Matador dan Pelesir Seorang Influencer, Dahsyat Lucunya

Matador kalah, dalam ilustrasi. (Fa-vidi/Ngopibareng.id)

[ad_1]

Di masa pandemi Covid-19, bersamaan dengan merajalelanya kaum buzzer dan influenzer terus beraksi, sehingga justru tidak menjernihkan suasana. Tapi, kedua jenis makhluk inilah yang justru menikmati kekayaan lebih.

Bisa dibayangkan, di masa ketika pemberlakuan pembatasan sosial — PPKM Darurat — menjadi keuntungan tersendiri bagi seorang influencer untuk menikmati kekayaan. Sementara warga masyarakat umumnya harus berdiam diri di rumah. Yang jualan tak bisa mendapat upah keuntungan, dst..dst…

Inilah kisah seorang influencer kaya, lebih kaya ketimbang ketika ia menjadi seorang penyiar radio di Surabaya. Sebut saja Dossy Ambyaro, di masa krisis ekonomi bagi rakyat kecil, justru bisa pelesiran ke luar negeri.

Dossy Ambyaro lagi liburan di Spanyol. Ketika sedang menunggu pesanan makanannya di sebuah restoran, dia mencium harum makanan dari meja di depannya. Seseorang sedang menyantap dengan lezatnya makanan yang dihidangkan. Karena penasaran, Dossy pun bertanya ke pelayan:

Dossy Ambyaro : Pelayan, makanan apa yang ada di meja depan itu? Harum sekali….

Pelayan: Waah bapak memang punya selera tinggi. Itu makanan terlezat yang ada di restoran ini.

Dossy : Apa itu?

Pelayan: Gule buah zakar banteng yang mati dalam pertarungan dengan matador.

Dossy: Kalau begitu saya pesan itu juga.

Pelayan: Maaf, pak, masakan gule buah zakar banteng hanya ada 1 kali dalam sehari, karena pertandingan banteng dan matador hanya 1x dalam sehari. Jadi bapak harus pesan besok, lebih cepat lebih baik, pagi-pagi sekali bapak ke sini karena banyak sekali yang pesan.

Keesokan harinya Dossy datang kembali ke restoran itu pagi-pagi sekali biar tidak keduluan pengunjung lain. Akhirnya pesanannya pun datang. Tanpa menunggu lagi, Dossy langsung menyantapnya dengan lahap. Memang sungguh lezat makanan ini, gumamnya. Tapi ada sedikit rasa penasaran dalam hatinya. Akhirnya dia bertanya ke pelayan.

Dossy: Pelayan, makanan ini memang sungguh lezat tak ada bandingannya. Tapi kok buah zakar yang saya makan ini tidak sebesar yang dimakan oleh orang kemarin di depan meja saya itu?

Pelayan: Tuan, tidak selamanya pertarungan banteng lawan matador itu bantengnya yang mati. Kebetulan hari ini matadornya yang mati.

Dossy: Whaaaaaaat?!

*)

Memahami Buzzer dan Influenzer

Buzzer adalah orang yang memiliki pengaruh tertentu untuk menyatakan suatu kepentingan. Buzzer dapat bergerak dengan sendirinya untuk menyuarakan sesuatu, atau bisa jadi ada sebuah agenda yang disetting. Dalam menyuarakan suatu kepentingan ini dapat dilakukan secara langsung dengan identitas pribadi atau secara anonim.

“Buzzer”. Dilihat dari akar katanya, yakni ‘buzz’ dalam bahasa Inggris berarti ‘dengung’. Jadi, ‘buzzer’ bisa dialihbahasakan sebagai ‘pendengung’ di media sosial (medsos).

Adapun influencer berasal dari kata ‘influence’ yang artinya ‘pengaruh’. Dalam bahasa Indonesia, influencer disebut juga sebagai pemengaruh. Lalu apa beda buzzer dan influencer?

Buzzer cenderung mengamplifikasi isu yang sudah ada. Dia tidak membuat isu sendiri. Akun-akun medsos buzzer bisa saja cuma sembarang nama, dengan foto profil perempuan, laki-laki, atau tokoh anime. Memang, pihak yang merekrut para buzzer tidak menggubris siapa identitas asli buzzer-buzzer ini. Yang paling penting bagi perekrut, misinya tersebar dan viral di Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, atau platform lainnya.

Buzzer bukanlah sosok terkenal, tapi influencer adalah sosok terkenal yang punya pengaruh.

Influencer adalah figur yang dikenal di bidangnya masing-masing. Misalnya di seni influencer itu adalah artis, atau di bidang politik si influencer ini adalah politikus tenar.

Influencer punya banyak pengikut (follower). Apa yang disampaikannya di akun medsos bisa memengaruhi followernya. Pihak yang punya misi menggulirkan isunya via medsos bakal merekrut si influencer lantaran si influencer punya pengaruh yang besar.

Berbeda dengan buzzer, influencer sudah punya pengaruh yang besar sebelum dia diberi pekerjaan oleh pemberi pesan. Pada dasarnya, influencer adalah sosok yang independen. Hidup-matinya influencer tidak tergantung isu yang ditawarkan si pemegang proyek, karena sebelum dapat proyek-pun si influencer sudah terkenal duluan. Bayaran seorang influencer jauh lebih tinggi ketimbang satu orang buzzer.

*) Lelucon berkembang di media sosial, sebagai olok-olok atas ketimpangan di tengah masyarakat.



[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.