Makin Banyak Barang yang Kita Gunakan Sehari-Hari Ternyata Merusak Bumi

  • Bagikan



Artikel ini merupakan bagian dari VICE Creators Summit, program diskusi panel dan workshop gratis tentang dampak krisis iklim terhadap kehidupan kita sehari-hari. Program ini mengajak kita untuk menciptakan masa depan planet yang lebih layak huni. Pelajari lebih lanjut di sini.


Hidup manusia tak bisa lepas dari barang. Kita membutuhkan berbagai jenis barang untuk menjalani hari dengan lebih mudah. Namun, kita sering mengabaikan fakta banyak yang telah dikorbankan dalam menghasilkan barang-barang tersebut. Kita membutuhkan setara dengan 1,6 Bumi untuk memiliki sumber daya yang bisa memenuhi konsumsi kita pada tingkat saat ini. Laporan Circularity Gap terbaru mengungkapkan, apabila terus berlanjut, model ekonomi linier ini dapat meningkatkan suhu global sekitar 3-6 derajat Celsius.

“Sebagian besar bisnis menyadari perlunya menghormati hak asasi manusia dan lingkungan dalam operasi mereka,” terang Sean Lees, spesialis bisnis dan HAM di Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui email. “Namun, ada industri dan tempat tertentu yang kurang memprioritaskan hak pekerja, dan telah memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Hal ini biasanya terjadi di tempat-tempat yang ketaatan hukumnya lemah, dan penegakan hukum tidak konsisten.”

Dari makanan sampai tempat tidur, semua komoditas penting melalui perjalanan yang sangat panjang hingga sampai ke tangan kita. Proses produksi dan pengiriman setiap barang memiliki dampak lingkungan dan sosialnya masing-masing. Berikut hanyalah beberapa contohnya.

Dinding Beton

Tembok yang memberikan kita perlindungan dapat menghancurkan kehidupan orang lain. Beton terbuat dari bahan-bahan seperti batu kapur dan pasir, yang sebagian besar ditemukan di wilayah sungai. Selain menjadi habitat berbagai jenis spesies, sungai juga sangat penting bagi orang-orang yang mata pencahariannya bergantung pada perikanan air tawar dan pertanian. Sejak 2005, setidaknya 24 pulau kecil di Indonesia lenyap akibat penambangan pasir ilegal—yang sering kali menimbulkan konflik antara warga dan “mafia pasir”. Sebagian besar digunakan untuk proyek reklamasi di tempat-tempat seperti Singapura.

Bahan peledak dan ekskavator digunakan secara gila-gilaan untuk mengekstrak bahan-bahan ini. Akibatnya, sungai dan lahan tak mampu memulihkan diri. Batu kapur dan pasir akan dihancurkan dengan cara karbonasi yang menggunakan energi, bahan bakar dan air secara intensif. Bahan-bahan ini lalu dijadikan semen dengan aditif dan bahan bakar pada suhu yang terkendali. Proses ini menghasilkan emisi yang cukup besar dan dapat menyebabkan polusi udara.

Selama pembangunan, semen yang masih basah dapat melepaskan zat beracun ke dalam tanah dan air. Permukaan yang tertutup semen akan mengeras dan kedap air begitu kering, sehingga sering menyebabkan panas—daerah perkotaan jauh lebih panas daripada pedesaan di sekitarnya—dan banjir di wilayah perkotaan.

Seiring berkembangnya pembangunan kota, habitat alami lama-lama berubah menjadi hutan beton, yang akan semakin mengurangi populasi satwa liar di tengah krisis keanekaragaman hayati yang didorong oleh perubahan iklim. Ekosistem yang rusak akan mengganggu fungsi alam yang menjadi alasan kita bisa bertahan hidup, mulai dari mengatur iklim dan mempertahankan siklus air, hingga menyediakan sumber makanan dan tempat tinggal.

Apa yang bisa kita lakukan?

Banyak alternatif yang mulai dikembangkan dan diuji untuk menggantikan beton. Jalan aspal dari plastik daur ulang dan rumah berbahan “hempcrete” yang terbuat dari rami hanyalah beberapa contohnya. Berbagai inovasi ini diharapkan dapat membangun kota dengan cara yang lebih berkelanjutan.

