Manusia Dinilai Harus Produktif, Pengusaha Kripto Dukung Ide “Rahim Sintetis”

[ad_1]

Para Pengusaha Kripto Mengusulkan Ide Teknologi

Salah satu pendiri platform mata uang kripto Ethereum, Vitalik Buterin, saat menjadi pembicara seminar di Eropa. Foto via Getty Images

Didera kegalauan berat, Elon Musk menumpahkan keluh kesahnya di Twitter. Dia khawatir populasi manusia di Bumi akan punah suatu saat nanti, dan menurutnya “proyeksi PBB tidak masuk akal sama sekali.” Tidak jelas proyeksi apa yang dia maksud.

Rupanya, CEO perusahaan roket dan mobil listrik itu sedih kalau sampai ambisinya menduduki Mars gagal terwujud, gara-gara semakin banyak orang tidak mau punya anak. Dia yakin populasi manusia harus mencapai jumlah tertentu untuk bisa mengkoloni Planet Mars, cita-cita Elon sejak lama.

Kicauan Elon Musk sontak ditanggapi ribuan orang. Pendukung setia tentu mendewa-dewakan apa pun yang keluar dari Elon, sedangkan netizen yang lain menghujatnya habis-habisan. Akan tetapi, ada satu komentar yang paling menarik perhatian. Sahil Lavingia, pendiri dan CEO marketplace digital Gumroad, mengusulkan upaya penelitian “synthetic womb” alias rahim sintetis, dengan harapan manusia bisa menghasilkan lebih banyak anak dalam waktu singkat, dengan ongkos lebih “murah” dibanding melahirkan normal.

Kita para rakyat jelata cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. “‘Tech ppl’ lebih suka ngomongin ‘rahim sintetis’ daripada biaya penitipan anak yang mahal dan cuti hamil yang tidak layak,” sindir pengguna Twitter @bennpeifert.

Pengguna lain menanggapi, “‘Rahim sintetis’ ide sampah macam apa itu! Bukankah lebih baik kita mengatasi masalah ekonomi yang mendasari rendahnya angka kelahiran?”

Namun, sesama pengusaha kaya menganggap idenya brilian. Co-founder Ethereum, Vitalik Buterin, mengklaim rahim sintetis dapat mengurangi ketidaksetaraan. Dia menyertakan artikel Vox yang menguraikan turunnya pendapatan perempuan setelah melahirkan anak.

Mantan CTO Coinbase dan pemodal ventura Balaji Srinivasan, tampaknya turut mendukung gagasan ini dengan merujuk kesuksesan program bayi tabung. Mantan co-editor TechCrunch Alexia Bonatsos pun sepemikiran.

Lalu ada pendiri “intellectual dark web” Claire Lehmann yang membela rahim sintetis dengan dalih menguntungkan perempuan. Menurutnya, sejumlah feminis terkemuka di masa lalu telah mengusulkan konsep rahim buatan sejak dulu kala.

Menariknya, sebagian besar perempuan mengutuk ide gila ini. “Laki-laki lebih suka mengembangkan rahim robot daripada memperjuangkan kebijakan cuti berbayar,” tandas penulis Lyz Lenz.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.