak se-kredibel artikel yang populer. Tapi, sangat mudah bagi kita untuk mengecek bagaimana suatu artikel di Wikipedia dibuat dan dimodifikasi.

Seluruh modifikasi dari suatu artikel terarsip dan dapat diakses di halaman history” (riwayat). Perseteruan antara para editor terkait konten artikel tersebut juga tersimpan dalam halaman talk” (pembicaraan).

Untuk menggunakan Wikipedia secara efektif, siswa perlu diajari bagaimana caranya menemukan dan menganalisis segmen-segmen tersebut dalam suatu artikel, sehingga mereka bisa dengan mudah mengevaluasi kredibilitas dari artikel tersebut.

Apakah informasi di Wikipedia terlalu sederhana?

Banyak guru juga mengatakan bahwa informasi di Wikipedia terlalu sederhana dan mendasar, terutama untuk level mahasiswa.

Argumen ini berasumsi bahwa seluruh proses cek-fakta harus melibatkan riset mendalam – tapi ini bukanlah cara terbaik untuk melakukan investigasi awal secara daring terkait suatu topik. Riset yang mendalam sebaiknya dilakukan nanti, ketika kita sudah memastikan validitas dari sumber tersebut. Meski demikian, beberapa guru cukup khawatir jika siswa perlu diajarkan caranya mengevaluasi informasi secara kilat, yang bisa berarti secara dangkal.

Jika kita melihat kompetensi umum di Kurikulum Australia, ada poin “berpikir secara kritis dan kreatif” yang mendorong kemampuan analisis secara luas dan mendalam. Tenaga pendidik yang menggabungkan antara literasi “kritis” dan “media” cenderung percaya bahwa analisis materi di internet harusnya dilakukan secara pelan dan teliti.

Tapi, realitanya kita saat ini hidup di suatu “ekonomi perhatian” (attention economy) yakni saat semua orang dan semua hal di internet berlomba-lomba mendapatkan atensi kita. Waktu kita sangatlah berharga, sehingga terjebak mendalami suatu konten daring yang kredibilitasnya meragukan, dan kemungkinan jatuh ke lubang misinformasi, menyia-nyiakan suatu komoditas yang mahal harganya – yakni perhatian dan tenaga kita.

Wikipedia bisa mendukung literasi media yang lebih baik

Riset menunjukkan bahwa anak-anak di Australia tidak mendapat pengajaran yang cukup dalam mengidentifikasi berita bohong.

Hanya satu dari lima anak muda Australia pada 2020 melaporkan terlibat satu tahun terakhir dalam suatu kelas yang membantu mereka menentukan apakah suatu berita atau artikel dapat dipercaya. Para pelajar jelas membutuhkan lebih banyak pendidikan literasi media, dan Wikipedia bisa jadi instrumen pembelajaran yang bagus.

Satu cara adalah menggunakannya untuk “lateral reading” (membaca dan mencari informasi secara paralel). Artinya, saat menghadapi klaim yang meragukan di internet, siswa bisa segera membuka tab browser baru dan membaca lebih lanjut terkait topik tersebut dari sumber yang terpercaya.

Wikipedia adalah sumber daya yang tepat di ruang kelas untuk tujuan ini, bahkan untuk anak usia sekolah dasar (SD). Saat menemui informasi yang asing, siswa bisa diajak untuk mengakses halaman Wikipedia yang relevan untuk melakukan cek-fakta. Jika informasi asing tersebut tidak bisa diverifikasi, siswa bisa membuangnya. Bagi yang sudah lebih lihai dalam melakukan verifikasi informasi, bisa juga langsung merujuk ke ke sumber-sumber kredibel di bagian bawah tiap artikel Wikipedia.

Pada masa depan, kami berharap para mahasiswa baru masuk ke ruang kuliah kami dalam keadaan sudah memahami nilai dan manfaat dari Wikipedia. Jika terjadi, ini berarti bahwa suatu pergeseran budaya yang luas telah berhasil terjadi di tingkat sekolah dasar dan menengah.

Pada era krisis iklim dan pandemi, semua orang harus bisa membedakan antara fakta dan fiksi. Wikipedia bisa jadi bagian dari solusi.


Rachel Cunneen adalah Dosen Pendidikan Literasi di University of Canberra;
Mathieu O’Neil adalah Associate Professor bidang komunikasi dan riset media di University of Canberra

Artikel ini pertama kali tayang di The Conversation Indonesia dengan lisensi Creative Commons. Baca artikel aslinya di sini.

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.