Kaus

Air tawar adalah sumber daya yang sangat berharga. Manusia membutuhkannya untuk bertahan hidup, menanam bahan makanan hingga membuat mobil. Namun, kita mengurasnya dalam jumlah besar untuk memproduksi kaus.

Memproduksi satu kilogram kapas memerlukan sekitar 10.000 liter air. Laut Aral dulunya merupakan perairan pedalaman terbesar keempat di dunia, tapi sekarang luasnya tersisa sekitar 15 persen saja akibat pengelolaan yang salah dan irigasi pertanian kapas. Alhasil, penduduk Karakalpakstan di Uzbekistan kesulitan mengairi lahan pertanian dan mencari ikan.

Kapas akan diolah menjadi benang dengan cara dicampur, digaruk, disisir, ditarik dan direntangkan. World Resources Institute menunjukkan, proses pewarnaan bahan tekstil membutuhkan lima triliun liter air per tahun. Tak hanya itu saja, berbagai bahan kimia yang digunakan dalam budidaya kapas dan perawatan kain menyumbang seperlima dari polusi air global.

Apa yang bisa kita lakukan?

Mengurangi produksi keseluruhan dan berhenti mengonsumsi produk fast fashion menjadi cara paling efektif mengurangi dampak lingkungan dari industri pakaian. Kalian bisa belanja secukupnya, membeli dari label yang transparan terkait proses produksinya, atau lebih sering nge-thrift.

Ponsel

Ponsel pintar telah menjadi bagian penting dalam kehidupan modern, dan pembuatannya melibatkan komponen yang kompleks dan tenaga kerja dari seluruh dunia.

Banyak komponen ponsel berasal dari Afrika bagian selatan, tempat yang logam tanah jarangnya sangat berlimpah. Di sana, anak-anak dan orang dewasa dipaksa bekerja hingga 12 jam sehari di lingkungan yang tidak aman dengan tingkat toksisitas tinggi. Namun, menurut laporan Amnesty International, upah yang mereka terima—berkisar 1-2 Dolar (Rp14-28 ribu)—tidak sebanding dengan kerja keras dan risiko yang mereka hadapi.

Pelanggaran HAM serupa juga terjadi di perusahaan manufaktur, terutama di pabrik-pabrik Tiongkok yang dituduh memiliki jam kerja panjang, memberikan upah rendah dan penuh diskriminasi.

Apa yang bisa kita lakukan?

Daur ulang limbah elektronik yang tepat, seperti tukar tambah atau membuat tempat daur ulang lebih mudah diakses, dapat memperpanjang umur perangkat serta mengurangi siklus produksi dan pembuangan yang kejam. Yang terpenting, selama ponsel kalian masih berfungsi dengan baik dan tidak bermasalah, kalian tidak perlu menggantinya dengan versi terbaru.

Daging Sapi

Gas metana dari kentut sapi bukan satu-satunya dampak negatif yang dihasilkan industri pengolahan daging terhadap lingkungan. Dampak terbesar sudah muncul dari awal sapi diternak.

Sapi butuh makan untuk menghasilkan daging yang berkualitas. Untuk mewujudkan itu, hutan ditebang dan diubah menjadi lahan jagung dan kedelai, yang merupakan bahan utama pakan ternak. Permintaan daging telah meningkat di banyak negara berkembang, memicu terjadinya perubahan fungsi lahan dan menyebabkan kerusakan habitat alami. Menurut database hutan hujan Mongabay, saat ini padang sabana Cerrado di Brasil—yang memiliki setengah dari tanaman unik di daerah itu—hanya tersisa 21 persen saja.

Aktivitas bercocok tanam menyumbang penggunaan air terbesar dalam produksi daging sapi, sementara penggunaan bahan kimia dalam pertanian menghasilkan limpasan yang dapat menyebabkan “zona mati” di sumber air dan habitat alami. Penelitian yang diterbitkan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America menunjukkan, pengolahan daging sapi membutuhkan lahan 28 kali lebih banyak dan air irigasi 11 kali lebih banyak. Industri ini juga menghasilkan emisi gas rumah kaca lima kali lipat lebih besar, dan nitrogen reaktif (dari pupuk) enam kali lipat lebih besar dari produksi susu dan telur serta pengolahan daging unggas dan babi.

Sapi yang sudah besar dibiarkan berkeliaran untuk memakan rumput, yang dapat menurunkan lapisan tanah atas. “Peternakan pabrik” kerap menyalahgunakan antibiotik dan hormon percepat pertumbuhan, yang kemudian dilepaskan melalui air limbah. Air yang terkontaminasi dapat memengaruhi kesehatan manusia.

Apa yang bisa kita lakukan?

Mengurangi konsumsi daging sapi diyakini bisa sangat mengurangi jejak karbon. Namun, dengan mempertimbangkan berbagai dampak lingkungan dari makanan nabati, kita lebih baik fokus pada kebiasaan makan secara lokal dan musiman.

Tisu

Penebangan hutan terjadi di mana saja kita berada, dari hutan beriklim sedang Amerika hingga hutan hujan Asia. Sebagian besar pohon ditebang untuk menjadi tisu. Bukan sembarang pohon yang ditebang: hutan industri sering menggantikan hutan primer, yang jauh lebih mampu menyerap karbon dan mengatur iklim. Setiap menit, hutan boreal Kanada kehilangan seukuran kota kecil akibat penebangan. Padahal, ini merupakan hutan utuh terbesar yang tersisa di dunia dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Lebih dari 600 komunitas Pribumi tinggal di pedalaman hutan.

Batang pohon lalu dikirim ke pabrik untuk dikupas kulit kayunya, dipotong-potong, direbus dengan bahan kimia, dicairkan, disaring, dibersihkan, dihaluskan, dibentuk, dikeringkan dan ditekan hingga menjadi tisu. Semua proses ini membutuhkan listrik, air dan bahan kimia yang sangat besar, yang dapat merusak lingkungan di sekitarnya. Tisu kemudian digunakan dan dibuang sembarangan hingga menyumbat saluran pembuangan. 

Apa yang bisa kita lakukan?

Cara paling simpel yaitu mengurangi penggunaan tisu. Tapi jika ini tidak memungkinkan, kalian bisa memperhatikan merek mana saja yang dapat memverifikasi sumber dan produksinya berkelanjutan.

Para ahli menjelaskan, masalah lingkungan takkan selesai hanya dengan memboikot produk. Kita harus bersama-sama menuntut praktik dan perubahan kebijakan yang lebih berkelanjutan dan terbarukan.

“Pelanggaran hak buruh, pekerja migran dan hak atas lahan menjadi masalah yang paling sering dikutip di sejumlah rantai pasokan,” ujar Lees. “Tapi pengawasan dan pemantauan bisnis sudah lebih baik sekarang, mengingat degradasi lingkungan dan perubahan iklim telah menjadi prioritas.”

Dengan munculnya undang-undang progresif di berbagai negara, semakin banyak perusahaan yang dituntut buka-bukaan tentang risiko sosial dan lingkungan dari kegiatan bisnisnya. Perusahaan wajib melakukan uji tuntas untuk menilai operasi mereka.

“Sekarang ada kesediaan dan investasi yang tersebar luas untuk meningkatkan rantai pasokan. Yang kita butuhkan sekarang adalah adopsi massal dari perubahan sistemik ini,” ujar Amorpol Huvanandana yang memiliki startup fesyen berkelanjutan.

Meskipun kesadaran konsumen sulit diperkirakan, survei menunjukkan sudah banyak yang sadar akan dampak konsumsi berlebihan, terutama di kalangan anak muda. Sementara keputusan konsumen dipengaruhi oleh apa yang tersedia di pasar, preferensi juga membentuk barang yang diproduksi.

“Konsumen juga bisa menjadi aktivis,” tutur Huvanandana. “Dengan adanya teknologi, siapa saja bisa menjadi pengusaha dan menciptakan rantai pasokan baru yang berkelanjutan tanpa ketergantungan pada perusahaan besar.”

Follow Nanticha Ocharoenchai di Instagram.



  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *